HSBC memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan Indonesia pada 2026 berpotensi menguat sekitar 1%–1,5% dibandingkan 2025, didorong membaiknya permintaan pembiayaan korporasi kecil dan normalisasi inflasi. Meski kredit konsumsi rumah tangga masih tertahan, ekspansi investasi dan kenaikan PDB nominal diperkirakan menjadi penopang utama kinerja kredit tahun depan.
Fokus Utama:
■ HSBC memproyeksikan pertumbuhan kredit 2026 naik 1%–1,5%, didorong perbaikan PDB nominal dan normalisasi inflasi.
■ Permintaan kredit investasi dari perusahaan kecil menjadi motor utama, sementara kredit konsumsi masih tertahan.
■ Meski kredit korporasi tumbuh dua digit, segmen UMKM masih menghadapi kontraksi dan tantangan pemulihan.
Setelah melewati periode pengetatan dan kehati-hatian sepanjang dua tahun terakhir, denyut kredit perbankan Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Namun, kebangkitan itu belum merata. Bank global HSBC melihat 2026 sebagai tahun pemulihan yang “terukur”—bukan ledakan kredit, melainkan penguatan bertahap yang ditopang investasi dan korporasi kecil, sementara konsumsi rumah tangga masih berjalan tertatih.
PT Bank HSBC Indonesia memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan nasional pada 2026 berpotensi meningkat sekitar 1%–1,5% dibandingkan tahun sebelumnya, seiring membaiknya sejumlah faktor fundamental yang mendorong permintaan pembiayaan.
Managing Director sekaligus Chief India Economist and Macro Strategist HSBC, yang juga menjabat ASEAN Economist, Pranjul Bhandari, menilai permintaan kredit secara umum memang belum kembali ke level sebelum perlambatan ekonomi global. Namun, tren sepanjang 2025 menunjukkan perbaikan yang konsisten setelah sempat melemah di awal tahun.
“Meski dimulai dengan pelemahan di awal tahun 2025, namun beberapa permintaan kredit mulai meningkat, terutama dari perusahaan kecil. Pada segmen itu, kenaikan permintaan kredit banyak didorong kebutuhan investasi,” jelas Pranjul dalam forum HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook 2026, Senin (12/1).
Di sisi lain, pemulihan kredit rumah tangga masih berjalan lambat. Pertumbuhan upah yang belum agresif serta permintaan terhadap barang konsumsi tahan lama yang belum sepenuhnya pulih menjadi faktor penahan. Penjualan mobil yang masih lemah turut menekan pertumbuhan kredit konsumsi, sebuah pola yang juga tercermin di sejumlah negara berkembang lain.
Meski demikian, kredit korporasi tetap menjadi jangkar pertumbuhan. Khususnya, perusahaan kecil dan menengah menunjukkan aktivitas pembiayaan yang relatif solid, mencerminkan masih berjalannya ekspansi dan belanja modal dunia usaha.
HSBC juga menekankan keterkaitan erat antara pertumbuhan kredit dan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal—indikator yang mencerminkan kombinasi pertumbuhan ekonomi riil dan inflasi. Pada 2025, inflasi tercatat sangat rendah akibat penurunan harga komoditas global. Namun pada 2026, inflasi diperkirakan kembali ke level normal.
Normalisasi inflasi ini membuat PDB nominal Indonesia pada 2026 diproyeksikan tumbuh sekitar 1%–1,5% lebih tinggi dibandingkan 2025, menciptakan ruang yang lebih luas bagi perbankan untuk menyalurkan kredit.
“Kondisi ini dinilai berpotensi mendorong permintaan kredit, sehingga pertumbuhan kredit tahun depan dapat meningkat sekitar 1% hingga 1,5% dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Pranjul.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat gambaran tersebut. Hingga November 2025, kredit perbankan tumbuh 7,74% secara tahunan (yoy), meningkat dari 7,46% pada bulan sebelumnya, dengan total kredit mencapai sekitar Rp8.314 triliun.
Dari sisi komposisi, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 17,98% yoy, menandakan dunia usaha masih aktif melakukan ekspansi. Kredit konsumsi tumbuh 6,76% yoy, sementara kredit modal kerja naik lebih moderat sebesar 2,04% yoy.
Berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh solid sekitar 12% yoy. Namun OJK mengakui segmen UMKM masih menghadapi tantangan dan tercatat mengalami kontraksi, seiring penyesuaian aktivitas usaha dan daya serap pembiayaan yang belum sepenuhnya pulih.
Digionary:
● Inflasi: Kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu.
● Kredit Investasi: Pembiayaan jangka menengah-panjang untuk ekspansi usaha dan aset produktif.
● Kredit Konsumsi: Pinjaman untuk kebutuhan rumah tangga, seperti KPR dan kredit kendaraan.
● Kredit Modal Kerja: Pembiayaan untuk operasional harian perusahaan.
● PDB Nominal: Nilai total produksi ekonomi yang mencakup pertumbuhan riil dan inflasi.
#PertumbuhanKredit #HSBCIndonesia #EkonomiIndonesia #KreditPerbankan #PDBNominal #Inflasi #KreditInvestasi #KreditKorporasi #UMKM #OutlookEkonomi #SektorPerbankan #Investasi #KreditKonsumsi #OJK #BankGlobal #Ekonomi2026 #PasarKeuangan #StabilitasEkonomi #KebijakanMoneter #PertumbuhanEkonomi
