Bukan Sekadar Chatbot: AT&T Bidik ROI Dua Kali Lipat Lewat Revolusi Agentic AI

- 30 Januari 2026 - 20:19

Raksasa telekomunikasi AS, AT&T, melakukan lompatan kuantum dari ekonomi informasi menuju “ekonomi aksi” dengan mengadopsi agentic AI secara menyeluruh di seluruh lini bisnisnya. Melalui pengembangan asisten otonom yang mampu merencanakan dan mengeksekusi tugas kompleks secara mandiri—mulai dari membasmi panggilan spam hingga memulihkan jaringan yang terputus—AT&T memproyeksikan pengembalian investasi (ROI) sebesar dua kali lipat, sekaligus memposisikan teknologi ini sebagai “rekan kerja” baru bagi ribuan karyawannya.


Fokus:

■ ​Pergeseran dari Generasi ke Aksi: AT&T tidak lagi hanya menggunakan AI untuk membuat konten (Gen AI), tetapi beralih ke agentic AI yang mampu mengambil keputusan dan menyelesaikan alur kerja ujung-ke-ujung (end-to-end).
■ ​Penerapan Multi-Sektor: Implementasi teknologi ini mencakup “resepsionis digital” untuk melawan penipuan siber, otomatisasi layanan pelanggan, hingga asisten teknis bagi insinyur jaringan untuk perbaikan instan.
■ ​Efisiensi dan ROI Terukur: Setiap penggunaan AI di AT&T wajib memiliki dasar bisnis formal yang terikat dengan kantor CFO, dengan target ROI minimal dua kali lipat dari nilai investasi awal.


​AT&T resmi beralih ke Agentic AI! Simak bagaimana raksasa telekomunikasi ini menggunakan asisten otonom untuk membasmi spam dan memulihkan jaringan secara otomatis.


Bagi AT&T, kecerdasan buatan (AI) bukanlah barang baru. Namun, perusahaan telekomunikasi raksasa asal Amerika Serikat ini baru saja menaikkan taruhannya. Jika selama ini AI hanya digunakan untuk sekadar analisis data atau asisten suara, kini AT&T resmi masuk ke fase yang mereka sebut sebagai “ekonomi aksi” melalui agentic AI.

​Andy Markus, Chief Data and AI Officer AT&T, menegaskan bahwa perusahaan kini berkomitmen penuh pada agen AI—atau yang mereka lebih suka sebut sebagai asisten otonom. Berbeda dengan AI generatif biasa yang hanya mampu memproduksi teks, agen-agen ini memiliki kemampuan untuk merencanakan dan mengeksekusi tugas dari awal hingga tuntas.

​”Tidak ada satu orang pun di seluruh AT&T yang tidak terdampak oleh hal ini,” ujar Markus. Seperti dikutip dari cio.com. Menurutnya, agen-agen ini menggabungkan pemahaman tujuan, perencanaan multi-langkah, dan orkestrasi alat ke dalam satu paket solusi mandiri.

​Garda Terdepan Melawan ‘Spam’ dan Kerusakan Jaringan

Salah satu implementasi nyata yang telah berjalan sejak September lalu adalah “Resepsionis Digital”. Ini bukan sekadar filter spam biasa. Agen AI ini mampu berinteraksi langsung dengan penelepon mencurigakan untuk menentukan apakah mereka adalah penipu. Hebatnya, pelanggan bisa memantau transkrip percakapan tersebut secara langsung dan mengambil alih panggilan kapan saja.

​Di sisi internal, AT&T memperkenalkan Ask AT&T Workflows hasil kolaborasi dengan Microsoft. Platform ini memungkinkan tim internal membangun agen AI hanya dengan metode drag-and-drop. Hasilnya? Proses sinkronisasi data pelanggan dan pembaruan sistem yang dulunya memakan waktu lama, kini terjadi secara real-time.

​Bagi para insinyur jaringan, teknologi ini adalah penyelamat. Saat terjadi gangguan jaringan, agen AI mampu mengorelasikan data telemetri, memeriksa catatan perubahan terbaru, mengidentifikasi masalah, bahkan menulis kode untuk memperbaiki patch sistem. “Agen-agen ini mampu membuat keputusan di seluruh proses alur kerja. Di situlah agentic AI bersinar,” tambah Markus.

​Akurasi di Atas Segalanya

Meskipun otonom, AT&T tetap mengedepankan kontrol manusia. Setiap tindakan agen dicatat dan diawasi melalui pos-pos pemeriksaan manusia (human checkpoints). Markus menjelaskan bahwa mereka lebih memilih menggunakan Small Language Models (SLM) yang telah disesuaikan (fine-tuned) untuk tugas-tugas spesifik karena tingkat akurasinya yang lebih tinggi dibandingkan model besar yang umum.

​Secara finansial, strategi ini bukan sekadar gaya-gayaan teknologi. Setiap kasus penggunaan dipantau langsung oleh kantor CFO dengan target pengembalian investasi (ROI) sebesar 200%. “Kasus-kasus penggunaan tersebutlah yang mendorong nilai, dan nilai tersebut adalah pengembalian investasi dua kali lipat,” kata Markus optimistis.

​Kini, dengan ratusan proposal penggunaan yang mengantre, AT&T tampaknya telah berhasil mengubah ketakutan akan AI menjadi antusiasme bisnis. Di tangan mereka, AI bukan lagi sekadar alat pencari informasi, melainkan mesin eksekusi yang nyata.


​Digionary:

​● Agentic AI: Sistem AI yang tidak hanya merespons perintah, tetapi memiliki otonomi untuk merencanakan dan menjalankan rangkaian tugas guna mencapai tujuan tertentu.
● Cloud Computing: Teknologi yang memungkinkan penyimpanan dan pengolahan data di server internet daripada di perangkat fisik lokal.
● Economy of Action (Ekonomi Aksi): Fase di mana AI beralih dari sekadar memberikan informasi menjadi melakukan tindakan atau eksekusi tugas secara nyata.
● Fine-Tuning: Proses melatih kembali model AI yang sudah ada dengan data spesifik agar lebih akurat dalam menjalankan tugas tertentu.
● ROI (Return on Investment): Rasio finansial yang digunakan untuk mengukur efisiensi atau profitabilitas dari suatu investasi.
● Small Language Model (SLM): Model AI dengan parameter lebih kecil yang dirancang untuk efisiensi tinggi dan tugas-tugas yang lebih spesifik.
● Spam: Panggilan atau pesan elektronik yang tidak diinginkan dan dikirimkan secara massal, seringkali bersifat penipuan.

#AT&T #AgenticAI #KecerdasanBuatan #TeknologiTelekomunikasi #InovasiDigital #AIIndonesia #EkonomiAksi #Otomatisasi #MicrosoftAzure #SmartAnswers #StrategiIT #DigitalTransformation #MasaDepanAI #CloudComputing #JaringanTelekomunikasi #CyberSecurity #DataScience #ManajemenBisnis #TechNews #ROI

Comments are closed.