87% Orang RI Boros Saat Ramadan, Ini Cara Gen Z vs Milenial Menyelamatkan Keuangan

- 17 Maret 2026 - 18:59

Lonjakan pengeluaran selama Ramadan bukan sekadar fenomena konsumsi, tetapi cerminan strategi bertahan masyarakat dalam mengelola arus kas. Survei terbaru Amar Bank menunjukkan 87% masyarakat mengalami kenaikan pengeluaran, dengan Gen Z dan Milenial mengadopsi pendekatan berbeda—dari mengandalkan dana darurat hingga kombinasi pinjaman—sementara THR menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas finansial.


Fokus:

■ Lonjakan pengeluaran Ramadan didominasi kebutuhan dasar, bukan konsumsi simbolik.
■ Gen Z dan Milenial memiliki strategi berbeda dalam menjaga arus kas.
■ THR menjadi jangkar psikologis sekaligus penopang keputusan finansial.


Ramadan tak lagi sekadar bulan ibadah—ia juga menjadi ujian serius bagi ketahanan finansial rumah tangga. Ketika kebutuhan melonjak dalam waktu singkat, masyarakat dipaksa berpikir cepat: bertahan dengan tabungan, atau mulai berani berutang.

Tekanan finansial selama Ramadan kembali menjadi sorotan. Survei terbaru yang dilakukan Amar Bank terhadap lebih dari 1.600 responden di kota-kota besar Indonesia menunjukkan bahwa 87% masyarakat mengaku pengeluaran mereka meningkat selama bulan suci.

Namun, menariknya, lonjakan ini bukan semata dipicu gaya hidup atau konsumsi berlebihan. Justru, beban terbesar datang dari kebutuhan paling mendasar.

Sebanyak 86,0% responden menyebut pengeluaran rumah tangga sebagai pos terbesar, disusul kebutuhan seperti baju Lebaran, buka bersama, dan hampers sebesar 67,6%. Sementara itu, biaya mudik—yang kerap dianggap beban utama—hanya menyumbang 26,4%.

Temuan ini menegaskan satu hal: tekanan Ramadan lebih banyak berasal dari akumulasi kebutuhan rutin yang menumpuk dalam waktu singkat, bukan sekadar euforia konsumsi musiman.

Di tengah tekanan tersebut, muncul perbedaan mencolok antar generasi. Gen Z, yang umumnya berada pada fase awal karier, cenderung mengambil pendekatan defensif. Sebanyak 46% memilih mengandalkan dana darurat, sementara 38,3% mengombinasikannya dengan pinjaman. Bahkan, sekitar 42,0% dari kelompok ini mengaku kondisi keuangan mereka semakin ketat menjelang akhir Ramadan.

Sebaliknya, Milenial terlihat lebih adaptif dan taktis. Sebanyak 42,0% menggabungkan dana darurat dengan pinjaman, lebih tinggi dibanding 38,8% yang hanya mengandalkan tabungan. Namun, fleksibilitas ini datang dengan konsekuensi: sekitar 36,0% Milenial mengalami arus kas yang tidak stabil sepanjang bulan.

Perbedaan ini mencerminkan fase kehidupan dan tingkat tanggung jawab finansial yang berbeda. Gen Z fokus bertahan, sementara Milenial berusaha menjaga kelangsungan pengeluaran dengan strategi kombinasi.

Yang paling menarik, pembiayaan atau pinjaman ternyata tidak selalu identik dengan perilaku konsumtif. Sebaliknya, ia berfungsi sebagai alat stabilisasi keuangan.

Secara keseluruhan, 50,4% responden menggunakan pinjaman—baik sepenuhnya maupun dikombinasikan dengan dana darurat. Alasan utamanya pun bersifat pragmatis: menunggu THR atau gaji cair (33,6%) dan menutup kebutuhan yang belum tercover (29,0%). Hanya 15,3% yang mengaku terdorong untuk belanja di luar rencana.

Dalam konteks ini, THR memainkan peran jauh lebih besar dari sekadar bonus tahunan. Sebanyak 72,8% responden menyebut THR memengaruhi keputusan finansial mereka, termasuk dalam mengambil pinjaman.

Mayoritas juga memandang THR sebagai dana untuk kebutuhan keluarga dan keagamaan (65,8%), bukan sekadar tambahan untuk konsumsi gaya hidup. Dengan kata lain, THR menjadi semacam “jangkar psikologis” yang memberi rasa aman dalam mengambil keputusan finansial.

Namun, tekanan tidak berhenti setelah Lebaran. Meski 46,5% responden mengaku kondisi keuangan kembali normal, sebanyak 37,7% lainnya masih harus melakukan penyesuaian dan penghematan dalam jangka lebih panjang.
Artinya, dampak finansial Ramadan memiliki efek lanjutan yang sering kali luput dari perhatian.

Direktur Retail Banking Amar Bank, Abraham Lumban Batu, mengatakan, “Ramadan sering kali menjadi periode ketika kebutuhan rumah tangga meningkat dalam waktu yang singkat, sementara arus kas belum tentu bergerak dengan ritme yang sama. Karena itu, yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya akses dana, tetapi juga pendampingan agar mereka bisa tetap memprioritaskan kebutuhan utama, memahami kapasitas keuangan mereka, dan mengambil keputusan pembiayaan secara bertanggung jawab. Bagi kami, peran bank adalah membantu menjaga kelancaran, bukan menambah beban.”

Dalam lanskap ekonomi yang masih dibayangi ketidakpastian global, hasil survei ini mempertegas pentingnya literasi keuangan. Tanpa perencanaan yang matang, lonjakan pengeluaran musiman seperti Ramadan berpotensi mengganggu stabilitas finansial rumah tangga dalam jangka panjang. ■

Ilustrasi dibuat menggunakan Chat GPT.


Digionary:

● Arus Kas (Cash Flow): Pergerakan uang masuk dan keluar dalam periode tertentu
● Dana Darurat: Tabungan yang disiapkan untuk kebutuhan tak terduga
● Gen Z: Generasi yang lahir sekitar 1997–2012
● Milenial: Generasi yang lahir sekitar 1981–1996
● Pinjaman Konsumtif: Utang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan non-produktif
● THR (Tunjangan Hari Raya): Pendapatan tambahan yang diberikan menjelang hari besar keagamaan

#Ramadan2026 #KeuanganPribadi #THR #GenZ #Milenial #LiterasiKeuangan #ManajemenKeuangan #CashFlow #DanaDarurat #Pinjaman #EkonomiRumahTangga #FintechIndonesia #AmarBank #Tunaiku #PerilakuKonsumen #FinancialPlanning #Lebaran2026 #GayaHidup #UtangProduktif #StabilitasKeuangan

Comments are closed.