Ledakan Fee Bank Investasi Singapura: Sinyal Kuat Kebangkitan Pasar Modal Asia

- 7 Januari 2026 - 17:26

Industri investment banking Singapura mencatat kinerja terkuat dalam empat tahun terakhir. Sepanjang 2025, total fee bank investasi melonjak menjadi US$864,6 juta, ditopang lonjakan transaksi pasar modal, penerbitan obligasi, dan pemulihan aktivitas IPO. DBS tampil sebagai bank dengan perolehan fee terbesar, sementara sektor properti dan teknologi menjadi motor utama penggalangan dana. Di tengah ketidakpastian global, Singapura kembali menegaskan posisinya sebagai pusat keuangan paling stabil dan atraktif di Asia Tenggara.


Fokus Utama:

■ Lonjakan fee investment banking menjadi indikator kebangkitan pasar modal Singapura di tengah ketidakpastian global.
■ DBS dan bank regional menguat, menandai pergeseran dominasi dari bank global ke pemain Asia.
■ IPO, obligasi, dan real estate menjadi mesin utama pertumbuhan, sementara M&A masih selektif.


Fee investment banking Singapura melonjak menjadi US$864,6 juta pada 2025, tertinggi dalam empat tahun. IPO, obligasi, dan sektor properti mendorong kebangkitan pasar modal regional.


Ketika banyak pusat keuangan global masih berjibaku dengan volatilitas geopolitik dan suku bunga tinggi, Singapura justru menutup 2025 dengan catatan impresif. Fee investment banking di negara-kota itu melonjak hampir %30, mencerminkan kebangkitan pasar modal, kepercayaan investor, serta peran bank-bank besar dalam mengorkestrasi transaksi korporasi bernilai jumbo.

Data deals intelligence dari London Stock Exchange Group (LSEG) menunjukkan total fee investment banking di Singapura naik %28,9 menjadi US$864,6 juta pada 2025, tertinggi sejak 2021. Kenaikan ini terjadi hampir di seluruh lini bisnis—mulai dari advisory M&A, penjaminan saham, hingga pasar obligasi.

Di antara bank-bank yang beroperasi di Singapura, DBS Group tampil sebagai pemimpin pasar dengan fee US$72,9 juta, menguasai %8,4 dari total wallet share. Bank terbesar di Asia Tenggara itu juga mendominasi league table untuk penjaminan saham, equity-linked securities, dan obligasi bagi perusahaan yang berbasis di Singapura.

Lonjakan fee mencerminkan kembalinya aktivitas korporasi berskala besar, terutama setelah periode pengetatan moneter global mereda dan ekspektasi suku bunga mulai stabil.

Pasar Modal Menggeliat, IPO dan Obligasi Jadi Mesin Utama

Dari sisi produk, fee advisory M&A melonjak %55,3 menjadi US$265,1 juta, mencerminkan meningkatnya transaksi strategis meski jumlah deal secara keseluruhan menurun. Sementara itu, fee penjaminan pasar saham melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$210,9 juta, tertinggi dalam empat tahun.

Pasar obligasi juga mencatat performa kuat. Fee debt capital markets tumbuh %55,9 menjadi US$155,2 juta, level tertinggi sejak pencatatan dilakukan. Sebaliknya, fee syndicated lending justru turun %24,1 menjadi US$233,4 juta—menandakan korporasi lebih memilih pasar obligasi ketimbang pinjaman sindikasi.

“Meski ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global masih tinggi, 2025 merupakan tahun yang sangat kuat bagi investment banking di Singapura,” ujar analis tim LSEG deals intelligence seperti dikutip The Business Times.

IPO Bangkit, Properti dan Teknologi Mendominasi

Sepanjang 2025, total dana yang dihimpun dari pasar saham Singapura melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$7,4 miliar, tertinggi sejak 2021. Dari jumlah tersebut, 38 IPO perusahaan Singapura berhasil menghimpun US$2,5 miliar.

Menariknya, meski 27 IPO memilih melantai di luar negeri—terutama di AS dan Hong Kong—IPO terbesar justru memilih bursa domestik. Sebanyak 11 emiten yang mencatatkan saham di Singapura menghimpun US$1,9 miliar, menunjukkan meningkatnya kepercayaan terhadap pasar lokal.

Dari sisi sektor, real estate menjadi penyumbang dana terbesar, naik %42,7 menjadi US$3,2 miliar, terutama melalui penggalangan dana oleh real estate investment trusts (REITs). Sektor teknologi menyusul dengan US$2,5 miliar.

Pemerintah Singapura dinilai berperan penting melalui insentif dan kebijakan yang mendorong perusahaan untuk listing di dalam negeri.

M&A Menurun, Energi dan Teknologi Menjadi Magnet

Berbeda dengan pasar modal, nilai transaksi M&A yang melibatkan Singapura justru turun %9,1 menjadi US$70,4 miliar, dengan jumlah transaksi merosot ke level terendah dalam satu dekade. Aktivitas M&A domestik dan outbound sama-sama melemah, sementara inbound M&A justru tumbuh %16.
Sektor energi dan kelistrikan menjadi yang paling dibidik investor, dengan nilai transaksi melonjak dua kali lipat menjadi US$12,2 miliar. Sektor teknologi mencatat kenaikan %37,6 menjadi US$9,8 miliar, sedangkan real estate turun tipis.

Untuk transaksi M&A yang melibatkan Singapura, UBS memimpin league table dengan nilai transaksi US$8,3 miliar.


Digionary:

● Debt Capital Markets (DCM): Aktivitas penerbitan obligasi dan instrumen utang di pasar modal.
● Equity Capital Markets (ECM): Aktivitas penggalangan dana melalui saham dan instrumen terkait.
● IPO (Initial Public Offering): Penawaran saham perdana kepada publik.
● League Table: Peringkat bank berdasarkan nilai transaksi atau fee.
● M&A (Mergers and Acquisitions): Aktivitas merger dan akuisisi perusahaan.
● REITs: Instrumen investasi properti yang diperdagangkan di bursa.
● Syndicated Loan: Pinjaman yang diberikan oleh konsorsium bank.
● Wallet Share: Pangsa fee yang dikuasai satu bank dalam total pasar.

#InvestmentBanking #Singapura #DBS #IPOAsia #PasarModal #BankInvestasi #MergersAndAcquisitions #BondsMarket #REITs #EquityCapitalMarkets #DebtCapitalMarkets #KeuanganAsia #FinancialHub #CapitalMarkets #EkonomiGlobal #Banking2026

Comments are closed.