Perusahaan teknologi jaringan global Ericsson meluncurkan portofolio baru perangkat radio, antena, dan perangkat lunak Radio Access Network (RAN) berbasis AI yang dirancang untuk membantu operator telekomunikasi membangun jaringan lebih cerdas, efisien, dan siap menghadapi lonjakan trafik data serta ekspansi 5G. Teknologi ini memungkinkan optimalisasi jaringan secara real-time, meningkatkan kapasitas uplink, sekaligus menekan konsumsi energi—sebuah kebutuhan penting di tengah meningkatnya penggunaan aplikasi berbasis AI dan ekonomi digital di Indonesia.
Fokus:
■ Peluncuran portofolio radio, antena, dan software RAN berbasis AI untuk meningkatkan kinerja jaringan operator.
■ Teknologi baru memungkinkan optimalisasi jaringan secara real-time, efisiensi energi, dan peningkatan kapasitas uplink.
■ Inovasi ini menjadi fondasi penting untuk mempercepat ekspansi 5G dan transformasi digital Indonesia.
Lonjakan penggunaan aplikasi berbasis kecerdasan buatan membuat jaringan seluler global menghadapi tantangan baru: kapasitas harus lebih besar, latensi lebih rendah, dan efisiensi energi lebih tinggi.
Menjawab kebutuhan tersebut, perusahaan teknologi telekomunikasi global Ericsson memperkenalkan portofolio terbaru berupa perangkat radio AI-ready, antena generasi baru, dan perangkat lunak Radio Access Network (RAN) yang dilengkapi kecerdasan buatan.
Teknologi ini dirancang untuk membantu operator telekomunikasi membangun jaringan yang tidak hanya cepat, tetapi juga mampu beradaptasi secara otomatis terhadap perubahan trafik data.
Langkah ini dinilai penting karena pertumbuhan trafik data global diperkirakan melonjak tajam. Laporan Ericsson Mobility Report menunjukkan trafik data seluler global diproyeksikan meningkat hampir tiga kali lipat hingga 2029, didorong oleh video streaming, game online, cloud computing, serta aplikasi berbasis AI.
Fondasi Infrastruktur 5G yang Lebih Cerdas
Di Indonesia, inovasi ini datang pada saat yang krusial. Pemerintah menargetkan cakupan 5G mencapai sekitar 32% pada 2030, seiring dengan percepatan transformasi digital di berbagai sektor—mulai dari industri manufaktur, transportasi, hingga layanan publik.
Namun ekspansi jaringan generasi kelima tidak hanya soal menambah menara atau spektrum frekuensi. Operator kini dituntut mengelola jaringan yang jauh lebih kompleks.
Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, menilai kecerdasan jaringan menjadi kunci dalam era baru telekomunikasi. “Seiring dengan percepatan ekspansi 5G di Indonesia, jaringan yang cepat bukan satu-satunya prioritas – tetapi juga jaringan yang lebih cerdas dan berkelanjutan. Di Ericsson, kami melihat AI-ready RAN sebagai fondasi dari perjalanan ini. Dengan menghadirkan kemampuan AI langsung ke Radio Access Network, kami memungkinkan terbentuknya jaringan berperforma tinggi yang adaptif dan lebih efisien dalam penggunaan energi, sehingga dapat membantu operator di Indonesia mempercepat penyebaran jaringan sekaligus mengoptimalkan investasi jangka panjang,” ujarnya.
Teknologi yang diperkenalkan Ericsson mencakup sepuluh perangkat radio baru, peningkatan software RAN, serta lima antena berkinerja tinggi yang dirancang untuk meningkatkan pemanfaatan spektrum dan memperkuat kapasitas uplink.
AI Mengubah Cara Jaringan Dikelola
Perubahan paling signifikan dari teknologi ini adalah integrasi AI langsung pada lapisan infrastruktur jaringan, bukan sekadar aplikasi tambahan.
Beberapa fitur utama yang ditawarkan antara lain:
– Beamforming cerdas untuk mengarahkan sinyal secara lebih presisi kepada pengguna.
– Prediksi jangkauan jaringan berbasis AI.
– Manajemen mobilitas dan latensi otomatis.
– Optimasi kapasitas jaringan secara real-time.
Dengan kemampuan tersebut, operator dapat menyesuaikan alokasi kapasitas jaringan secara dinamis berdasarkan pola penggunaan data pelanggan.
Hal ini sangat penting karena pola konsumsi data semakin tidak terduga—dipengaruhi oleh video resolusi tinggi, aplikasi AI generatif, hingga layanan cloud gaming.
Efisiensi Energi dan Monetisasi Baru
Selain meningkatkan performa jaringan, teknologi ini juga dirancang untuk menekan konsumsi energi—salah satu biaya operasional terbesar bagi operator telekomunikasi.
Menurut berbagai studi industri telekomunikasi global, biaya energi dapat mencapai hingga 20–40% dari total biaya operasional jaringan operator.
Dengan optimalisasi berbasis AI, operator dapat:
– Mengatur penggunaan spektrum secara lebih efisien.
– Mengurangi konsumsi daya perangkat radio.
– Mengoptimalkan kapasitas jaringan sesuai trafik.
Di sisi bisnis, kemampuan menghadirkan layanan konektivitas yang terdiferensiasi juga membuka peluang monetisasi baru bagi operator. Misalnya paket jaringan ultra-low latency untuk industri, konektivitas prioritas untuk layanan cloud, dan jaringan khusus untuk sektor manufaktur atau kesehatan.
Dengan kata lain, operator tidak lagi hanya menjual paket data, tetapi juga kualitas konektivitas yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.
Menuju Infrastruktur Digital Masa Depan
Menurut Nora Wahby, transformasi jaringan ini bukan sekadar peningkatan teknologi, melainkan perubahan paradigma dalam membangun infrastruktur telekomunikasi.
“AI-ready RAN bukan lagi sekadar evolusi jaringan, melainkan sebuah transformasi dalam cara jaringan dibangun dan dioperasikan. Seiring dengan meningkatnya penggunaan data dan semakin kompleksnya berbagai use case, operator membutuhkan infrastruktur yang dapat berpikir, beradaptasi, dan melakukan optimalisasi secara real-time,” tuturnya.
Dengan menghadirkan AI langsung pada perangkat radio, antena, dan software jaringan, Ericsson menilai operator dapat memanfaatkan spektrum secara lebih efisien sekaligus meningkatkan kualitas pengalaman pengguna.
Bagi konsumen, dampaknya akan terasa pada konektivitas yang lebih stabil—mulai dari streaming video yang lebih lancar hingga aplikasi AI real-time yang membutuhkan latensi sangat rendah.
Digionary:
● Artificial Intelligence (AI) – Teknologi kecerdasan buatan yang memungkinkan sistem komputer menganalisis data dan mengambil keputusan otomatis.
● Beamforming – Teknologi yang memfokuskan sinyal radio ke arah pengguna tertentu untuk meningkatkan kualitas jaringan.
● Latensi – Waktu jeda yang dibutuhkan data untuk berpindah dari satu titik ke titik lain dalam jaringan.
● Radio Access Network (RAN) – Infrastruktur jaringan yang menghubungkan perangkat pengguna seperti smartphone dengan jaringan inti operator.
● Spektrum Frekuensi – Rentang frekuensi radio yang digunakan operator untuk mengirimkan sinyal komunikasi.
● Uplink – Jalur pengiriman data dari perangkat pengguna ke jaringan operator.
#Ericsson #5GIndonesia #AIinTelecom #Telekomunikasi #TransformasiDigital #Jaringan5G #AIInfrastructure #RAN #SmartNetwork #TeknologiAI #DigitalEconomy #NetworkInnovation #FutureNetwork #TelecomIndustry #Connectivity #AIReadyNetwork #IndonesiaDigital #MobileNetwork #TelecomInnovation #DigitalInfrastructure
