Danantara Pertajam Peran Himbara, Bank Negara Masuk Fase Restrukturisasi Berbasis Teknologi

- 18 Januari 2026 - 09:56

Danantara mulai mengarahkan ulang bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dengan strategi penajaman fokus bisnis, penguatan tata kelola, dan pemanfaatan teknologi dalam pengambilan keputusan kredit. Langkah ini menandai fase baru restrukturisasi perbankan BUMN yang tidak lagi semata soal skala aset, melainkan kualitas pembiayaan, transparansi, dan disiplin risiko di tengah tekanan ekonomi global.


Fokus:

■ Penajaman peran Himbara untuk menghindari tumpang tindih bisnis dan meningkatkan efektivitas pembiayaan sektor riil.
■ Teknologi sebagai alat tata kelola, bukan sekadar efisiensi, dalam pengambilan keputusan kredit.
■ Kolaborasi dan integritas sebagai fondasi baru restrukturisasi perbankan BUMN.


Restrukturisasi bank-bank milik negara kembali menjadi sorotan. Kali ini, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tidak sekadar berbicara efisiensi, melainkan membidik jantung persoalan perbankan nasional: fokus bisnis yang kabur, tata kelola yang longgar, dan pemanfaatan teknologi yang belum sepenuhnya menjawab tantangan pembiayaan sektor riil.


Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyiapkan langkah restrukturisasi terhadap bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dengan menajamkan fokus bisnis masing-masing bank, memperkuat tata kelola perusahaan, serta meningkatkan pemanfaatan teknologi dalam proses pengambilan keputusan dan penyaluran pembiayaan.

Menteri Investasi dan Hilirisasi RI sekaligus CEO BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan bahwa restrukturisasi ini bukan sekadar penataan administratif, melainkan bagian dari transformasi menyeluruh BUMN besar, termasuk sektor perbankan yang selama ini menjadi tulang punggung pembiayaan ekonomi nasional.

“Untuk Himbara, tentunya dengan teknologi kita akan mencapai supaya lebih cepat, lebih baik, lebih transparan dalam pengambilan keputusannya, dalam hal-hal memberikan pinjaman kepada para nasabahnya,” ujar Rosan dalam paparannya di Jakarta pekan ini.

Fokus Bisnis Tak Lagi Bisa Samar

Menurut Rosan, penajaman peran menjadi kunci agar bank-bank Himbara tidak saling tumpang tindih dan kehilangan diferensiasi. Setiap bank harus kembali pada mandat dasarnya, dengan teknologi sebagai enabler utama.

“Misalnya, seperti BRI, kita tahu itu kan fokus lebih ke UMKM, ritel. Nah, itu kita memperkuat di situ,” kata Rosan.

Langkah ini sejalan dengan evaluasi internal pemerintah terhadap efektivitas pembiayaan bank BUMN. Meski menguasai lebih dari 45% aset perbankan nasional, kontribusi Himbara terhadap pendalaman pembiayaan sektor produktif dinilai masih belum optimal, terutama untuk UMKM, manufaktur, dan rantai pasok industri strategis.
Data OJK menunjukkan, hingga akhir 2025, rasio kredit UMKM nasional masih berkisar 20%–21% dari total kredit perbankan, jauh dari target jangka menengah pemerintah.

Kolaborasi Jadi Keharusan, Bukan Pilihan

Selain diferensiasi peran, Danantara juga menekankan pentingnya kolaborasi antarbank Himbara dan sinergi dengan sektor swasta. Dengan seluruh bank berada dalam satu kerangka pengawasan dan strategi, fragmentasi pembiayaan dinilai tidak lagi relevan.

“Kita lihat karena semua sekarang di bawah Himbara, bahwa mereka ya harus berkolaborasi, harus bersinergi. Berkolaborasi tidak hanya dengan sektor BUMN, tapi yang paling penting justru dengan sektor swasta dan sektor lainnya,” ujar Rosan.

Bagi perbankan, pesan ini berarti perubahan pendekatan: dari kompetisi internal menuju pembiayaan berbasis ekosistem, termasuk supply chain financing, pembiayaan proyek bersama, hingga integrasi data risiko lintas bank.

Teknologi sebagai Alat Disiplin Risiko

Restrukturisasi ini juga menempatkan teknologi bukan sekadar alat efisiensi, melainkan instrumen tata kelola. Penggunaan analitik data, sistem penilaian risiko berbasis AI, dan pelaporan real time diproyeksikan menjadi standar baru dalam proses kredit Himbara.

Pendekatan ini sejalan dengan rekomendasi berbagai riset global. Bank for International Settlements (BIS) mencatat, pemanfaatan teknologi analitik mampu menekan rasio kredit bermasalah hingga 15%–20% pada bank yang mengelola portofolio kredit besar dan kompleks, asalkan dibarengi tata kelola yang ketat.
Namun, Rosan mengingatkan bahwa teknologi tanpa integritas hanya akan mempercepat kesalahan.

“Kami menekankan sekali bagaimana tata kelola perusahaan yang baik yang benar, corporate governance, kemudian transparansi, akuntabilitas, dan integritas. Itu menjadi pedoman kita yang kita ingin terapkan ke bawah secara penuh,” ujarnya.

Ujian Bagi Stabilitas Sistem Keuangan

Restrukturisasi Himbara ini juga membawa implikasi sistemik. Dengan dominasi aset yang besar, setiap perubahan strategi bank negara akan berdampak langsung pada stabilitas keuangan nasional.

Para analis menilai, penajaman fokus bisnis akan memperkecil risiko moral hazard yang selama ini melekat pada bank BUMN, terutama dalam pembiayaan proyek-proyek berorientasi kebijakan. Namun di sisi lain, kegagalan menjaga disiplin risiko justru dapat memperbesar risiko sistemik jika kredit bermasalah terkonsentrasi.

Dalam konteks inilah, peran regulator—OJK dan Bank Indonesia—menjadi krusial untuk memastikan restrukturisasi berjalan selaras dengan prinsip kehati-hatian, bukan semata dorongan pertumbuhan.

Meta Deskripsi
Danantara mulai menata ulang peran bank-bank Himbara dengan fokus bisnis yang lebih tajam, tata kelola ketat, dan pemanfaatan teknologi. Apa dampaknya bagi perbankan dan stabilitas keuangan?

Digionary:

● Danantara: Badan Pengelola Investasi milik negara yang mengelola transformasi dan restrukturisasi BUMN strategis.
● Himbara: Himpunan Bank Milik Negara yang terdiri dari bank-bank BUMN besar.
● Corporate governance: Sistem pengelolaan perusahaan yang menekankan transparansi, akuntabilitas, dan integritas.
● Diferensiasi bisnis: Penajaman peran dan fokus usaha agar tidak saling tumpang tindih.
● Risiko sistemik: Risiko kegagalan satu institusi yang dapat berdampak luas pada sistem keuangan.

#Danantara #Himbara #PerbankanBUMN #RestrukturisasiBank #TataKelola #StabilitasKeuangan #TransformasiBUMN #TeknologiPerbankan #UMKM #KreditProduktif #OJK #BankIndonesia #GoodGovernance #KeuanganNasional #EkonomiIndonesia #SektorRiil #DigitalBanking #ManajemenRisiko #Pembiayaan #IndustriKeuangan

Comments are closed.