DBS Bank memperluas transformasi digital di sektor investasi dengan meluncurkan DBS Physical Gold Token untuk nasabah ritel di Singapura pada paruh kedua 2026. Produk ini memungkinkan investor membeli, menyimpan, dan memperdagangkan emas fisik yang ditokenisasi melalui aplikasi DBS digibank, dengan setiap token didukung 1 gram emas fisik yang disimpan di brankas DBS di Singapura. Langkah ini menandai semakin kuatnya adopsi tokenisasi aset dunia nyata (real-world assets/RWA) di industri perbankan sekaligus mempertegas ambisi Singapura menjadi pusat perdagangan emas dan aset digital terkemuka di Asia.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ DBS akan meluncurkan DBS Physical Gold Token pada semester II-2026, memungkinkan investor ritel membeli dan memperdagangkan emas fisik melalui aplikasi digibank.
■ Setiap token didukung 1 gram emas fisik yang disimpan di brankas DBS Singapura dan dapat ditukarkan menjadi emas fisik.
■ Langkah DBS mempertegas tren tokenisasi aset dunia nyata dan memperkuat posisi Singapura sebagai pusat perdagangan emas dan aset digital Asia.
Persaingan bank dalam memanfaatkan teknologi blockchain memasuki babak baru. DBS Bank akan meluncurkan token emas fisik bagi nasabah ritel di Singapura pada semester II-2026, memungkinkan investor membeli, menyimpan, dan memperdagangkan emas fisik secara digital hanya melalui aplikasi perbankan.
Langkah ini tidak hanya memperluas akses investasi emas bagi masyarakat umum, tetapi juga memperlihatkan bagaimana industri perbankan mulai memanfaatkan tokenisasi untuk menghubungkan aset fisik dengan infrastruktur keuangan digital.
DBS pada Kamis (11/6) mengumumkan akan menghadirkan DBS Physical Gold Token bagi nasabah ritel di Singapura mulai paruh kedua 2026.
Produk tersebut menjadi salah satu penawaran pertama di Singapura yang memungkinkan investor ritel mengakses, memiliki, dan memperdagangkan emas fisik yang ditokenisasi melalui satu platform digital.
Setiap token mewakili 1 gram emas fisik yang disimpan DBS dalam brankas khusus di Singapura. Bank tersebut akan menangani seluruh proses tokenisasi, penerbitan, distribusi, hingga pengelolaan token secara internal.
Nasabah juga memiliki opsi untuk menukarkan token menjadi emas fisik. Selain itu, DBS sedang menjajaki kemungkinan mencatatkan token tersebut di DBS Digital Exchange (DDEx), platform aset digital yang selama ini melayani investor institusi dan investor terakreditasi.
Permintaan Emas Terus Meningkat
Peluncuran produk baru ini terjadi ketika minat terhadap emas terus meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi global, volatilitas pasar keuangan, serta meningkatnya risiko geopolitik.
DBS mengungkapkan bahwa aset kelolaan (assets under management/AUM) emas fisik milik nasabah wealth management mereka telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir.
Data tersebut mencerminkan tren global. Menurut laporan World Gold Council, bank sentral dunia masih menjadi pembeli bersih emas dalam beberapa tahun terakhir, sementara investor individu semakin menjadikan emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, gejolak geopolitik, dan pelemahan mata uang.
Pada saat yang sama, Singapura juga tengah memperkuat posisinya sebagai pusat perdagangan emas Asia Pasifik. Pada Maret lalu, Monetary Authority of Singapore (MAS) bersama Singapore Bullion Market Association (SBMA) mengumumkan berbagai inisiatif untuk memperkuat ekosistem perdagangan emas nasional.
Tokenisasi Membuka Akses yang Lebih Luas
James Tan, Group Head of Investment Product and Advisory DBS, mengatakan teknologi tokenisasi memungkinkan akses yang lebih luas terhadap investasi emas fisik.
“DBS telah menawarkan investasi emas fisik kepada nasabah wealth management sejak 2013, dan kini kami memanfaatkan teknologi tokenisasi untuk memperluas akses, sehingga lebih banyak nasabah ritel dapat berinvestasi pada emas dengan cara yang aman dan lebih bermakna,” ujarnya kepada Business Times.
Selama ini, investasi emas fisik di DBS sebagian besar hanya tersedia bagi investor institusi dan investor terakreditasi. Investor ritel umumnya hanya memiliki akses ke reksa dana emas atau instrumen berbasis emas lainnya.
Tokenisasi mengubah model tersebut dengan memungkinkan kepemilikan fraksional. Investor tidak harus membeli satu batang emas penuh, tetapi dapat memiliki sebagian kecil emas yang direpresentasikan dalam bentuk token digital.
Tokenisasi RWA meningkatkan aksesibilitas karena memungkinkan kepemilikan fraksional serta integrasi dengan ekosistem keuangan digital menjadi salah satu prinsip yang kini mendorong perkembangan pasar aset digital global.
Strategi Blockchain DBS Semakin Agresif
Peluncuran token emas merupakan bagian dari strategi jangka panjang DBS dalam membangun ekosistem aset digital berbasis blockchain.
Sepanjang 2025, DBS memperluas kemampuan blockchain-nya dengan melakukan tokenisasi structured notes di jaringan Ethereum dan mendistribusikannya melalui platform investasi digital.
Bank tersebut juga mencatatkan sgBenji, token dari Franklin Templeton Tokenised Money Market Fund, serta stablecoin Ripple USD untuk memungkinkan nasabah melakukan rebalancing portofolio selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu.
Kemampuan bertransaksi 24/7 menjadi salah satu keunggulan utama tokenisasi dibandingkan sistem keuangan tradisional yang masih bergantung pada jam operasional pasar.
Persaingan Bank Singapura Memanas
Langkah DBS muncul di tengah meningkatnya kompetisi bank-bank Singapura dalam mengembangkan produk investasi berbasis aset digital.
Saat ini, UOB menawarkan investasi emas fisik dan emas kertas kepada investor ritel, sementara OCBC menyediakan produk emas kertas. Ketiga bank besar Singapura juga telah menyediakan berbagai instrumen investasi terkait emas melalui platform digital masing-masing.
Pada April 2026, OCBC bersama mitra investasi meluncurkan OCBC-LionGlobal Physical Gold Fund Token, yang disebut sebagai dana emas fisik tokenisasi berbasis blockchain pertama di Asia Tenggara. Namun produk tersebut masih ditujukan untuk investor institusi dan investor korporasi terakreditasi.
Kehadiran DBS Physical Gold Token memperluas pasar dengan menyasar investor ritel secara langsung.
Masa Depan Perbankan dan RWA
Transformasi yang dilakukan DBS mencerminkan tren yang lebih luas di industri keuangan global. Bank-bank besar dunia semakin melihat tokenisasi sebagai cara untuk meningkatkan efisiensi pasar modal, memperluas akses investasi, dan menciptakan sumber pendapatan baru.
Menurut sejumlah lembaga riset global seperti Boston Consulting Group (BCG), Ripple, dan McKinsey, nilai pasar aset dunia nyata yang ditokenisasi berpotensi mencapai triliunan dolar AS dalam dekade mendatang, mencakup obligasi, dana pasar uang, properti, komoditas, hingga emas.
Bagi industri perbankan, tokenisasi tidak lagi sekadar eksperimen teknologi blockchain. Teknologi ini mulai berkembang menjadi infrastruktur baru yang menghubungkan aset tradisional dengan ekonomi digital.
Peluncuran token emas oleh DBS menjadi sinyal bahwa bank-bank besar Asia mulai bergerak lebih cepat untuk memanfaatkan peluang tersebut sebelum pasar berkembang semakin besar. ●
DIGI-INSIGHTS:
Peluncuran DBS Physical Gold Token menunjukkan bahwa tokenisasi kini bergerak dari fase eksperimen menuju produk ritel massal. Jika sebelumnya tokenisasi aset lebih banyak digunakan untuk investor institusi, kini bank mulai menggunakannya untuk memperluas akses investasi kepada nasabah umum. Ini menjadi indikasi bahwa blockchain perlahan berubah dari teknologi infrastruktur menjadi produk yang langsung dirasakan konsumen.
Bagi industri perbankan, tokenisasi emas memiliki implikasi strategis yang jauh lebih besar dibanding sekadar menjual komoditas. Bank dapat memperoleh pendapatan dari custody, perdagangan digital, distribusi aset, hingga layanan pembiayaan berbasis aset tokenisasi. Dalam jangka panjang, model bisnis ini berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru di luar kredit dan transaksi tradisional.
Perkembangan di Singapura juga memberikan gambaran mengenai arah masa depan industri keuangan Asia. Setelah obligasi, dana pasar uang, dan stablecoin mulai ditokenisasi, komoditas seperti emas menjadi langkah berikutnya. Bank yang mampu menggabungkan aset tradisional, blockchain, kecerdasan buatan, dan layanan digital 24/7 kemungkinan akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan dalam ekosistem keuangan generasi berikutnya. ●
DIGIONARY:
● Accredited Investor: Investor yang memenuhi syarat kekayaan atau pendapatan tertentu sesuai regulasi.
● Asset Under Management (AUM): Total nilai aset yang dikelola institusi keuangan.
● Blockchain: Teknologi buku besar digital terdesentralisasi untuk mencatat transaksi.
● Bullion: Emas atau logam mulia dalam bentuk batangan atau koin.
● Custody: Layanan penyimpanan dan pengamanan aset keuangan.
● Digital Asset: Aset yang direpresentasikan dalam bentuk digital.
● Ethereum: Jaringan blockchain publik yang banyak digunakan untuk tokenisasi aset.
● Fractional Ownership: Kepemilikan sebagian dari suatu aset bernilai besar.
● Gold Token: Token digital yang mewakili kepemilikan emas fisik.
● Physical Gold: Emas nyata yang disimpan dalam bentuk batangan atau koin.
● Real-World Assets (RWA): Aset dunia nyata yang ditokenisasi ke dalam blockchain.
● Stablecoin: Aset kripto yang nilainya dipatok ke aset tertentu seperti dolar AS.
● Structured Notes: Instrumen investasi yang menggabungkan obligasi dan derivatif.
● Tokenisation: Proses mengubah aset fisik menjadi representasi digital berbasis blockchain.
● Vault: Fasilitas penyimpanan berkeamanan tinggi untuk aset bernilai.
#DBS #DBSBank #Tokenisasi #TokenizedGold #GoldToken #DigitalAssets #Blockchain #WealthManagement #RetailInvestors #DigitalBanking #Fintech #AssetTokenization #RealWorldAssets #RWA #Singapore #DigitalTransformation #Investment #GoldInvestment #FinancialInnovation #DBSDigibank
