Ledakan AI Mengubah Pasar Kerja, Gen Z Diliputi Kekhawatiran, Baby Boomer Lebih Tenang

- 5 Maret 2026 - 11:33

Perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) mulai memicu kegelisahan baru di pasar tenaga kerja global. Survei terbaru Randstad terhadap puluhan ribu pekerja di berbagai negara menunjukkan Generasi Z menjadi kelompok yang paling khawatir terhadap dampak AI terhadap masa depan karier mereka. Ironisnya, generasi yang lebih tua seperti Baby Boomer justru menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi. Temuan ini menggambarkan paradoks psikologis di era transformasi digital: generasi yang lahir di tengah teknologi justru paling takut tergeser oleh teknologi itu sendiri.


Fokus:

■ Gen Z menjadi generasi yang paling khawatir terhadap dampak AI terhadap pekerjaan.
■ Permintaan tenaga kerja berbasis AI melonjak drastis hingga 1.587%.
■ Terjadi kesenjangan persepsi antara pekerja dan perusahaan mengenai manfaat AI.


Gelombang revolusi kecerdasan buatan kini tidak hanya mengubah cara perusahaan beroperasi, tetapi juga cara pekerja memandang masa depan karier mereka. Survei global yang dilakukan perusahaan perekrutan internasional Randstad dan dipublikasikan pekan ini menunjukkan fakta menarik dimana Generasi Z menjadi kelompok yang paling khawatir terhadap dampak AI terhadap pekerjaan mereka.

Generasi yang lahir sekitar pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an ini tumbuh bersama teknologi digital. Namun ketika AI mulai menggantikan berbagai fungsi kerja, justru kelompok ini yang paling merasakan ketidakpastian.

Survei global Randstad mengungkap Gen Z menjadi generasi yang paling khawatir terhadap dampak AI terhadap pekerjaan. Sementara itu, Baby Boomer justru paling percaya diri menghadapi revolusi teknologi ini.

Menurut laporan tahunan Workmonitor Randstad, banyak pekerja muda merasa kemampuan mereka mungkin tidak cukup cepat mengikuti perubahan teknologi.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan.
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan teknologi dan berbagai sektor industri mulai mengintegrasikan chatbot AI, otomatisasi, serta sistem machine learning untuk menggantikan pekerjaan rutin yang sebelumnya dilakukan manusia.

Permintaan Tenaga Kerja AI Melonjak 1.587%

Salah satu temuan paling mencolok dalam laporan tersebut adalah melonjaknya kebutuhan tenaga kerja dengan keahlian AI.

Randstad mencatat lowongan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan “agen AI” meningkat hingga 1.587% dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakan ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja sedang mengalami perubahan struktur yang sangat cepat.

Di satu sisi, teknologi AI menciptakan jenis pekerjaan baru. Namun di sisi lain, teknologi yang sama juga berpotensi menghilangkan pekerjaan lama yang bersifat administratif atau repetitif.

Dalam survei terhadap 27.000 pekerja dan 1.225 perusahaan di 35 negara, sebanyak 4 dari 5 pekerja percaya bahwa AI akan memengaruhi tugas harian mereka di tempat kerja.

Fenomena ini terjadi bersamaan dengan tekanan ekonomi global, termasuk meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor teknologi.

Perusahaan Antusias, Pekerja Tetap Waspada

Menariknya, meskipun pekerja menyadari potensi AI, sebagian dari mereka tetap bersikap skeptis terhadap motivasi perusahaan dalam mengadopsi teknologi tersebut.

CEO Randstad, Sander van ’t Noordende, mengatakan antusiasme terhadap AI sering kali dibarengi kekhawatiran tersembunyi.
Ia menjelaskan, “Yang umumnya kami lihat di kalangan karyawan adalah mereka antusias dengan AI… tetapi mereka mungkin juga skeptis dalam artian bahwa perusahaan menginginkan apa yang selalu diinginkan perusahaan, mereka ingin menghemat biaya dan meningkatkan efisiensi,” ujarnya mengutip Reuters.

Kutipan tersebut mencerminkan kekhawatiran yang cukup luas di kalangan pekerja. Hampir 50% responden percaya teknologi AI akan lebih banyak menguntungkan perusahaan dibandingkan pekerja.

Dengan kata lain, AI dipandang sebagai alat efisiensi yang berpotensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia.

Baby Boomer Justru Paling Percaya Diri

Temuan lain yang menarik adalah perbedaan persepsi antar generasi. Kelompok Baby Boomer, yang lahir sebelum 1965, justru menjadi generasi yang paling tidak khawatir terhadap perkembangan AI.

Ada beberapa kemungkinan alasan, pertama, banyak dari mereka sudah mendekati masa pensiun sehingga tidak terlalu terdampak perubahan teknologi.

Kedua, pengalaman menghadapi berbagai gelombang revolusi teknologi sebelumnya membuat mereka lebih percaya diri dalam menghadapi perubahan.

Sebaliknya, bagi Gen Z yang baru memasuki dunia kerja, perubahan teknologi terasa jauh lebih mengancam.

Ketimpangan Optimisme antara Perusahaan dan Pekerja

Laporan Randstad juga menemukan adanya kesenjangan optimisme antara perusahaan dan pekerja. Sebanyak 95% perusahaan memperkirakan bisnis mereka akan tumbuh pada tahun ini.

Namun hanya 51% pekerja yang memiliki keyakinan serupa. Perbedaan persepsi ini menunjukkan bahwa transformasi digital tidak hanya menciptakan tantangan teknologi, tetapi juga tantangan psikologis di dunia kerja.

Bagi perusahaan, AI adalah alat produktivitas.
Namun bagi banyak pekerja, AI bisa menjadi simbol ketidakpastian masa depan.

AI: Ancaman atau Peluang?

Meski menimbulkan kekhawatiran, banyak ekonom menilai AI pada akhirnya akan menciptakan peluang kerja baru.
Beberapa riset global memperkirakan AI dapat menggantikan pekerjaan rutin, tetapi juga akan membuka lapangan kerja baru di bidang seperti engineering AI, data science, keamanan siber, analitik data dan desain sistem otomatisasi Namun proses transisi tersebut tidak selalu berjalan mulus.

Tanpa reskilling dan upskilling, banyak pekerja berpotensi tertinggal. Karena itu, para pakar menilai pemerintah, dunia pendidikan, dan perusahaan perlu bekerja sama mempersiapkan tenaga kerja menghadapi ekonomi berbasis AI. Jika tidak, kesenjangan keterampilan akan semakin melebar.


Digionary:

● Artificial Intelligence (AI) – Teknologi kecerdasan buatan yang memungkinkan mesin melakukan tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia.
● Agen AI – Sistem atau perangkat lunak berbasis AI yang mampu menjalankan tugas tertentu secara otomatis.
● Automatisasi – Penggunaan teknologi untuk menjalankan proses tanpa campur tangan manusia secara langsung.
● Baby Boomer – Generasi yang lahir antara 1946 hingga 1964.
● Chatbot AI – Program komputer berbasis AI yang dapat berinteraksi dengan manusia melalui percakapan digital.
● Gen Z – Generasi yang lahir sekitar 1997 hingga 2012.
● Machine Learning – Cabang AI yang memungkinkan sistem belajar dari data tanpa diprogram secara eksplisit.
● Reskilling – Proses mempelajari keterampilan baru untuk beradaptasi dengan perubahan pekerjaan.
● Upskilling – Peningkatan kemampuan atau keterampilan yang sudah dimiliki agar lebih relevan dengan kebutuhan industri.
● Workmonitor – Laporan tahunan Randstad yang mengkaji tren global di dunia kerja.

#ArtificialIntelligence #AIRevolution #FutureOfWork #GenZ #BabyBoomer #TeknologiAI #PasarKerjaGlobal #TransformasiDigital #AIWorkforce #AIJobs #MachineLearning #DigitalEconomy #Otomatisasi #TeknologiMasaDepan #Reskilling #Upskilling #WorkforceTrends #AIImpact #FutureJobs #TechEconomy

Comments are closed.