Dari Robot hingga Green AI, Ini Peta Jalan Kecerdasan Buatan Dunia di 2026 Versi CMG

- 11 Januari 2026 - 11:19

Kecerdasan buatan bukan lagi sekadar teknologi masa depan, melainkan infrastruktur baru peradaban global. Laporan China Media Group (CMG) tentang 10 tren AI 2026 menegaskan pergeseran besar: dari tata kelola global, lonjakan daya komputasi, hingga risiko keamanan dan energi. AI kini memasuki fase matang—lebih masif, lebih murah, namun juga lebih berisiko—memaksa negara, industri, dan regulator berpikir ulang soal kolaborasi, etika, dan keberlanjutan.


Fokus Utama:

■ AI bergerak dari inovasi menjadi infrastruktur global yang menuntut tata kelola lintas negara.
■ Lonjakan komputasi dan adopsi massal AI mempercepat transformasi industri dan riset.
■ Risiko energi, etika, dan keamanan menjadi tantangan terbesar AI di fase dewasa.


Genie itu sudah keluar dari botol—dan namanya kecerdasan buatan. Pada 2026, AI tak lagi berdiri sebagai inovasi eksperimental, melainkan menjadi tulang punggung industri, riset, layanan publik, hingga kehidupan sehari-hari. Laporan terbaru China Media Group (CMG) memetakan 10 tren utama AI dunia, menggambarkan bagaimana teknologi ini bergerak semakin cepat, semakin dalam, sekaligus semakin kompleks untuk dikendalikan.


China Media Group (CMG), bekerja sama dengan berbagai lembaga riset dan universitas, merilis laporan Top 10 AI Trends for 2026 sebagai panduan membaca arah perkembangan kecerdasan buatan global. Laporan ini menegaskan bahwa tantangan terbesar AI ke depan bukan lagi soal kemampuan teknologi, melainkan tata kelola, keamanan, dan dampak sosialnya. Berikut 10 tren AI versi CMG:

1. Tata Kelola AI Jadi Agenda Global

AI untuk kepentingan inklusif dan berbagi manfaat kini berada di jantung agenda pembangunan global. Dalam pertemuan APEC ke-32 pada November 2025, Presiden China Xi Jinping menegaskan, “China telah mengusulkan pembentukan Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Buatan Dunia untuk menyediakan barang publik di bidang kecerdasan buatan bagi komunitas internasional.”

Penguatan kerja sama lintas negara dipandang krusial, bukan hanya untuk pertumbuhan ekonomi, tetapi juga untuk menghadapi tantangan besar seperti perubahan iklim dan kesehatan publik.

2. Lonjakan Daya Komputasi dan Chip AI

Tren kedua menyoroti ekspansi besar-besaran intelligent computing power. Klaster dengan puluhan ribu GPU kini menjadi tulang punggung pelatihan model AI skala besar. Proyek Eastern Data Western Computing di China disebut berhasil memperluas akses komputasi nasional, sementara chip AI domestik mulai digunakan secara massal pada skenario tertentu—mengurangi ketergantungan global pada segelintir produsen chip.

3. AI Masuk Arus Utama Industri

Tahun 2026 diproyeksikan menjadi titik balik adopsi AI agents lintas sektor. Pemerintah China bahkan menargetkan peluncuran 1.000 agen AI industri tingkat tinggi pada 2027, seiring rilis rencana aksi nasional untuk memastikan pasokan teknologi AI yang aman dan andal.

4. Interaksi Multimodal Jadi Standar Baru

Model bahasa besar domestik seperti DeepSeek mencatat terobosan besar pada 2025 dengan performa tinggi dan biaya lebih rendah. Dampaknya signifikan: hambatan adopsi AI menurun drastis. AI kini mampu memproses teks, gambar, suara, video, hingga data 3D, mengubahnya dari alat menjadi mitra cerdas.

5. Perangkat AI-Native Menguasai Pasar

AI smartphone, PC, dan perangkat XR bergerak dari sekadar “AI-enabled” menjadi AI-native by design. Integrasi mendalam dengan model multimodal diprediksi mengubah pendidikan, layanan kesehatan, hingga hiburan berbasis pengalaman imersif.

6. Robot dan Embodied Intelligence

Konvergensi antara AI fisik dan embodied intelligence membawa robot dari tahap prototipe menuju produksi massal. Robot kini dirancang belajar dari interaksi dunia nyata dan bekerja berdampingan dengan manusia—mulai dari pabrik, gudang, layanan publik, hingga perawatan lansia. Pasar embodied intelligence China diperkirakan mencapai 5,3 miliar yuan (sekitar US$759 juta) pada 2025, setara 27% dari pasar global.

7. AI untuk Sains dan Terobosan Fundamental

AI mulai merevolusi riset ilmiah—dari perumusan hipotesis hingga desain eksperimen. Bidang seperti material maju, astrofisika, dan ilmu hayati merasakan lonjakan inovasi, termasuk desain antibodi dan molekul obat baru.

8. Konvergensi dengan Ilmu Otak

Kemajuan brain-inspired intelligence mendorong lahirnya terobosan di komputasi neuromorfik dan spiking neural networks, yang menjanjikan efisiensi energi lebih tinggi dan kecerdasan yang mendekati cara kerja otak manusia.

9. Green AI dan Krisis Energi

Ledakan pusat data AI diperkirakan menaikkan permintaan listrik global secara signifikan. CMG menyoroti urgensi Green AI—model lebih efisien, pusat data berbasis energi bersih, dan keseimbangan antara pertumbuhan komputasi dan emisi karbon.

10. Risiko, Etika, dan Keamanan

Seiring pesatnya AI, risiko keamanan dan serangan adversarial ikut meningkat. China merilis AI Safety Governance Framework 2.0 pada September 2025, menekankan ekosistem AI yang aman, tepercaya, dan dapat dikendalikan melalui tata kelola kolaboratif lintas negara dan sektor.


Digionary:

● AI Agent: Sistem AI yang mampu bertindak mandiri menyelesaikan tugas spesifik
● Embodied Intelligence: AI yang terintegrasi dengan tubuh fisik seperti robot
● Green AI: Pendekatan AI yang menekankan efisiensi energi dan emisi rendah
● GPU Cluster: Kumpulan besar prosesor grafis untuk komputasi AI skala besar
● Multimodal AI: AI yang memproses berbagai jenis data sekaligus
● Neuromorphic Computing: Komputasi yang meniru cara kerja otak manusia

#ArtificialIntelligence #AITRENDS2026 #GlobalAI #AIGovernance #Robotika #GreenAI #AIIndustri #TeknologiGlobal #AIRegulation #DigitalFuture #AIForScience #AIChip #ComputingPower #SmartDevices #AIethics #AIsecurity #FutureTech #ChinaTech #AIInnovation #TechPolicy

Comments are closed.