Belanja AI Dunia Melonjak Triliunan Dolar, Era Ekonomi Digital Masuk Fase Penentuan

- 20 Januari 2026 - 22:36

Belanja global untuk kecerdasan buatan diproyeksikan melonjak tajam hingga mencapai US$2,53 triliun pada 2026 dan US$3,33 triliun pada 2027, didorong kebutuhan masif akan infrastruktur, chip, dan pusat data. Di balik optimisme transformasi ekonomi digital, muncul pula kekhawatiran akan euforia berlebihan ala dot-com bubble. Bagi negara seperti Indonesia, lonjakan investasi AI global menjadi peluang strategis sekaligus peringatan penting untuk membangun fondasi teknologi, talenta, dan tata kelola yang matang.


Fokus:

■ Belanja AI global diproyeksikan melonjak hingga US$3,33 triliun pada 2027, dengan infrastruktur menjadi sasaran utama investasi.
■ Permintaan chip dan pusat data masih sangat kuat, meski muncul kekhawatiran pasar memasuki fase penurunan ekspektasi.
■ Bagi Indonesia, tren ini menjadi peluang strategis sekaligus alarm untuk mempercepat pengembangan talenta dan ekosistem AI.


Belanja global AI diproyeksikan tembus US$3,33 triliun pada 2027. Di balik euforia investasi, muncul tantangan dan peluang besar bagi ekonomi digital Indonesia.


Wall Street boleh berdebat soal apakah kecerdasan buatan tengah membentuk gelembung baru atau justru fondasi ekonomi masa depan. Namun satu hal kian sulit dibantah: dunia sedang menggelontorkan dana dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk AI. Triliunan dolar mengalir ke chip, server, dan pusat data, menandai babak baru pertaruhan global dalam ekonomi digital

Perdebatan mengenai belanja kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terus mengemuka di awal 2026. Kelompok optimistis melihat AI masih berada di fase awal transformasi besar, sementara pihak skeptis mengingatkan risiko euforia yang mengulang sejarah gelembung dot-com dua dekade lalu.

Namun data terbaru menunjukkan arus investasi belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Menurut proyeksi firma riset teknologi Gartner, belanja global untuk AI diperkirakan mencapai US$2,53 triliun pada 2026 dan melonjak menjadi US$3,33 triliun pada 2027. Angka ini menegaskan bahwa, setidaknya dalam dua tahun ke depan, perusahaan di seluruh dunia masih akan “habis-habisan” membangun masa depan berbasis AI.

Porsi terbesar belanja tersebut tersedot ke infrastruktur AI. Gartner memperkirakan perusahaan akan mengucurkan US$1,36 triliun pada 2026 dan US$1,75 triliun pada 2027 untuk membangun tulang punggung AI—mulai dari pusat data, server berperforma tinggi, hingga chip khusus pemrosesan AI.

Gambaran agresivitas belanja ini tercermin dari pernyataan para raksasa teknologi. Pada Oktober lalu, CEO Nvidia Jensen Huang menyebut perusahaannya berpeluang menjual GPU senilai US$500 miliar hingga akhir 2026, seiring melonjaknya permintaan komputasi AI. Sementara itu, CEO Advanced Micro Devices (AMD) Lisa Su memperkirakan pasar pusat data AI saja dapat bernilai US$1 triliun pada 2030.

Di balik angka-angka fantastis tersebut, Gartner menilai belanja AI saat ini masih memiliki basis permintaan yang kuat. Wakil Presiden dan Distinguished Analyst Gartner, John-David Lovelock, menegaskan bahwa kekhawatiran soal pemborosan belum sepenuhnya relevan.
“Tidak ada masalah dengan belanja ini,” kata Lovelock kepada Yahoo Finance.

Ia menjelaskan bahwa produsen chip AI telah kehabisan stok untuk 18 hingga 24 bulan ke depan, kondisi yang juga dialami produsen server. Permintaan bahkan digambarkan masih sangat agresif.
“Kami masih melihat surat-surat permintaan, semacam ‘tolong jualkan kami perangkat Anda’. Kami tidak melihat perlambatan di sektor pusat data,” ujar Lovelock.

Belanja AI pun tidak hanya berhenti pada perangkat keras. Perusahaan juga terus mengalirkan dana ke pengembangan perangkat lunak, model AI, dan data science, memperluas spektrum investasi dari sekadar infrastruktur ke pemanfaatan nyata dalam bisnis.

Meski demikian, Gartner mengingatkan bahwa pasar AI berpotensi memasuki fase yang disebut trough of disillusionment—titik dalam siklus hype ketika ekspektasi mulai berhadapan dengan realitas. Jika teknologi tidak segera memenuhi janji awalnya, sebagian perusahaan bisa menahan atau meninjau ulang belanja mereka, seperti yang pernah terjadi pada tren virtual reality dan metaverse.

Bagi Indonesia, lonjakan belanja AI global ini bersifat strategis. Hingga 2025, tingkat adopsi AI di Indonesia baru mencapai 27,34%, dengan pemanfaatan terbesar datang dari generasi muda untuk pendidikan dan peningkatan produktivitas. Di sisi lain, pemerintah memperkirakan kebutuhan 600.000 talenta digital per tahun untuk mengejar target 9 juta talenta digital pada 2030.

Artinya, di tengah derasnya arus investasi global, Indonesia menghadapi dua tantangan besar sekaligus: mengejar ketertinggalan adopsi teknologi dan memastikan kesiapan sumber daya manusia. Tanpa fondasi talenta, infrastruktur, dan tata kelola yang kuat, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar, bukan pemain, dalam ekonomi AI global.


Digionary:

● Artificial Intelligence (AI): Teknologi yang memungkinkan mesin meniru kecerdasan manusia.
● Chip AI: Prosesor khusus untuk komputasi kecerdasan buatan.
● Data Center: Fasilitas penyimpanan dan pemrosesan data skala besar.
● Dot-com Bubble: Gelembung ekonomi akibat euforia internet akhir 1990-an.
● GPU: Unit pemrosesan grafis yang krusial untuk komputasi AI.
● Infrastruktur AI: Perangkat keras dan sistem pendukung pengembangan AI.
● Metaverse: Dunia virtual berbasis teknologi digital
● Trough of Disillusionment: Fase turunnya ekspektasi dalam siklus hype teknologi.

#ArtificialIntelligence #EkonomiDigital #InvestasiAI #TeknologiGlobal #DataCenter #ChipAI #DigitalTransformation #AIInfrastructure #TalentaDigital #IndonesiaDigital #WallStreet #Gartner #Nvidia #AMD #FutureEconomy #TechInvestment #AITrends #DigitalEconomy #Innovation #GlobalTech

Comments are closed.