Tekanan daya beli dan melemahnya kelas menengah mengubah peta konsumsi otomotif nasional. Survei LPEM FEB UI menunjukkan konsumen Indonesia makin rasional, menunda pembelian mobil baru dan beralih ke mobil bekas yang dinilai lebih terjangkau, efisien, dan minim risiko depresiasi.
Fokus Utama:
■ Tekanan daya beli mendorong konsumen menunda pembelian mobil baru.
■ Mobil bekas dipilih karena harga, pajak lebih ringan, dan depresiasi rendah.
■ Penyusutan kelas menengah mengubah struktur permintaan otomotif nasional.
Mobil baru tak lagi menjadi simbol pencapaian yang mudah diraih. Di tengah harga kendaraan yang terus naik dan pendapatan yang bergerak lebih lambat, konsumen Indonesia memilih bersikap realistis. Mobil bekas kini bukan pilihan kedua, melainkan keputusan rasional untuk bertahan di tengah tekanan ekonomi.
Pasar mobil bekas di Indonesia kian menguat dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan refleksi perubahan perilaku konsumsi di tengah melemahnya daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah yang selama ini menjadi tulang punggung industri otomotif nasional.
Survei Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) terhadap 767 responden pemilik mobil bekas menunjukkan, 42% konsumen memilih mobil bekas karena faktor harga yang lebih terjangkau. Alasan lain yang mengemuka adalah pajak kendaraan yang lebih ringan (23%) serta depresiasi nilai yang relatif lebih rendah (10%).
Data tersebut menegaskan bahwa peralihan ke mobil bekas bukan semata persoalan preferensi, melainkan respons rasional terhadap jarak yang makin lebar antara harga mobil baru dan kemampuan finansial masyarakat.
Peneliti Senior LPEM FEB UI, Riyanto, menegaskan bahwa fenomena ini tak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi makro dan tekanan struktural terhadap kelas menengah. “Sebenarnya satu ya, daya beli kan. Harga mobil memang lebih tinggi daripada pendapatan masyarakat secara umum,” ujar Riyanto dalam Media Workshop di Bandung, Jawa Barat, Jumat (9/1).
Menurut Riyanto, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bertahan di kisaran 5% membuat peningkatan pendapatan per kapita tak lagi sekuat satu dekade lalu. Dampaknya paling terasa di kelompok menengah—segmen yang selama ini menjadi motor utama pembelian mobil baru. “Kelompok menengah kita turun. Di 2019 itu sekitar 57 juta, di 2024 turun 9–10 juta jadi sekitar 47 juta,” katanya.
Penyusutan kelas menengah ini berdampak langsung pada pola konsumsi jangka panjang. Siklus penggantian mobil yang sebelumnya relatif cepat—sekitar tiga hingga lima tahun—kini cenderung memanjang. Sebagian konsumen memilih menahan diri, sementara lainnya mengalihkan anggaran ke pasar mobil bekas.
“Sekarang jadi lebih lama. Ada juga kelompok yang sebenarnya bisa membeli, tapi tertunda, atau bergeser membeli mobil bekas,” ujar Riyanto.
Kondisi ini menciptakan kontras tajam di industri otomotif. Pasar mobil baru melemah, sementara mobil bekas justru tumbuh. Jika dibandingkan dengan puncak penjualan mobil baru pada 2013, volume penjualan saat ini tercatat turun sekitar 30%.
Fenomena ini sejalan dengan data industri yang menunjukkan kenaikan harga mobil baru akibat kombinasi inflasi biaya produksi, teknologi keselamatan dan emisi yang kian mahal, serta pelemahan kurs. Di sisi lain, pasar mobil bekas mendapat momentum dari digitalisasi platform jual beli kendaraan, pembiayaan yang lebih fleksibel, serta meningkatnya kepercayaan konsumen terhadap unit bekas berkualitas.
Bagi industri otomotif nasional, pergeseran ini menjadi peringatan dini. Tanpa perbaikan daya beli dan strategi harga yang lebih adaptif, pasar mobil baru berisiko terus tertekan, sementara mobil bekas akan semakin mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung konsumsi kendaraan pribadi di Indonesia.
Dampak pada Industri Multifinance
Menguatnya pasar mobil bekas bukan hanya mengubah peta industri otomotif, tetapi juga menggeser orientasi industri multifinance. Perusahaan pembiayaan yang selama bertahun-tahun bertumpu pada kredit mobil baru kini kian agresif masuk ke segmen pembiayaan kendaraan bekas, yang terbukti lebih tahan banting di tengah tekanan daya beli.
Bagi multifinance, mobil bekas menawarkan volume transaksi yang stabil di saat permintaan mobil baru melemah. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan porsi pembiayaan kendaraan bekas terus meningkat, seiring menyusutnya kelas menengah dan memanjangnya siklus penggantian kendaraan. Konsumen yang menunda pembelian mobil baru tetap membutuhkan kendaraan, tetapi dengan skema cicilan yang lebih ringan dan tenor yang fleksibel—celah yang dimanfaatkan perusahaan pembiayaan.
Namun, pergeseran ini bukan tanpa risiko. Pembiayaan mobil bekas menuntut manajemen risiko yang lebih ketat, mulai dari penilaian kualitas aset, harga jual kembali, hingga potensi kredit bermasalah. Di tengah tekanan ekonomi, multifinance menghadapi tantangan ganda: menjaga pertumbuhan pembiayaan sekaligus menekan rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF).
Di sisi lain, kompetisi di segmen ini kian ketat. Platform digital jual beli mobil bekas, dealer daring, hingga ekosistem embedded finance mulai menggerus model bisnis tradisional multifinance. Perusahaan pembiayaan dipaksa bertransformasi—mengandalkan data, scoring risiko yang lebih presisi, dan kolaborasi dengan marketplace otomotif—agar tetap relevan.
Fenomena menguatnya mobil bekas pada akhirnya menjadi cermin kondisi ekonomi nasional. Bagi industri multifinance, ini adalah peluang sekaligus peringatan. Peluang untuk tumbuh lewat segmen yang lebih realistis bagi konsumen, dan peringatan bahwa tanpa adaptasi model bisnis serta penguatan manajemen risiko, tekanan ekonomi bisa dengan cepat berubah menjadi tekanan kualitas aset.
Foto: tribunnews.com
Digionary:
● Depresiasi: Penurunan nilai aset dari waktu ke waktu
● Daya Beli: Kemampuan konsumen membeli barang dan jasa
● Kelas Menengah: Kelompok pendapatan yang menjadi motor konsumsi
● LPEM FEB UI: Lembaga riset ekonomi Universitas Indonesia
● Pasar Mobil Bekas: Perdagangan kendaraan yang telah digunakan
● Pendapatan Per Kapita: Rata-rata pendapatan per penduduk
● Siklus Penggantian Kendaraan: Rentang waktu konsumen mengganti mobil
● Survei Konsumen: Metode pengumpulan data perilaku dan preferensi pasar
#MobilBekas #PasarOtomotif #DayaBeli #KelasMenengah #LPEMUI #EkonomiIndonesia #IndustriOtomotif #KonsumenRasional #MobilBaru #Inflasi #PendapatanPerKapita #OtomotifNasional #SurveiEkonomi #EkonomiMakro #KonsumsiRumahTangga #HargaMobil #DepresiasiMobil #PasarKendaraan #Otomotif2026 #Indonesia
