CEO OpenAI Sam Altman menyatakan era Artificial General Intelligence (AGI)—AI dengan kecerdasan setara manusia—sudah semakin dekat. Bahkan, ia memperkirakan kemunculan Artificial Superintelligence (ASI) atau “kecerdasan level dewa” tak terpaut jauh. Pernyataan ini menandai fase baru perlombaan AI global yang berpotensi mengubah ekonomi, pasar kerja, dan peradaban manusia secara fundamental.
Fokus:
■ Sam Altman menyebut kecerdasan AI setara manusia bukan lagi wacana jangka panjang, melainkan target yang hampir tercapai.
■ Setelah AGI, Artificial Superintelligence diprediksi muncul lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
■ AI berpotensi memengaruhi hingga 40% pekerjaan global, menciptakan peluang sekaligus risiko disrupsi besar.
Enam tahun lalu, gagasan tentang mesin yang mampu melakukan riset ilmiah mandiri, menulis kode kompleks tanpa kesalahan berarti, atau memberi nasihat hukum seperti pengacara senior terdengar seperti adegan film fiksi ilmiah. Hari ini, skenario itu bukan lagi fantasi.

CEO OpenAI, Sam Altman, secara terbuka menyatakan bahwa Artificial General Intelligence (AGI) sudah semakin dekat dengan kenyataan. “AGI terasa sudah cukup dekat pada titik ini,” ujar Altman dalam forum diskusi di sela KTT India-AI Impact 2026.
CEO OpenAI Sam Altman menyebut era AGI sudah dekat dan superintelijen tak terpaut jauh. Dunia bersiap menghadapi revolusi AI terbesar dalam sejarah.
Pernyataan itu bukan sekadar optimisme korporasi. Dalam beberapa tahun terakhir, model AI berkembang dari sekadar mesin peringkas teks menjadi sistem yang mampu menulis program kompleks, menganalisis data medis, hingga membantu riset ilmiah. Beberapa model bahkan mulai menunjukkan kemampuan penalaran yang melampaui ekspektasi awal para pengembangnya.
Apa Itu AGI dan Mengapa Dunia Resah?
Berbeda dengan AI saat ini yang umumnya bersifat spesifik—unggul dalam satu tugas tertentu—AGI adalah sistem dengan kecerdasan umum setara manusia. Ia dapat belajar mandiri, memahami konteks lintas disiplin, serta memecahkan masalah baru tanpa pelatihan khusus untuk setiap skenario.
Dalam dunia teknologi, AGI kerap disebut sebagai “holy grail”—tujuan akhir yang selama puluhan tahun dikejar para ilmuwan komputer. Namun bagi banyak ekonom dan pembuat kebijakan, AGI juga berarti potensi disrupsi besar. Laporan lembaga konsultan global McKinsey memperkirakan otomatisasi berbasis AI dapat memengaruhi hingga 30% jam kerja global sebelum 2030. Sementara Goldman Sachs pernah mengestimasi sekitar 300 juta pekerjaan di dunia berpotensi terdampak otomatisasi generatif AI.
Di sisi lain, IMF dalam laporan 2025 menyebut sekitar 40% pekerjaan global akan terpengaruh AI—baik digantikan maupun ditingkatkan produktivitasnya.
Setelah AGI, Datanglah ASI
Yang lebih mengejutkan, Altman tidak berhenti pada AGI. Ia juga menyinggung Artificial Superintelligence (ASI)—tingkatan kecerdasan yang melampaui manusia paling jenius sekalipun. “Mengingat apa yang sekarang saya perkirakan sebagai fase takeoff yang lebih cepat, saya rasa superintelijen tidak terlalu jauh,” tegasnya.
Jika AGI setara manusia, ASI berada jauh di atasnya. Ia digambarkan sebagai entitas yang mampu menguasai hampir semua bidang ilmu, dari fisika kuantum hingga strategi geopolitik, dalam waktu yang nyaris instan.
Prediksi ini muncul di tengah persaingan sengit antara Amerika Serikat dan China dalam pengembangan AI. Perusahaan-perusahaan seperti Google DeepMind, Anthropic, hingga raksasa teknologi China berlomba mempercepat riset model bahasa dan sistem AI generasi berikutnya.
Fase “Takeoff” yang Lebih Cepat
Altman menyinggung fase “takeoff”—titik ketika kemajuan AI melesat secara eksponensial. Jika sebelumnya banyak pakar memperkirakan AGI masih satu atau dua dekade lagi, kini garis waktunya tampak menyempit.
Perkembangan komputasi, peningkatan kapasitas GPU, serta lonjakan investasi miliaran dolar dalam riset AI mempercepat laju inovasi. Nvidia, misalnya, mencatat lonjakan kapitalisasi pasar yang mencerminkan besarnya kebutuhan infrastruktur AI global.
Namun percepatan ini juga memunculkan kekhawatiran. Regulasi AI di berbagai negara masih tertinggal dari kecepatan inovasi. Uni Eropa telah mengesahkan AI Act, sementara AS dan China masih menyempurnakan kerangka pengawasan.
Pertanyaannya bukan lagi apakah AGI akan hadir, melainkan kapan—dan seberapa siap manusia menghadapinya.
Disrupsi atau Evolusi?
Sejarah menunjukkan setiap revolusi teknologi—dari mesin uap hingga internet—membawa gejolak sekaligus peluang. AI kemungkinan besar mengikuti pola yang sama.
Bagi dunia bisnis, AGI dapat meningkatkan efisiensi dan inovasi secara drastis. Di sektor kesehatan, ia berpotensi mempercepat penemuan obat. Dalam pendidikan, pembelajaran bisa menjadi sangat personal dan adaptif.
Namun tanpa tata kelola yang matang, risiko penyalahgunaan, ketimpangan ekonomi, hingga ancaman keamanan siber bisa meningkat.
Altman tampak optimistis. Tetapi dunia kini memasuki fase di mana optimisme harus berjalan berdampingan dengan kewaspadaan.
Foto: Quartz
Digionary:
● AGI (Artificial General Intelligence): AI dengan kecerdasan umum setara manusia yang mampu belajar dan berpikir lintas bidang.
● ASI (Artificial Superintelligence): AI dengan kecerdasan jauh melampaui manusia di hampir semua disiplin ilmu.
● Generative AI: Sistem AI yang mampu menghasilkan teks, gambar, kode, atau konten baru.
● Takeoff: Fase percepatan eksponensial perkembangan teknologi AI.
● Otomatisasi: Penggantian atau peningkatan pekerjaan manusia oleh mesin atau sistem digital.
● Model Bahasa: Sistem AI yang dilatih memahami dan menghasilkan bahasa manusia.
● Disrupsi Teknologi: Perubahan besar akibat inovasi yang menggeser sistem lama.
#AI #AGI #ArtificialIntelligence #OpenAI #SamAltman #Superintelligence #Teknologi #RevolusiDigital #FutureOfWork #DisrupsiTeknologi #Inovasi #MachineLearning #DeepLearning #EkonomiDigital #TransformasiDigital #RegulasiAI #Otomatisasi #TeknoGlobal #InvestasiTeknologi #MasaDepan
