Eksekutif Hitachi Vantara Bilang, Transformasi Digital Butuh Lebih Banyak Pemimpin Perempuan

- 5 Maret 2026 - 12:03

Transformasi digital dan adopsi kecerdasan buatan (AI) mendorong kebutuhan besar akan talenta teknologi. Namun, keterwakilan perempuan—terutama di posisi kepemimpinan—masih menjadi tantangan global. Menjelang Hari Perempuan Internasional 2026, eksekutif Wendy Koh dari Hitachi Vantara menyoroti bahwa masalah utama bukan pada kemampuan perempuan, melainkan kurangnya kesempatan yang secara aktif dibuka bagi mereka untuk naik ke posisi strategis. Di tengah pesatnya ekonomi digital seperti di Indonesia, perusahaan dituntut membangun pipeline kepemimpinan yang lebih inklusif agar mampu bersaing di era AI.


Fokus:
■ Transformasi digital dan AI meningkatkan kebutuhan talenta teknologi, tetapi perempuan masih minim di level kepemimpinan.
■ Mentoring saja tidak cukup—perusahaan harus secara aktif membuka peluang bagi perempuan untuk naik jabatan.
■ Ekonomi digital yang berkembang pesat, termasuk di Indonesia, membutuhkan pipeline kepemimpinan perempuan yang lebih kuat.


Transformasi digital kini bergerak semakin cepat. Kecerdasan buatan, komputasi awan, dan analitik data mengubah cara perusahaan bersaing dan berkembang. Namun di balik percepatan inovasi teknologi itu, ada satu persoalan lama yang belum sepenuhnya teratasi: keterwakilan perempuan di industri teknologi, khususnya di posisi kepemimpinan.

Menjelang Hari Perempuan Internasional 2026, Wakil Presiden Penjualan Asia Pasifik di Hitachi Vantara, Wendy Koh, mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan lagi sekadar menarik perempuan untuk masuk ke sektor teknologi, tetapi memastikan mereka memiliki jalur karier menuju posisi strategis.

“Transformasi digital dan adopsi AI terus mengubah cara organisasi bersaing dan berkembang, sekaligus meningkatkan fokus pada upaya menarik dan mempertahankan talenta terampil di industri teknologi. Meskipun semakin banyak perempuan memasuki sektor ini, mendukung mereka saat bertransisi dari peran karier menengah menuju posisi kepemimpinan masih menjadi tantangan yang berkelanjutan,” ujar Wendy.

Menjelang Hari Perempuan Internasional 2026, eksekutif Hitachi Vantara menyoroti masih minimnya perempuan di posisi kepemimpinan teknologi. Transformasi digital dan AI justru menuntut pipeline talenta perempuan yang lebih kuat.

Menurut dia, kondisi ini semakin relevan di ekonomi digital yang berkembang pesat seperti Indonesia. Ekspansi teknologi yang cepat menciptakan peluang baru bagi pengembangan talenta dan kepemimpinan di sektor digital.

Mentoring Saja Tidak Cukup

Selama ini banyak perusahaan mengandalkan program mentoring untuk mendukung karier perempuan di industri teknologi. Namun pengalaman Wendy memimpin tim regional di Asia Pasifik menunjukkan bahwa pendekatan tersebut belum tentu menghasilkan kemajuan karier yang nyata.

“Dari pengalaman saya memimpin tim regional, saya melihat bahwa mentoring saja tidak selalu berujung pada kemajuan karier. Banyak individu berbakat, khususnya perempuan yang sedang bertransisi menuju peran kepemimpinan, masih kurang terwakili bukan karena kurangnya kemampuan, tetapi karena peluang tidak secara aktif diciptakan untuk mereka,” tuturnya.

Ia menilai kemajuan yang berarti baru terjadi ketika para pemimpin berani membuka percakapan karier secara terbuka dan memberi kepercayaan kepada kandidat potensial, bahkan sebelum mereka merasa sepenuhnya siap.

“Kemajuan yang bermakna terjadi ketika para pemimpin bersedia membuka percakapan karier secara terbuka dan memberikan kepercayaan kepada individu bahkan sebelum mereka merasa sepenuhnya siap, sehingga mereka dapat melangkah ke peran yang lebih besar dan berkembang dengan bimbingan sepanjang perjalanan tersebut,” tambah Wendy Koh.

Tantangan Global: Perempuan Masih Minoritas di Teknologi

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Asia atau Indonesia. Secara global, perempuan masih menjadi minoritas dalam industri teknologi.
Data berbagai riset menunjukkan bahwa perempuan hanya sekitar 28% dari total tenaga kerja di sektor teknologi global, di bidang kecerdasan buatan, angka keterwakilan perempuan bahkan diperkirakan hanya sekitar 22%.

Laporan UNESCO juga menunjukkan bahwa perempuan masih kurang terwakili dalam bidang STEM (science, technology, engineering, mathematics), terutama pada level senior dan pengambil keputusan.

Padahal, keberagaman kepemimpinan terbukti meningkatkan kinerja organisasi. Studi dari lembaga konsultan global menunjukkan bahwa perusahaan dengan tim kepemimpinan yang lebih beragam memiliki kemungkinan 25% lebih tinggi untuk mencapai profitabilitas di atas rata-rata industri.

Momentum bagi Ekonomi Digital Indonesia

Indonesia menjadi salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Nilai ekonomi digital nasional diperkirakan telah melampaui US$80 miliar dan terus berkembang seiring meningkatnya penetrasi internet, e-commerce, serta layanan keuangan digital.

Pertumbuhan ini otomatis meningkatkan kebutuhan talenta teknologi—mulai dari pengembang perangkat lunak, analis data, hingga spesialis AI.

Namun tanpa strategi pengembangan talenta yang inklusif, potensi tersebut berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal.

Menurut Wendy, para pemimpin perusahaan memegang peran kunci dalam membangun lingkungan kerja yang mendukung pertumbuhan semua talenta.

“Karena itu, para pemimpin memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan di mana setiap orang merasa didorong untuk menyampaikan pandangan mereka, mengembangkan kekuatan yang dimiliki, dan terus berkembang. Dengan demikian, organisasi dapat membangun tim yang lebih kuat dan tangguh untuk menghadapi masa depan,” tukasnya.

Kepemimpinan Inklusif Jadi Kunci

Di era kecerdasan buatan, keunggulan perusahaan tidak lagi hanya ditentukan oleh teknologi yang dimiliki, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya.

Itulah sebabnya semakin banyak perusahaan teknologi global mulai menempatkan isu keberagaman dan inklusi sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar agenda sosial.
Bagi industri teknologi yang berkembang cepat seperti di Indonesia, memastikan lebih banyak perempuan mencapai posisi kepemimpinan bukan hanya soal kesetaraan, tetapi juga strategi untuk memperkuat daya saing di era ekonomi digital. ●


Digionary:

● Artificial Intelligence (AI): Teknologi yang memungkinkan mesin meniru kemampuan berpikir manusia seperti belajar dari data dan membuat keputusan.
● Ekonomi digital: Aktivitas ekonomi yang didorong oleh teknologi digital, termasuk e-commerce, fintech, dan layanan berbasis internet.
● Kepemimpinan inklusif: Pendekatan kepemimpinan yang memberi kesempatan setara bagi individu dari berbagai latar belakang.
● Mentoring: Proses pembinaan karier di mana individu yang lebih berpengalaman membimbing orang lain dalam pengembangan profesional.
● Pipeline talenta: Proses berkelanjutan untuk mengembangkan dan menyiapkan kandidat potensial menjadi pemimpin di masa depan.
● STEM: Bidang pendidikan dan pekerjaan yang mencakup science, technology, engineering, dan mathematics.
● Transformasi digital: Integrasi teknologi digital ke dalam berbagai aspek bisnis untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi.

#HariPerempuanInternasional #WomenInTech #TransformasiDigital #AI #Teknologi #KepemimpinanPerempuan #DigitalEconomy #WomenLeadership #TechIndustry #HitachiVantara #WomenEmpowerment #EkonomiDigital #PerempuanTeknologi #STEM #FutureOfWork #AIIndonesia #DiversityInTech #Leadership #DigitalTransformation #TechTalent

Comments are closed.