Kemunculan agentic payments—pembayaran yang dilakukan langsung oleh agen kecerdasan buatan—menandai babak baru dalam evolusi sistem pembayaran global. Mastercard baru-baru ini menguji transaksi berbasis AI di Malaysia bersama CIMB, Maybank, dan RHB Bank. Dalam sistem ini, AI tidak hanya membantu pengguna mencari produk, tetapi juga dapat melakukan pembelian dan pembayaran secara otomatis dengan persetujuan pemilik akun. Jika tren global berlanjut, teknologi ini berpotensi hadir juga Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Namun realisasinya akan sangat bergantung pada kesiapan regulasi, infrastruktur pembayaran digital, serta kepercayaan publik terhadap AI.
Fokus:
■ Teknologi agentic payments memungkinkan AI melakukan transaksi keuangan secara otomatis dengan persetujuan pengguna.
■ Mastercard telah menguji sistem ini di Malaysia bersama bank besar, menandai awal era baru dalam pembayaran digital berbasis AI.
■ Indonesia berpotensi mengadopsinya sekitar 2028–2030, namun masih menghadapi tantangan regulasi, keamanan, dan kesiapan ekosistem.
Selama ini kecerdasan buatan dikenal sebatas sebagai asisten digital—membantu mencari informasi, menyusun jadwal, atau merekomendasikan produk. Namun teknologi ini kini melangkah lebih jauh: AI mulai bisa melakukan transaksi keuangan secara langsung.
Perusahaan pembayaran global Mastercard baru saja menyelesaikan uji coba transaksi pembayaran berbasis AI di Malaysia bersama tiga bank besar—CIMB, Maybank, dan RHB Bank. Dalam eksperimen tersebut, sebuah agen AI memesan perjalanan dari Bandara Internasional Kuala Lumpur menuju KL Sentral dan menyelesaikan pembayarannya secara otomatis melalui sistem pembayaran Mastercard.
Pihak Mastercard mengungkapkan transaksi ini dijalankan menggunakan platform Mastercard Agent Pay, yang memungkinkan AI melakukan pembelian dengan persetujuan pengguna, autentikasi digital, serta sistem keamanan berbasis tokenisasi dan passkeys.
Uji coba tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam munculnya konsep baru yang disebut agentic commerce—ekonomi digital di mana AI tidak hanya memberi rekomendasi, tetapi juga melakukan transaksi atas nama manusia.
Dari Asisten Digital ke Agen Ekonomi
Konsep agentic commerce lahir dari perkembangan teknologi agentic AI, yaitu sistem AI yang mampu mengambil keputusan dan melakukan tindakan secara mandiri dalam batasan tertentu.
Dalam konteks pembayaran, AI dapat melakukan beberapa fungsi sekaligus, yakni mencari produk atau layanan terbaik, membandingkan harga, melakukan pemesanan, dan melakukan pembayaran.
Misalnya, pengguna cukup memberi instruksi:
“Carikan tiket pesawat termurah ke Tokyo bulan depan.” Agen AI akan melakukan pencarian, memilih penerbangan terbaik, dan—jika pengguna menyetujui—langsung melakukan pembayaran. Perusahaan pembayaran global seperti Mastercard dan Visa melihat potensi besar dari teknologi ini.
Visa bahkan memperkirakan bahwa 2026 akan menjadi titik awal di mana AI tidak hanya membantu proses belanja, tetapi juga menyelesaikan transaksi secara langsung melalui jaringan pembayaran digital global.
Mengapa Asia Menjadi Laboratorium Inovasi Pembayaran?
Menariknya, banyak eksperimen awal teknologi pembayaran baru justru dilakukan di Asia. Salah satu alasannya adalah tingkat adopsi pembayaran digital yang sangat tinggi.
Di Malaysia misalnya, penelitian Mastercard menunjukkan bahwa 63% konsumen lebih memilih metode pembayaran inovatif seperti mobile wallet, QR payment, atau biometrik dibanding metode tradisional.
Bahkan 99% konsumen Malaysia diperkirakan akan menggunakan metode pembayaran digital baru dalam waktu dekat, menunjukkan tingginya kesiapan masyarakat terhadap inovasi fintech.
Tren serupa juga terjadi di berbagai negara Asia Tenggara yang memiliki ekosistem ekonomi digital berkembang pesat. Lantas bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia sebenarnya memiliki fondasi yang cukup kuat untuk teknologi pembayaran berbasis AI. Beberapa indikatornya adalah:
1. Pertumbuhan pembayaran digital sangat cepat
Data Bank Indonesia menunjukkan nilai transaksi uang elektronik dan pembayaran digital terus meningkat setiap tahun, didorong oleh penetrasi smartphone dan e-commerce.
2. Infrastruktur pembayaran sudah terbentuk
Indonesia sudah memiliki sistem seperti: QRIS untuk pembayaran QR, BI-FAST untuk transfer real-time, ekosistem dompet digital seperti GoPay, OVO, DANA, dan ShopeePay
3. Ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara
Menurut laporan Google–Temasek–Bain, ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari US$130 miliar dalam beberapa tahun ke depan, terbesar di kawasan.
Dengan fondasi ini, Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar untuk mengadopsi teknologi agentic payments. Pertanyaannya kira2 kapan teknologi ini akan masuk ke Indonesia?
Melihat tren global, teknologi ini kemungkinan akan berkembang dalam beberapa tahap:
■ 2025–2026: Tahap eksperimen dan pilot di negara maju serta Asia.
■ 2027–2028: Mulai muncul implementasi komersial terbatas di sektor tertentu seperti travel, transportasi, dan langganan digital
■ 2028–2030: Adopsi lebih luas dalam e-commerce dan layanan keuangan.
Mastercard sendiri memperkirakan bahwa sekitar sepertiga aplikasi enterprise akan menggunakan agentic AI pada 2028, menunjukkan semakin luasnya penggunaan AI dalam aktivitas bisnis dan transaksi digital. Jika tren ini konsisten, Indonesia kemungkinan mulai melihat implementasi awal sekitar 2028–2030.
Peluang Besar bagi Indonesia
Jika teknologi ini berhasil diterapkan, dampaknya bisa cukup besar bagi industri keuangan dan e-commerce.
1. Transaksi menjadi jauh lebih efisien
AI dapat mengotomatisasi transaksi berulang seperti: pembayaran langganan, pembelian tiket, dan pembayaran utilitas.
2. Ekonomi digital menjadi lebih personal. AI dapat memahami preferensi pengguna dan mengoptimalkan keputusan finansial mereka.
3. Mendorong inovasi fintech: Startup fintech dapat mengembangkan layanan seperti AI financial assistant, AI procurement system, dan AI travel booking agent.
Hambatan Besar yang Harus Diatasi
Namun jalan menuju adopsi teknologi ini tidak mudah. Setidaknya ada empat tantangan utama.
1. Regulasi
Transaksi yang dilakukan AI memunculkan pertanyaan hukum: siapa yang bertanggung jawab jika AI melakukan kesalahan? Lantas bagaimana mekanisme persetujuan pengguna?
2. Keamanan siber
Sistem pembayaran AI akan menjadi target utama serangan siber. Karena itu diperlukan standar keamanan baru seperti tokenisasi, autentikasi multi-faktor, dan sistem verifikasi berbasis AI.
3. Kepercayaan publik
Masyarakat mungkin belum siap mempercayakan keputusan finansial kepada AI. Kepercayaan ini harus dibangun melalui transparansi dan perlindungan konsumen.
4. Integrasi dengan sistem perbankan
AI payments harus dapat terhubung dengan
core banking, jaringan kartu dan sistem pembayaran nasional.
Masa Depan: AI Bisa Mengelola Keuangan Anda
Jika teknologi ini berkembang seperti yang diperkirakan, peran manusia dalam transaksi sehari-hari bisa semakin berkurang.
Di masa depan, seseorang mungkin cukup berkata kepada AI: “Kelola pengeluaran saya bulan ini dan cari tiket pesawat termurah untuk liburan.”
AI akan mencari, memesan, dan membayar semuanya secara otomatis. Namun di balik kemudahan tersebut, tantangan terkait keamanan, regulasi, dan etika teknologi akan menjadi isu besar yang harus dipecahkan oleh regulator dan industri.
Indonesia—sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara—berpeluang besar menjadi salah satu pasar utama teknologi ini. Tetapi sebelum itu terjadi, fondasi regulasi dan kepercayaan publik harus dibangun dengan sangat hati-hati.
Digionary:
● Agentic AI
Jenis kecerdasan buatan yang mampu mengambil keputusan dan melakukan tindakan secara mandiri dalam batasan tertentu.
● Agentic Commerce
Model perdagangan digital di mana agen AI dapat melakukan transaksi atas nama pengguna.
● Digital Wallet
Aplikasi pembayaran digital yang memungkinkan pengguna menyimpan kartu dan melakukan transaksi secara elektronik.
● Passkeys
Metode autentikasi digital yang menggantikan password dengan sistem kunci kriptografi yang lebih aman.
● Tokenisasi
Teknologi keamanan yang mengganti data sensitif seperti nomor kartu dengan kode unik.
#AI #Fintech #DigitalPayments #AgenticAI #FutureOfFinance #FintechInnovation #ArtificialIntelligence #CashlessSociety #DigitalBanking #AIinFinance #PaymentTechnology #FintechAsia #FinancialTechnology #SmartPayments #DigitalEconomy #AICommerce #FintechTrends #NextGenPayments #IndonesiaDigitalEconomy #AIRevolution
