Di tengah kemajuan pesat kecerdasan buatan, para tokoh di balik pengembangannya justru sepakat pada satu hal: AI belum akan mencapai superintelligence tanpa terobosan besar di bidang memori. Dari Sam Altman hingga para pembangun AI agent, kemampuan mengingat secara mendalam dan berkelanjutan dinilai menjadi batas terakhir yang membedakan mesin cerdas dengan kecerdasan manusia.
Fokus Utama:
■ Para pengembang AI sepakat: memori adalah prasyarat utama menuju superintelligence dan AGI.
■ Kapasitas memori AI berpotensi melampaui manusia, tetapi masih menghadapi hambatan teknis besar.
■ Tanpa arsitektur memori yang matang, AI akan tetap terasa cerdas namun tidak sepenuhnya manusiawi.
Kecerdasan buatan mungkin sudah mampu menulis, menganalisis, bahkan berdialog nyaris seperti manusia. Namun di balik semua kecanggihan itu, ada satu kemampuan mendasar yang masih tertinggal jauh: mengingat. Tanpa memori yang benar-benar kuat dan berkelanjutan, superintelligence—AI yang menalar setara atau melampaui manusia—masih berada di wilayah teori.
Dalam dunia manusia, memori kerja—kemampuan menyimpan dan menggunakan informasi dalam aktivitas sehari-hari—berkaitan erat dengan kecerdasan umum. Logika yang sama kini mulai diterapkan dalam pengembangan kecerdasan buatan. Semakin baik sebuah sistem AI mengingat, semakin besar peluangnya untuk berpikir, bernalar, dan bertindak layaknya manusia.
CEO OpenAI Sam Altman menilai batas kecerdasan AI sulit diprediksi justru karena potensi memorinya nyaris tak terbatas. Dalam pandangannya, keterbatasan manusia bukan terletak pada kecerdasan, melainkan pada kapasitas ingatan.
“Bahkan jika Anda memiliki asisten pribadi terbaik di dunia, mereka tidak bisa mengingat setiap kata yang pernah Anda ucapkan sepanjang hidup, tidak bisa membaca setiap email, tidak bisa mengingat setiap dokumen yang pernah Anda tulis, dan tidak bisa memperhatikan seluruh pekerjaan Anda setiap hari serta mengingat detail terkecilnya. Tidak ada manusia yang memiliki memori sempurna dan tak terbatas,” kata Altman dalam podcast Big Technology seperti dikutip Business Insider.
AI, menurut Altman, justru memiliki potensi ke arah itu. Mesin dapat dirancang untuk menyimpan dan mengakses kembali detail kehidupan penggunanya—bahkan preferensi kecil yang tak pernah diungkapkan secara eksplisit. Namun, ia mengakui bahwa saat ini teknologi memori AI masih berada pada tahap sangat awal.
“Saat ini, memori masih sangat kasar dan sangat dini,” ujar Altman. Ketika AI mampu mengingat setiap detail granular kehidupan pengguna, kekuatannya akan menjadi “luar biasa besar”.
Pandangan tersebut diamini oleh Andrew Pignanelli, salah satu pendiri The General Intelligence Company of New York, perusahaan yang membangun AI agent untuk kebutuhan bisnis. Ia menyebut memori sebagai medan pertempuran utama industri AI dalam waktu dekat.
“Memori akan menjadi topik terpenting yang dibahas dan diakui sebagai langkah terakhir sebelum AGI,” tulis Pignanelli dalam blognya.
Ia memperkirakan seluruh penyedia model AI akan berlomba menanamkan dan menyempurnakan sistem memori, mengikuti jejak OpenAI yang mulai memperkenalkan fitur memori di ChatGPT—langkah yang juga diikuti pemain lain seperti Claude.
Namun, tantangan teknisnya jauh dari selesai. Pignanelli menegaskan bahwa meski jendela konteks (context window) semakin besar—memungkinkan lebih banyak data diproses dalam satu prompt—itu belum cukup.
“Jendela konteks yang lebih besar memang membantu, karena memungkinkan lebih banyak data dimasukkan. Namun, tingkat detail yang dibutuhkan untuk mencapai sesuatu yang layak disebut AGI masih memerlukan terobosan besar dalam arsitektur memori,” tulisnya.
Bahkan memori episodik jangka pendek—kemampuan mengingat rangkaian peristiwa atau interaksi—belum sepenuhnya terpecahkan. Inilah sebabnya AI masih terasa “pintar tapi asing”, bukan benar-benar hidup.
Menurut Pignanelli, interaksi AI saat ini sebenarnya sudah hampir lolos uji Turing. Masalahnya bukan pada cara AI berbicara, melainkan pada apa yang diingatnya.
“Sistem kita saat ini sudah sangat baik dalam interaksi. Untuk uji Turing dalam hal percakapan, kita pada dasarnya sudah sampai. Tapi itu baru setengah dari yang dibutuhkan untuk menciptakan diri digital,” tulisnya.
Kesimpulannya jelas bahwa superintelligence pertama tidak akan lahir dari prosesor tercepat semata, melainkan dari perpaduan kecerdasan tinggi dan sistem memori yang benar-benar matang. “AGI pertama akan menjadi prosesor yang sangat cerdas yang digabungkan dengan sistem memori yang sangat baik.”
Ilustrasi: Boris Zhitkov/Getty Images
Digionary:
● AGI (Artificial General Intelligence): AI dengan kemampuan kognitif setara atau melampaui manusia di berbagai bidang.
● Context Window: Jumlah informasi yang dapat diproses model AI dalam satu input atau percakapan.
● Memori Episodik: Kemampuan mengingat peristiwa atau pengalaman secara berurutan.
● Superintelligence: Tahap AI hipotetis yang kecerdasannya melampaui manusia.
● Turing Test: Uji untuk menilai apakah mesin dapat meniru perilaku manusia dalam percakapan.
#ArtificialIntelligence #Superintelligence #AGI #SamAltman #OpenAI #AIMemory #TeknologiAI #FutureOfAI #AIResearch #MachineLearning #DigitalBrain #AIArchitecture #TechTrends #GlobalTech #AIInnovation #HumanLevelAI #DeepTech #AI2026 #TechInsight #BigTechnology
