Arab Saudi Bangun Pusat Data Raksasa US$2,7 Miliar, Siap Mengubah Peta AI Global

- 7 Januari 2026 - 12:50

Arab Saudi melangkah jauh melampaui minyak. Melalui proyek Hexagon Data Centre senilai US$2,7 miliar, Riyadh menyiapkan fondasi untuk menjadi pusat infrastruktur digital dan kecerdasan buatan (AI) terbesar di dunia. Pusat data berstandar tertinggi ini bukan sekadar fasilitas teknologi, melainkan simbol ambisi Vision 2030: menjadikan data dan AI sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi, efisiensi pemerintahan, dan pengaruh geopolitik digital Saudi di panggung global.


Fokus Utama:

■ Arab Saudi menggeser strategi nasional dari minyak ke data dan AI melalui investasi pusat data berskala global.
■ Hexagon Data Centre menjadi tulang punggung layanan pemerintahan digital dan pengembangan AI nasional.
■ Infrastruktur digital diposisikan sebagai alat daya saing ekonomi dan pengaruh global Saudi Arabia.


Ketika banyak negara masih berdebat soal regulasi dan kesiapan infrastruktur digital, Arab Saudi memilih melaju kencang. Dengan investasi miliaran dolar, kerajaan ini resmi membangun pusat data pemerintah terbesar di dunia—sebuah langkah strategis yang menandai pergeseran serius dari ekonomi berbasis minyak menuju era data dan kecerdasan buatan.


Arab Saudi resmi meluncurkan proyek Hexagon Data Centre, pusat data raksasa senilai US$2,7 miliar yang diklaim sebagai fasilitas pemerintah terbesar di dunia. Proyek ini menjadi salah satu pilar utama Vision 2030, agenda transformasi ekonomi dan teknologi yang dipimpin langsung oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Dibangun di Riyadh, Hexagon Data Centre dirancang sebagai pusat komando digital negara. Dengan luas lebih dari 30 juta kaki persegi dan kapasitas listrik mencapai 480 megawatt, fasilitas ini menempatkan Saudi Arabia dalam liga tertinggi infrastruktur digital global. Skala tersebut setara dengan pusat data hyperscale yang selama ini hanya dimiliki raksasa teknologi Amerika Serikat dan China.

Pusat data ini mengusung standar Tier IV, level tertinggi dalam klasifikasi keandalan pusat data dunia. Artinya, sistem dirancang hampir tanpa waktu henti, dengan redundansi penuh untuk menjamin kontinuitas layanan pemerintahan, data nasional, dan aplikasi strategis berbasis AI.

Lebih dari sekadar infrastruktur, Hexagon diposisikan sebagai “otak digital” yang akan menopang seluruh layanan publik Saudi—mulai dari e-government, analitik big data, hingga pengembangan kecerdasan buatan skala nasional. Proyek ini juga menjadi inti jaringan pusat data terintegrasi yang akan dibangun di berbagai wilayah Arab Saudi.

AI dan Data sebagai Mesin Ekonomi Baru

Strategi besar ini dikomandoi oleh Saudi Data and Artificial Intelligence Authority (SDAIA), lembaga yang sejak 2019 memimpin tata kelola data, big data, dan AI di Arab Saudi. SDAIA melihat data sebagai “sumber daya nasional baru” yang nilainya setara—bahkan berpotensi melampaui—minyak dalam jangka panjang.

Ekspansi infrastruktur digital ini diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi non-minyak secara signifikan. Pemerintah Saudi memperkirakan proyek Hexagon akan menghasilkan dampak ekonomi lebih dari 10 miliar riyal Saudi atau sekitar US$2,67 miliar, sekaligus menciptakan efisiensi anggaran melalui penghematan operasional tahunan sekitar 1,8 miliar riyal Saudi atau setara US$480 juta.

Langkah ini sejalan dengan tren global. Laporan berbagai lembaga riset teknologi menunjukkan bahwa investasi pusat data global melonjak tajam seiring adopsi AI, cloud, dan komputasi intensif. Arab Saudi tampak ingin memastikan dirinya tidak sekadar menjadi pasar, melainkan pemain utama dalam ekosistem tersebut.

Pusat Data “Hijau” di Tengah Gurun

Menariknya, Hexagon Data Centre juga membawa narasi keberlanjutan. Fasilitas ini dirancang dengan sistem pendinginan berteknologi tinggi dan pemanfaatan energi terbarukan, sehingga menargetkan sertifikasi LEED Gold. Jika tercapai, Hexagon akan menjadi salah satu pusat data ramah lingkungan terbesar di dunia—sebuah paradoks menarik di tengah iklim gurun ekstrem.

Selain Tier IV, pusat data ini juga membidik sertifikasi internasional ISO/IEC 22237, standar global yang menegaskan kesiapan operasional, keamanan fisik, dan keandalan sistem pusat data.

Ke depan, Hexagon diproyeksikan menjadi platform utama bagi sektor publik dan swasta untuk mengadopsi AI, machine learning, dan layanan digital generasi terbaru. Di saat yang sama, proyek ini memperkuat posisi Arab Saudi dalam persaingan geopolitik digital, khususnya di Timur Tengah dan kawasan Global South.


Digionary:

● AI (Artificial Intelligence): Teknologi kecerdasan buatan yang memungkinkan mesin meniru kemampuan berpikir manusia.
● Big Data: Kumpulan data berukuran sangat besar yang dianalisis untuk menemukan pola dan insight.
● Data Center: Fasilitas untuk menyimpan, memproses, dan mengelola data digital.
● Hyperscale Data Center: Pusat data berkapasitas sangat besar untuk komputasi dan cloud skala masif.
● ISO/IEC 22237: Standar internasional untuk desain dan operasional pusat data.
● LEED Gold: Sertifikasi bangunan ramah lingkungan berstandar tinggi.
● SDAIA: Otoritas data dan AI nasional Arab Saudi.
● Tier IV: Klasifikasi pusat data dengan tingkat keandalan tertinggi dan hampir tanpa downtime.
● Vision 2030: Agenda transformasi ekonomi dan sosial Arab Saudi.
● 480 MW: Kapasitas listrik besar yang menandakan skala pusat data hyperscale.

#ArabSaudi #HexagonDataCentre #Vision2030 #ArtificialIntelligence #DataCenter #EkonomiDigital #TransformasiDigital #AIglobal #TeknologiGlobal #MiddleEastTech #CloudComputing #BigData #GreenDataCenter #DigitalGovernment #InfrastrukturDigital #TechInvestment #SaudiVision #FutureTechnology #GlobalAI #SmartNation

Comments are closed.