Tahun 2026 diprediksi menjadi titik balik dunia keamanan siber global. Lonjakan adopsi AI tanpa pagar pengaman, perubahan arah regulasi, pergeseran model asuransi siber, krisis pengelolaan kerentanan software, hingga serangan yang kini menargetkan kelumpuhan operasional bisnis, memaksa perusahaan dan pemerintah memikirkan ulang arti “ketahanan siber”. Ancaman bukan lagi sekadar pencurian data, tetapi penghentian operasi bisnis secara total.
Fokus:
■ AI menjadi risiko siber terbesar karena adopsi melampaui kesiapan tata kelola.
■ Regulasi dan asuransi siber berubah, memaksa perusahaan menaikkan standar keamanan.
■ Serangan siber kini bertujuan menghentikan operasional bisnis dan rantai pasok.
Selama bertahun-tahun, perusahaan takut data mereka dicuri. Mulai 2026, ketakutannya berubah: bisnis bisa berhenti total. Inilah perubahan besar lanskap keamanan siber global ketika AI diadopsi tanpa pagar pengaman, regulasi berubah arah, perusahaan asuransi memperketat syarat, dan kelompok peretas tak lagi memburu data—melainkan melumpuhkan operasi.
Sepanjang 2025, dunia keamanan siber mengalami tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bukan karena teknik peretasan yang sepenuhnya baru, tetapi karena perubahan cara perusahaan bekerja. Artificial Intelligence diadopsi masif di hampir semua sektor—sering kali lebih cepat daripada kesiapan sistem pengamanannya.
Morgan Adamski dari PwC menyebut fenomena ini sebagai jurang berbahaya. “Ada kesenjangan antara seberapa cepat organisasi mengadopsi AI dan kematangan kerangka tata kelolanya. Banyak yang bereksperimen dengan agentic dan generative AI untuk produktivitas, tetapi sering kali tanpa guardrails dari sisi keamanan.”
Laporan Allianz Commercial pada Januari menunjukkan lonjakan drastis: risiko AI melonjak dari peringkat 10 menjadi risiko bisnis terbesar kedua di dunia hanya dalam setahun, berdasarkan survei terhadap lebih dari 3.300 profesional manajemen risiko global. Artinya, AI kini bukan hanya alat produktivitas, tetapi pintu baru bagi kebocoran data, manipulasi sistem, hingga eksploitasi rantai pasok.
Regulasi Tak Lagi Sekadar Menghukum Korban
Perubahan besar juga datang dari sisi regulasi. Pemerintah AS menggeser pendekatan pengawasan siber. Tidak lagi agresif menghukum perusahaan yang menjadi korban serangan canggih, tetapi menekankan transparansi pelaporan pasca-insiden.
Tahun 2026 membawa perubahan besar keamanan siber global: AI tanpa guardrails, regulasi bergeser, asuransi makin ketat, dan serangan kini menargetkan kelumpuhan operasional bisnis.
Kasus SolarWinds menjadi penanda penting. Gugatan SEC terhadap SolarWinds dibatalkan pada November 2025. Pengadilan menilai regulator keliru menerapkan hukum lama untuk menilai kegagalan kontrol keamanan modern. Sagar Ravi, mantan jaksa kejahatan siber federal AS, menilai ini sebagai sinyal penting. “Saya pikir fokusnya akan pada penegakan aturan keterbukaan insiden siber dalam laporan material, bukan mengadili keputusan sebelum insiden terjadi.”
Arah baru ini memberi pesan: perusahaan tidak dihukum karena diserang, tetapi karena tidak transparan setelah diserang.
Asuransi Siber Tak Lagi Murah dan Mudah
Industri asuransi siber juga memasuki fase baru. Jika dulu cukup antivirus dan firewall untuk mendapat perlindungan, kini syaratnya jauh lebih ketat. Monica Shokrai dari Google Cloud menjelaskan, “Belum lama ini, Anda bisa mendapat asuransi siber dengan antivirus dan firewall. Hari ini, jika Anda tidak punya phishing-resistant MFA, XDR, dan immutable backup, Anda bukan hanya membayar lebih mahal. Anda mungkin tidak mendapat perlindungan sama sekali.”
Perusahaan asuransi mulai mempertanyakan keberlanjutan premi saat ini, terutama karena ketergantungan besar pada pasar korporasi AS. Diversifikasi ke UKM dan pasar baru menjadi strategi berikutnya.
Krisis CVE dan Masalah Tambal Sulam yang Tak Pernah Selesai
Dunia keamanan siber sempat panik ketika pendanaan program CVE (Common Vulnerabilities and Exposures) hampir dihentikan pada April 2025. Program ini adalah fondasi global identifikasi kerentanan software. CISA akhirnya turun tangan dan menjamin dukungan lanjutan. Namun, krisis ini membuka mata industri: sekadar mengetahui ada celah keamanan tidak cukup.
Brian Fox dari Sonatype menegaskan, “Organisasi butuh intelijen kontekstual di atas data CVE—apakah celah ini benar-benar bisa dieksploitasi, seberapa luas dampaknya, dan apakah ada jalur upgrade yang aman.” Masalahnya bukan lagi kurang data kerentanan, tetapi terlalu banyak—tanpa prioritas yang jelas.
Target Baru Peretas: Melumpuhkan Operasi
Inilah perubahan paling mengkhawatirkan. Pada 2025, sejumlah serangan besar menunjukkan pola baru, dimana bukan mencuri data, tetapi menghentikan bisnis. Serangan terhadap Marks & Spencer di Inggris, United Natural Foods, dan Jaguar Land Rover memperlihatkan bagaimana serangan siber mampu melumpuhkan produksi dan rantai pasok.
Sam Rubin dari Palo Alto Networks menyebut ini perubahan mendasar taktik peretas. “Kelompok seperti Muddled Libra (Scattered Spider) bergerak dari pencurian data ke sabotase operasional yang disengaja. Dengan teknik vishing dan manipulasi help desk, mereka bisa melumpuhkan jaringan perusahaan sepenuhnya.”
Dewan direksi dan eksekutif kini dipaksa memandang keamanan siber bukan sebagai isu IT, tetapi isu kelangsungan bisnis. Istilah yang paling sering muncul memasuki 2026 bukan lagi cybersecurity, tetapi operational resilience.
Digionary:
● Agentic AI: AI yang dapat bertindak otonom menjalankan tugas tanpa intervensi manusia
● CASA: Dana murah bank (giro dan tabungan) — istilah pembanding likuiditas dalam konteks risiko finansial siber
● CVE: Daftar global kerentanan software yang terdokumentasi resmi
● Guardrails: Pagar pengaman tata kelola dan keamanan teknologi
● Immutable backup: Cadangan data yang tidak bisa diubah atau dihapus oleh peretas
● Laporan material: Laporan insiden penting yang wajib diungkap ke publik/investor
● MFA phishing-resistant: Autentikasi berlapis yang tahan terhadap serangan phishing
● Operational resilience: Kemampuan bisnis tetap berjalan meski terjadi serangan siber
● Vishing: Voice phishing melalui telepon untuk menipu korban
● XDR: Extended Detection and Response, sistem deteksi ancaman terpadu
#CyberSecurity #AIrisk #OperationalResilience #CyberAttack #DataBreach #CyberInsurance #CVE #AIgovernance #Phishing #Vishing #XDR #MFA #RegulasiSiber #ManajemenRisiko #KeamananDigital #SupplyChain #Ransomware #Teknologi #KeamananIT #BisnisDigital
