UAE dan Singapura Tertinggi dalam Adopsi AI, Sementara Global South Masih Tertinggal

- 14 Januari 2026 - 09:51

Laporan terbaru menunjukkan bahwa adopsi kecerdasan buatan (AI) melonjak di sejumlah negara, dengan Uni Emirat Arab dan Singapura memimpin dunia dalam penggunaan AI di kalangan usia produktif, sementara negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah masih tertinggal, mencerminkan kesenjangan besar dalam transformasi digital global yang bisa memperlebar jurang produktivitas antarnegara.


Fokus Utama:

■ Uni Emirat Arab dan Singapura memimpin dunia dalam penggunaan AI di kalangan usia kerja, mendemonstrasikan dampak kebijakan dan investasi digital yang kuat.
■ Negara maju terus memperlebar jarak dengan negara berkembang dalam hal adopsi AI, memicu kekhawatiran soal pemerataan teknologi global.
■,Keberhasilan adopsi AI ditentukan bukan hanya oleh teknologi, tetapi oleh kesiapan infrastruktur, pendidikan, kebijakan serta ekosistem digital yang mendukung.


Dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun, kecerdasan buatan berubah dari sekadar jargon teknologi menjadi alat sehari-hari bagi jutaan orang di seluruh dunia. Namun di balik ledakan penggunaan ini, peta global adopsi AI mengungkap kontras tajam: beberapa negara bergerak dengan kecepatan luar biasa, sementara banyak lainnya masih berjuang mengejar momentum digital.


Riset terbaru tentang adopsi kecerdasan buatan (AI) menempatkan Uni Emirat Arab (UAE) dan Singapura di posisi teratas dunia, dengan proporsi penggunaan AI di antara penduduk usia kerja melebihi 60%, menandakan perubahan paradigma dalam penggunaan teknologi canggih di luar kawasan teknologi tradisional seperti Amerika Serikat atau China.

Menurut Microsoft AI Economy Institute, lebih dari 16% populasi dunia sudah menggunakan alat AI seperti chatbot berbasis model bahasa besar (LLM) untuk bekerja, belajar, atau mencari solusi.

Data tersebut menunjukkan bahwa AI berkembang lebih cepat dari banyak teknologi sebelumnya: dalam waktu relatif singkat, pengguna alat generatif dan produktivitas digital semakin meluas. Namun, distribusinya tidak merata. Negara-negara kecil dengan infrastruktur digital kuat—seperti UAE dan Singapura—telah berhasil mendorong penetrasi penggunaan AI jauh di atas rata-rata global.

Negara Paling Cepat dalam Adopsi AI

Dalam ranking global, negara yang memimpin adopsi AI seringkali adalah negara kecil dengan investasi intensif dalam infrastruktur digital, pendidikan teknologi, dan kebijakan AI proaktif:

  1. Uni Emirat Arab: Memimpin dunia dalam persentase populasi usia kerja yang menggunakan AI (lebih dari 64% pada akhir 2025), hasil dari strategi pemerintah yang mengintegrasikan AI dalam sektor publik dan swasta.
  2. Singapura: Menjadi sorotan utama dengan adopsi pengguna di kisaran yang hampir sama, didukung kebijakan nasional dan kesiapan digital yang kuat.
  3. Norwegia, Irlandia, Prancis, dan Spanyol: Turut berada di jajaran atas berkat investasi jangka panjang dalam infrastruktur digital dan inisiatif pendidikan.
  4. Korea Selatan: Mencatat peningkatan tajam dalam ranking adopsi AI, tumbuh pesat berkat kebijakan nasional dan penetrasi teknologi di kalangan masyarakat.
  5. Sementara negara-negara di Global South—termasuk banyak di Asia, Afrika, dan Amerika Latin—masih berada di bawah rata-rata global. Meskipun terdapat peningkatan penggunaan, tingkat adopsi relatif rendah dibanding negara-negara maju, mencerminkan keterbatasan infrastruktur, akses digital, dan kesiapan keterampilan.

Ketimpangan Global dalam Adopsi AI

Data terbaru juga mengungkapkan adanya jurang yang melebar antara negara kaya dan miskin dalam penggunaan AI. Di kawasan Global North, adopsi AI di kalangan usia produktif telah mencapai sekitar 24,7%, hampir dua kali lipat dibandingkan Global South (14,1%). Kesenjangan ini tidak hanya terkait dengan akses teknologi tetapi juga dengan literasi digital, kesiapan keterampilan, dan kebijakan pemerintah yang mendukung transformasi digital.

Lebih lanjut, satu studi populasi-normalized menunjukkan metode pengukuran baru yang menilai AI User Share—persentase penduduk usia kerja yang aktif menggunakan AI—sebagai indikator penting untuk memahami bagaimana teknologi ini menyebar di tingkat global, sekaligus menunjukkan korelasi kuat antara adopsi AI dan ukuran GDP suatu negara.

Arah Kebijakan dan Tantangan Mendatang

Para analis menilai bahwa untuk mengejar negara terdepan, banyak negara berkembang harus mengatasi hambatan struktural: meningkatkan konektivitas internet, memperluas literasi digital, menyediakan regulasi AI yang jelas, serta membangun pusat data dan infrastruktur komputasi awan. Tekad ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga soal ketahanan ekonomi jangka panjang dan daya saing global.

Ilustrasi/Foto: futureuae.com


Digionary:

● AI Diffusion/Adoption: Penyebaran dan penggunaan teknologi AI di populasi suatu negara; ukuran seberapa luas orang menggunakan alat AI dalam kehidupan sehari-hari.
● Global North / Global South: Istilah yang membedakan negara maju (Global North) dan negara berkembang (Global South) berdasarkan ekonomi, infrastruktur, dan tingkat pembangunan teknologi.
● Infrastructure Readiness: Kesiapan fisik dan digital, termasuk pusat data, jaringan internet, dan kapasitas komputasi yang mendukung adopsi teknologi.
● LLM (Large Language Model): Model AI besar yang mampu memahami dan menghasilkan teks, seperti ChatGPT atau Claude.
● AI User Share: Indikator yang menunjukkan persentase populasi usia kerja yang menggunakan alat AI secara aktif.
● Digital Divide: Kesenjangan akses dan kemampuan teknologi antara kelompok atau wilayah yang berbeda.

#AIadoption #ArtificialIntelligence #DigitalTransformation #UAE #Singapore #TechGlobal #AIusage #AIpolicy #Infrastructure #DigitalDivide #GlobalNorth #GlobalSouth #AIreadiness #Innovation #AItools #MachineLearning #FutureTech #TechInequality #MicrosoftReport #AIecosystem #TechAdoption #PopulationUsage

Comments are closed.