Perang Robot AI Asia: China Melaju, Asia Tenggara Masih Menimbang Risiko dan Ongkos

- 14 Januari 2026 - 07:52

Perlombaan robotika berbasis kecerdasan buatan (AI) di Asia memasuki fase baru. China melesat jauh dengan investasi agresif dan produksi massal robot humanoid, sementara Asia Tenggara masih melangkah hati-hati, terhambat biaya tinggi, struktur tenaga kerja murah, dan regulasi yang longgar. Di tengah optimisme bahwa robot humanoid bisa mendominasi pabrik global pada 2034, kawasan ini dihadapkan pada dilema klasik: mengejar otomatisasi atau tetap bergantung pada keunggulan tenaga manusia berbiaya rendah.


Fokus Utama:

■ China memimpin adopsi robot AI global dengan dukungan skala manufaktur dan investasi agresif.
■ Asia Tenggara masih mengandalkan robot industri konvensional, bukan humanoid.
■ Biaya tenaga kerja murah dan regulasi longgar memperlambat otomatisasi canggih.


Ketika CEO Nvidia Jensen Huang menyebut 2026 sebagai “momen ChatGPT” bagi robot fisik, dunia industri langsung bersiap. Robot bertenaga AI yang mampu berjalan, memegang, dan mengambil keputusan secara mandiri tak lagi sekadar imajinasi film fiksi ilmiah. Namun di Asia, laju adopsinya timpang. China berlari kencang. Asia Tenggara memilih berjalan, dengan penuh perhitungan.


Kecerdasan buatan kini tak lagi terbatas di layar dan server. Ia bergerak, mengangkat, membersihkan, bahkan suatu hari nanti mungkin menggantikan sebagian pekerjaan manusia. Integrasi AI ke dalam mesin fisik—yang dikenal sebagai embodied AI—diprediksi akan menjadi lompatan terbesar industri teknologi dalam satu dekade terakhir.

Jensen Huang, CEO Nvidia, menyebut robot fisik berbasis AI akan mengalami titik balik besar pada 2026. Dengan dukungan large language models, large behavioural models, dan agentic AI, robot mampu memproses input visual dan bahasa, lalu menerjemahkannya menjadi aksi fisik secara real time.

“Digital services telah menjadi fokus utama transformasi AI sejauh ini,” ujar Dr Jochen Wirtz, profesor pemasaran di National University of Singapore Business School katanya seperti dikutip The Business Times. “Namun layanan fisik di restoran, hotel, rumah sakit, dan ritel masih sangat bergantung pada manusia.” Kesenjangan itu, menurut Wirtz, akan menyempit dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

China Tancap Gas

Dominasi China dalam robotika Asia nyaris tak terbantahkan. Morgan Stanley memperkirakan 55% robot global pada 2024 diproduksi di China. Negara ini tak hanya unggul dalam skala manufaktur, tetapi juga agresif di segmen robot humanoid—robot dengan bentuk dan kemampuan menyerupai manusia.

Analis Macquarie Daisy Zhang memproyeksikan produksi komersial robot humanoid dimulai pada 2026, terutama di China dan Amerika Serikat. Pada 2034, jumlah robot humanoid bahkan diperkirakan melampaui robot industri konvensional di lantai pabrik.

Namun euforia ini juga memunculkan kekhawatiran. Pemerintah China secara terbuka memperingatkan risiko gelembung investasi. “Industri frontier selalu dihadapkan pada tantangan menyeimbangkan kecepatan pertumbuhan dan risiko gelembung,” ujar Li Chao, juru bicara National Development and Reform Commission.

Asia Tenggara: Ada Robot, Tapi Belum Humanoid

Berbeda dengan China, Asia Tenggara mengadopsi robotika dengan pendekatan lebih pragmatis. Robot industri telah lama digunakan, terutama di manufaktur elektronik dan otomotif.

Vivekanand Patil, senior regional manager robotics Epson Asia Tenggara, menyebut Vietnam dan Thailand sebagai pusat otomasi yang tumbuh cepat. Namun fokusnya masih pada robot industri dan collaborative robots, bukan humanoid.

“Untuk saat ini, perusahaan di Asia Tenggara melihat robot humanoid sebagai opsi jangka panjang,” kata Patil. “Fokusnya tetap pada sistem yang terbukti, mudah diterapkan, dan skalabel.”

Biaya menjadi faktor krusial. Integrasi sistem robotik membutuhkan belanja modal besar, sementara banyak negara Asia Tenggara masih memiliki tenaga kerja melimpah dengan upah relatif rendah. “Negara dengan kekurangan tenaga kerja dan biaya buruh tinggi akan memimpin,” ujar Prof Wirtz, merujuk pada Singapura.

Murahnya Tenaga Kerja Jadi Penghambat

Paradoks Asia Tenggara terletak di sini: keunggulan tenaga kerja murah justru memperlambat otomatisasi. Raphael Yee, direktur embodied AI di Lionsbot, mengatakan mayoritas robot pembersih perusahaannya digunakan di Eropa.

“Di Eropa, sulit mempertahankan pekerja. Banyak yang berhenti setelah dua minggu,” katanya. “Tidak ada yang mau melakukan pekerjaan kotor dan berat.”
Sebaliknya, di Asia Tenggara, pekerjaan berisiko tinggi pun masih dilakukan manusia karena lebih murah. Syahrul Hatta, COO Asia C-Leanship, menyebut regulasi keselamatan yang longgar membuat robot pembersih bawah laut kalah bersaing dengan penyelam manusia.

“Kami ingin beroperasi di negara dengan regulasi keselamatan dan lingkungan yang ketat,” ujarnya. “Kalau tidak, kami hanya bertarung soal harga.”


Digionary:

● Agentic AI: Sistem AI yang mampu mengambil keputusan dan bertindak secara mandiri
● Embodied AI: AI yang tertanam dalam mesin fisik seperti robot
● Humanoid Robot: Robot dengan bentuk dan gerakan menyerupai manusia
● Moravec’s Paradox: Konsep bahwa tugas sederhana bagi manusia justru sulit bagi robot
● Scara Robot: Robot industri untuk gerakan cepat dan presisi di permukaan datar

#RobotAI #HumanoidRobot #EmbodiedAI #ChinaTech #AsiaTenggara #OtomasiIndustri #AIAsia #Robotika #Manufaktur #TeknologiMasaDepan #Nvidia #AIIndustri #DigitalTransformation #FutureOfWork #AIBusiness #IndustrialAutomation #GlobalTech #ASEANBusiness #ChinaInnovation #AIRevolution

Comments are closed.