Didukung Ekosistem Digital Global, Superbank Cetak Laba Rp122,4 Miliar

- 22 Desember 2025 - 13:10

PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) membukukan laba sebelum pajak Rp122,4 miliar hingga November 2025. Kinerja solid ini ditopang lonjakan pendapatan bunga, pertumbuhan agresif dana pihak ketiga, serta ekspansi kredit yang terjaga. Didukung ekosistem digital Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank, dan GXS, Superbank dinilai mulai memasuki fase kematangan sebagai bank digital pasca-IPO dan resmi naik kelas ke KBMI 2.


Fokus Utama:

■ Superbank membukukan laba sebelum pajak Rp122,4 miliar hingga November 2025, menandai kinerja pasca-IPO yang solid.
■ Pendapatan bunga, DPK, kredit, dan aset tumbuh agresif, memperkuat fondasi intermediasi bank digital.
■ Modal inti melampaui Rp6 triliun, mengantarkan Superbank naik kelas ke KBMI 2.


Superbank (SUPA) mencetak laba sebelum pajak Rp122,4 miliar hingga November 2025. Didukung ekosistem digital global, kinerja bank digital ini kian matang pasca-IPO.


Setelah euforia pencatatan saham perdana, tantangan terbesar bank digital adalah membuktikan kinerja yang berkelanjutan. PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) menjawab ujian itu dengan angka. Hingga November 2025, Superbank membukukan laba sebelum pajak Rp122,4 miliar, menandai fase baru transformasinya dari bank digital bertumbuh menjadi bank dengan fondasi bisnis yang kian matang.

PT Super Bank Indonesia Tbk mencatat kinerja keuangan yang menguat sepanjang 2025. Hingga November, laba sebelum pajak (PBT) Superbank mencapai Rp122,4 miliar, sebuah pencapaian yang mencerminkan konsistensi pertumbuhan pendapatan dan skala bisnis yang semakin solid.

Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, menyebut capaian tersebut tidak lepas dari dukungan ekosistem digital yang kuat, termasuk kolaborasi dengan Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank, dan GXS.
“Pertumbuhan jumlah nasabah, peningkatan aktivitas transaksi, dan kinerja keuangan yang berkelanjutan menunjukkan bahwa model bisnis Superbank semakin matang,” ujar Tigor dalam keterangan resminya, Minggu (21/12).

Pendapatan Bunga Melonjak, Intermediasi Menguat

Kinerja positif Superbank terutama ditopang oleh pertumbuhan tajam pendapatan bunga. Hingga November 2025, pendapatan bunga bersih melonjak 165% secara tahunan (year on year) menjadi Rp1,4 triliun.

Pertumbuhan tersebut berjalan seiring dengan ekspansi intermediasi. Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 149% (year on year) menjadi Rp11 triliun, sementara penyaluran kredit tumbuh 58% (year on year) hingga mencapai Rp9,3 triliun.

Kombinasi pertumbuhan dana dan kredit itu mendorong total aset Superbank naik 69% (year on year) menjadi Rp18 triliun per akhir November 2025. Angka ini menempatkan Superbank sebagai salah satu bank digital dengan laju pertumbuhan tercepat pasca-IPO.

Basis Nasabah Tumbuh, Aktivitas Transaksi Meningkat

Sejak meluncurkan aplikasi perbankan digital pada Juni 2024, Superbank mencatat penetrasi pengguna yang agresif. Hingga kini, layanan digitalnya telah menjangkau lebih dari 6 juta nasabah, mencerminkan meningkatnya kepercayaan publik terhadap layanan perbankan digital yang aman dan andal.

Dari sisi aktivitas, rata-rata transaksi harian telah menembus 1 juta transaksi per hari, naik 40% pada kuartal III 2025 dibandingkan periode sebelumnya.
“Fokus kami tetap pada membangun layanan perbankan digital yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari, dijalankan secara prudent, dan didukung oleh fondasi yang kuat untuk pertumbuhan jangka panjang,” ujar Tigor.

Naik Kelas ke KBMI 2

Penguatan kinerja keuangan dan permodalan membawa Superbank ke fase berikutnya. Pasca pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Superbank resmi memenuhi kriteria Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2, dengan modal inti kini melebihi Rp6 triliun.

Struktur permodalan yang lebih kuat membuka ruang bagi Superbank untuk memperbesar skala usaha, memperluas portofolio layanan, serta bersaing lebih agresif di industri perbankan digital yang kian kompetitif.

Dalam konteks industri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bank digital yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan nasabah, kualitas aset, dan profitabilitas berkelanjutan akan menjadi pemain jangka panjang. Kinerja Superbank hingga November 2025 menunjukkan arah tersebut mulai tercapai.


Digionary:

● Dana Pihak Ketiga (DPK): Dana yang dihimpun bank dari masyarakat dalam bentuk tabungan, giro, dan deposito
● IPO: Penawaran saham perdana kepada publik
● KBMI 2: Kelompok bank dengan modal inti Rp6 triliun–Rp14 triliun
● Pendapatan Bunga Bersih: Selisih antara pendapatan bunga dan beban bunga bank
● Year on Year: Perbandingan kinerja tahunan pada periode yang sama

#Superbank #SUPA #BankDigital #KinerjaKeuangan #LabaBank #IPOIndonesia #PerbankanDigital #EkosistemDigital #KBMI2 #IndustriPerbankan #KeuanganIndonesia #SahamBank #FintechIndonesia #DigitalBanking #OJK #PasarModal #EkonomiDigital #BankModern #BisnisPerbankan #TransformasiDigital

Comments are closed.