DANA di WEF Davos 2026: Menakar Kepercayaan dan Inklusi sebagai Jangkar Ekonomi Digital

- 12 Februari 2026 - 10:07

Partisipasi DANA dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, menandai pergeseran peran fintech Indonesia dari sekadar pemain domestik menjadi kontributor tata kelola ekonomi digital global. Melalui integrasi jajaran eksekutifnya ke dalam komunitas strategis WEF, DANA membawa misi bahwa ketahanan ekonomi nasional sangat bergantung pada tiga pilar: kepercayaan pengguna, inklusi keuangan di wilayah pelosok, dan operasional bisnis yang rendah emisi. Fokus ini merespons perlambatan ekonomi global dengan menonjolkan kekuatan ekonomi formal di luar kota-kota besar Indonesia sebagai basis pertumbuhan baru.


Fokus:

​■ Representasi Global: Eksekutif DANA bergabung dalam komunitas strategi dan teknologi WEF untuk merumuskan tata kelola AI dan inovasi digital lintas negara.
■ Inklusi Tier 2-4: Sebanyak 86% pengguna DANA berasal dari kota non-metropolitan, mempertegas fungsi dompet digital sebagai jangkar ekonomi formal di daerah.
■ Efisiensi Karbon: Setiap transaksi di platform DANA hanya menghasilkan 0,14 gram CO₂e, setara dengan 3% emisi satu pesan email.


Di tengah bayang-bayang perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik, industri teknologi finansial (fintech) Indonesia mulai mengambil peran strategis dalam menentukan arah kebijakan digital dunia. Dalam ajang World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, DANA menegaskan bahwa masa depan ekonomi digital tidak lagi hanya soal pertumbuhan angka, melainkan sejauh mana teknologi mampu membangun kepercayaan (trust) dan tata kelola yang bertanggung jawab.

​Kehadiran DANA di Davos tahun ini lebih dari sekadar partisipasi. Dua eksekutifnya, Chief Information Officer Darrick Rochili dan Chief Technology Officer Norman Sasono, resmi bergabung dalam komunitas strategis WEF. Langkah ini menempatkan representasi Indonesia secara langsung dalam diskusi global mengenai transformasi AI, keamanan siber, dan ekonomi berkelanjutan.

​Inklusi: Dari Agenda Sosial Menjadi Strategi Ketahanan

​Salah satu poin krusial yang dibawa dari Davos adalah pergeseran paradigma terhadap inklusi keuangan. WEF 2026 menempatkan inklusi sebagai strategi ketahanan ekonomi jangka panjang, bukan lagi sekadar tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

​Di Indonesia, data DANA menunjukkan bahwa perluasan akses digital telah menciptakan basis ekonomi formal yang masif di wilayah pelosok. Tercatat, 86% pengguna DANA kini berada di kota-kota tier 2 hingga tier 4, dengan 43% di antaranya berasal dari kelompok unbanked (masyarakat yang belum terjangkau perbankan).

​CEO & Co-Founder DANA, Vince Iswara, menekankan bahwa inovasi seperti AI harus berjalan beriringan dengan keamanan. “Pertumbuhan yang berkelanjutan muncul dari kepercayaan dan dampak yang dirasakan masyarakat. Maka dari itu, setiap inovasi teknologi termasuk pemanfaatan AI, harus diperkuat dengan prinsip keamanan, perlindungan pengguna, dan tata kelola yang kuat,” tegas Vince.

​Sustainability sebagai Pilar Operasional

Isu keberlanjutan (sustainability) juga menjadi sorotan utama. DANA memposisikan diri sebagai solusi transaksi rendah karbon. Mengacu pada Sustainability Report 2024, emisi dari satu transaksi di platform ini hanya sebesar 0,14 gram CO₂e—jauh lebih rendah dibandingkan aktivitas digital harian lainnya seperti mengirim email.

​Chief Finance Officer DANA, Yattha Saputra, menyatakan bahwa aspek hijau ini kini menjadi alat ukur kualitas pertumbuhan bisnis. “Sustainability tidak hanya kami lakukan karena sekadar kewajiban, melainkan betul-betul dijadikan pilar operasional dan alat ukur kualitas pertumbuhan,” jelas Yattha.

​Analisis & Implikasi Jangka Panjang

​Dibandingkan dengan tren tekfin global yang mulai jenuh di pasar metropolitan, strategi DANA yang menyasar wilayah non-metropolitan memberikan keunggulan kompetitif dalam hal pertumbuhan jumlah pengguna baru. Dengan nilai Net Promoter Score (NPS) mencapai 84,44%, loyalitas pengguna menjadi modal kuat untuk menghadapi volatilitas ekonomi.
​Keterlibatan aktif di WEF Davos juga mengirimkan sinyal kepada investor global bahwa ekosistem tekfin Indonesia telah matang secara tata kelola.

Implikasinya, Indonesia berpotensi menjadi standar acuan (benchmark) bagi negara berkembang lainnya dalam mengintegrasikan UMKM perempuan dan penyandang disabilitas ke dalam sistem ekonomi formal, sebagaimana tercermin dalam program SisBerdaya dan DisBerdaya yang telah menjangkau 9.000 peserta.


​Digionary:

​● CO₂e (Carbon Dioxide Equivalent): Satuan standar untuk mengukur jejak karbon dari berbagai gas rumah kaca berdasarkan potensi pemanasan globalnya.
● Fintech (Financial Technology): Inovasi finansial dengan sentuhan teknologi modern yang mencakup pembayaran, pinjaman, hingga investasi.
● Inklusi Keuangan: Ketersediaan akses bagi masyarakat untuk memanfaatkan produk dan layanan keuangan formal secara efektif.
● Net Promoter Score (NPS): Metrik yang digunakan untuk mengukur loyalitas, kepuasan, dan potensi nasabah dalam merekomendasikan layanan kepada orang lain.
● Tier 2-4 Cities: Klasifikasi kota berdasarkan tingkat pertumbuhan ekonomi dan kepadatan penduduk yang berada di bawah ibu kota atau kota metropolitan utama.
● Unbanked: Segmen populasi dewasa yang tidak memiliki akses ke akun bank atau lembaga keuangan formal.
● World Economic Forum (WEF): Organisasi internasional non-pemerintah yang mempertemukan pemimpin politik dan bisnis dunia untuk mendiskusikan masalah global.

​#DANA #Davos2026 #WEF #FintechIndonesia #InklusiKeuangan #EkonomiDigital #Sustainability #Innovation #IndonesiaDigital #TrustInTech #FintechNews #GlobalDialogue #SmartEconomy #SustainabilityReport #AI #DigitalTransformation #EconomicResilience #Unbanked #UMKM #TechForGood

Comments are closed.