Pameran teknologi CES 2026 di Las Vegas mengirim pesan geopolitik yang kuat: China tidak hanya bersaing di kecerdasan buatan berbasis perangkat lunak, tetapi telah lebih dulu mengintegrasikan AI ke berbagai produk fisik—dari robot humanoid, mobil, hingga perangkat rumah tangga. Pendekatan ini memperlihatkan keunggulan strategis China dalam menggabungkan AI, manufaktur, dan skala industri, sekaligus menandai babak baru persaingan teknologi global yang dampaknya akan terasa hingga ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Fokus Utama:
■ China mengintegrasikan AI ke produk fisik, bukan hanya perangkat lunak.
■ CES 2026 menegaskan pergeseran rivalitas AI dari chatbot ke dunia nyata.
■ Negara berkembang menghadapi tantangan dan peluang baru dalam ekosistem AI global.
Di balik sorotan pidato utama dan peluncuran produk futuristik di CES 2026, sebuah pesan strategis mengemuka dengan jelas: China tengah memenangkan satu bab penting dalam perlombaan kecerdasan buatan global. Jika Amerika Serikat unggul dalam chatbot dan model bahasa besar, China justru melangkah lebih jauh—menanamkan AI langsung ke benda-benda fisik yang digunakan manusia setiap hari.
Pameran Consumer Electronics Show (CES) di Las Vegas awal Januari ini tak hanya menjadi etalase teknologi mutakhir, tetapi juga panggung geopolitik. Perusahaan-perusahaan China tampil dominan dengan ragam produk berbasis AI yang menyasar dunia nyata—bukan sekadar aplikasi digital, tetapi robot, kendaraan, dan perangkat konsumen.
Di antara deretan inovasi itu, startup EngineAI memamerkan robot humanoid T800, simbol ambisi China dalam mengembangkan kecerdasan buatan berbasis fisik. Di sudut lain, startup Glyde memperkenalkan alat cukur rambut pintar yang diklaim mampu menghasilkan potongan fade sempurna tanpa perlu ke barber. Ada pula bird feeder berbasis AI yang mampu memotret burung dari jarak dekat, serta produk mainan emosional dari SwitchBot—perusahaan berbasis di Shenzhen—yang diklaim dapat “membaca” emosi penggunanya dan merespons dengan ekspresi senang, sedih, atau cemburu.
Bagi pengamat teknologi global, kehadiran produk-produk ini bukan sekadar gimmick pameran. Ini mencerminkan strategi nasional China: mengawinkan kecerdasan buatan dengan kekuatan manufaktur massal, sesuatu yang hingga kini masih sulit ditandingi negara Barat.
AI Keluar dari Layar, Masuk ke Kehidupan
Selama beberapa tahun terakhir, narasi AI global didominasi Amerika Serikat—dengan OpenAI, Google, dan Meta berlomba mengembangkan model generatif untuk teks, gambar, dan video. Namun China memilih jalur berbeda: mengintegrasikan AI langsung ke produk fisik yang dapat diproduksi, dijual, dan digunakan secara luas.
Pendekatan ini memberi China keunggulan struktural. Dengan rantai pasok manufaktur yang terintegrasi dan skala produksi besar, inovasi AI dapat dengan cepat berpindah dari laboratorium ke pasar massal. AI tidak berhenti di cloud, tetapi hidup di rumah, jalanan, dan pabrik.
Dimensi Geopolitik yang Menguat
Langkah China ini juga memperdalam rivalitas teknologi dengan Amerika Serikat. Pembatasan ekspor chip canggih dan teknologi semikonduktor dari Washington justru mendorong Beijing mempercepat kemandirian teknologi. Model AI buatan dalam negeri, robotika, dan perangkat pintar kini menjadi simbol ketahanan strategis China.
Keunggulan ini bukan tanpa implikasi global. Ketika AI semakin tertanam dalam infrastruktur fisik—transportasi, logistik, rumah tangga, hingga layanan publik—negara yang menguasai manufaktur AI berpotensi memimpin standar teknologi dunia.
Pelajaran bagi Indonesia dan Global South
Bagi negara-negara Global South seperti Indonesia, fenomena ini membawa dua pesan penting. Pertama, AI bukan lagi sekadar soal software atau aplikasi, tetapi juga ekosistem industri, manufaktur, dan integrasi teknologi. Kedua, ketergantungan pada teknologi impor akan semakin dalam jika tidak dibarengi dengan strategi pengembangan AI lokal yang terhubung ke sektor riil.
Indonesia, dengan basis manufaktur dan pasar domestik besar, memiliki peluang—namun juga risiko—jika tertinggal dalam adopsi AI berbasis produk nyata. Tanpa arah kebijakan yang jelas, Indonesia berpotensi hanya menjadi konsumen teknologi, bukan bagian dari rantai nilai global AI.
Ilustrasi: NDTV
Digionary:
● AI Generatif: Kecerdasan buatan yang mampu menghasilkan teks, gambar, suara, atau video secara mandiri
● CES: Consumer Electronics Show, pameran teknologi terbesar dunia
● Global South: Negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin
● Humanoid Robot: Robot berbentuk manusia dengan kemampuan interaksi kompleks
● Manufacturing Scale: Kemampuan memproduksi barang dalam jumlah besar dengan biaya efisien
#ChinaAI #CES2026 #ArtificialIntelligence #TeknologiGlobal #AICompetition #Robotika #IndustriTeknologi #Manufaktur #AIChina #GeopolitikTeknologi #InovasiDigital #FutureTech #AIProduk #GlobalSouth #TeknologiMasaDepan #DigitalIndustry #AIHardware #SmartDevices #TechWar #EkonomiDigital
