AI Mengubah Segalanya, Deloitte Ubah Seluruh Gelar Jabatan Karyawan di AS

- 22 Januari 2026 - 18:48

Deloitte melakukan perombakan besar terhadap sistem jabatan karyawan di Amerika Serikat, termasuk memperkenalkan peran baru bernama “leader”. Langkah ini mencerminkan tekanan nyata disrupsi AI terhadap industri konsultansi global, yang menuntut model talenta lebih fleksibel, spesifik, dan relevan dengan kebutuhan klien masa depan.


Fokus:

■ AI memaksa firma global seperti Deloitte mengubah struktur SDM agar tetap relevan dengan kebutuhan klien dan pasar.
■ Gelar kerja dibuat lebih spesifik dan mencerminkan keahlian nyata, bukan sekadar hierarki tradisional.
■ Perombakan jabatan menjadi bagian dari strategi inti untuk menjaga daya saing jangka panjang.



Di tengah gelombang disrupsi artificial intelligence yang mengubah wajah industri konsultansi global, Deloitte memilih langkah radikal: bukan sekadar mengubah cara kerja, tetapi juga mendefinisikan ulang identitas para profesionalnya—hingga ke level gelar jabatan.



Deloitte, salah satu dari empat firma akuntansi dan konsultansi terbesar dunia, resmi mengumumkan perombakan menyeluruh terhadap sistem jabatan karyawan di Amerika Serikat. Seluruh profesional Deloitte AS akan menerima gelar jabatan baru mulai 1 Juni 2026, setelah pemberitahuan resmi disampaikan kepada karyawan pada 29 Januari 2026

“Seluruh profesional akan menerima gelar jabatan baru yang mulai kami gunakan, baik secara internal maupun eksternal, pada 1 Juni 2026,” demikian isi presentasi internal Deloitte yang dibagikan kepada karyawan mengutip businessinsider.com.

Perubahan ini berlaku untuk seluruh divisi Deloitte di AS, tidak terbatas pada unit konsultansi. Hingga 31 Mei 2025, Deloitte tercatat mempekerjakan sekitar 181.500 karyawan di Amerika Serikat.

Selain pembaruan gelar, Deloitte juga memperkenalkan kategori kepemimpinan baru bernama “leader”, yang akan bergabung dengan jajaran paling senior perusahaan bersama partner, principal, dan managing director (PPMD).

Deloitte merombak jabatan karyawan di AS dan memperkenalkan peran “leader” sebagai respons atas disrupsi AI di industri konsultansi global.

Seorang juru bicara Deloitte menjelaskan, “Kami sedang memodernisasi arsitektur talenta untuk menghadirkan pengalaman yang lebih sesuai dengan beragam keahlian para profesional kami serta jenis pekerjaan yang mereka lakukan.”

Langkah ini bukan sekadar penyesuaian administratif. Deloitte secara terbuka mengakui bahwa struktur talenta lama dirancang untuk profil konsultan tradisional—model yang kini dianggap tidak lagi relevan. Dalam presentasi internalnya, Deloitte menyebut arsitektur SDM saat ini sudah “tidak lagi mampu mendukung bisnis Deloitte di masa depan”.

Industri konsultansi global tengah menghadapi perubahan struktural akibat AI. Teknologi ini bukan hanya menggantikan pekerjaan analitis dasar, tetapi juga mengubah model bisnis, struktur biaya, hingga ekspektasi klien. Konsultan kini dituntut memiliki keahlian yang jauh lebih spesifik, mulai dari rekayasa perangkat lunak, transformasi digital, hingga manajemen proyek kompleks berbasis teknologi.

Dalam sistem baru, jabatan generik seperti “senior consultant” akan dipecah menjadi peran yang lebih presisi, misalnya “senior consultant, functional transformation”, “software engineer III”, atau “project management senior consultant”. Setiap karyawan juga akan diberi kode level alfanumerik internal—seperti L45 atau L55—untuk memperjelas posisi dan jenjang karier.

Deloitte menegaskan, meski gelar jabatan berubah, pekerjaan sehari-hari, struktur kepemimpinan, serta filosofi kompensasi perusahaan tetap tidak berubah. Tujuan utama perombakan ini adalah menciptakan kejelasan peran, konsistensi pengalaman kerja, serta relevansi pasar yang lebih kuat.

Bagi industri jasa profesional global—termasuk di Indonesia—langkah Deloitte menjadi sinyal kuat bahwa era konsultan serba bisa mulai ditinggalkan. Di masa depan, nilai seorang profesional tidak lagi ditentukan oleh gelarnya, melainkan oleh keahlian spesifik yang mampu menjawab kebutuhan klien di tengah percepatan teknologi.


Digionary:

● Artificial Intelligence (AI): Teknologi yang memungkinkan sistem komputer meniru kemampuan berpikir manusia.
● Arsitektur talenta: Struktur pengelolaan peran, jabatan, dan pengembangan SDM dalam organisasi.
● Industri konsultansi: Industri jasa profesional yang menyediakan layanan nasihat strategis dan teknis.
● Job family: Kelompok peran kerja dengan fungsi dan kompetensi serupa.
● Managing director: Jabatan eksekutif senior di firma konsultansi global.
● PPMD: Singkatan dari partner, principal, dan managing director.
● Transformasi SDM: Perubahan sistem pengelolaan tenaga kerja agar selaras dengan kebutuhan bisnis masa depan.

#Deloitte #ArtificialIntelligence #IndustriKonsultansi #TransformasiSDM #FutureOfWork #BigFour #EkonomiDigital #HumanCapital #Leadership #TalentStrategy #AIImpact #ConsultingFirm #GlobalBusiness #ProfesionalJasa #DigitalTransformation #WorkforceChange #StrategiBisnis #TeknologiDanSDM #KonsultanGlobal #InovasiSDM

Comments are closed.