Ledakan adopsi artificial intelligence (AI) di lingkungan perusahaan diam-diam menciptakan celah keamanan siber berskala besar di cloud. Laporan terbaru Palo Alto Networks mengungkap fakta mengejutkan: 99% organisasi global mengalami serangan terhadap aplikasi dan layanan AI dalam satu tahun terakhir. Masalahnya bukan sekadar meningkatnya serangan, tetapi ketertinggalan tim keamanan menghadapi banjir kode tidak aman yang diproduksi dengan bantuan GenAI. Kombinasi cloud, AI, dan kompleksitas alat keamanan kini menjadi “bom waktu” baru bagi dunia digital global.
Fokus Utama:
■ AI secara signifikan memperluas permukaan serangan cloud dan melampaui kesiapan tim keamanan.
■ API, identitas digital, dan pergerakan lateral menjadi vektor serangan paling berbahaya.
■ Konsolidasi keamanan cloud dan integrasi penuh dengan SOC menjadi kebutuhan strategis, bukan pilihan.
Laporan Palo Alto Networks mengungkap 99% perusahaan dunia mengalami serangan terhadap sistem AI mereka. Ledakan AI memperluas permukaan serangan cloud dan melampaui kemampuan tim keamanan siber global.
Artificial intelligence digadang-gadang sebagai mesin pertumbuhan baru dunia usaha. Namun di balik euforia transformasi digital itu, ancaman siber justru tumbuh lebih cepat dari kemampuan perusahaan untuk mengendalikannya. Laporan global terbaru Palo Alto Networks menunjukkan bahwa AI tidak hanya mengubah cara bisnis beroperasi, tetapi juga secara drastis memperluas permukaan serangan di cloud—mendorong keamanan siber ke titik paling rentan dalam satu dekade terakhir.
Adopsi AI di lingkungan enterprise berkembang nyaris tanpa rem. Infrastruktur cloud dipacu untuk menampung beban kerja AI, mulai dari analitik data, automasi proses bisnis, hingga generative AI. Namun, pertumbuhan cepat ini menghadirkan risiko keamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Palo Alto Networks, perusahaan keamanan siber global, dalam laporan tahunan State of Cloud Security Report 2025, memotret kondisi yang mengkhawatirkan. Berdasarkan survei terhadap lebih dari 2.800 eksekutif dan praktisi keamanan siber di 10 negara, laporan ini mengungkap bahwa 99% organisasi mengalami setidaknya satu serangan terhadap sistem AI mereka dalam 12 bulan terakhir.
Cloud kini menjadi sasaran empuk. Bukan hanya karena skalanya yang besar, tetapi juga karena arsitekturnya yang kompleks dan terfragmentasi. Di saat yang sama, GenAI-assisted vibe coding—pengembangan perangkat lunak dengan bantuan AI—digunakan oleh 99% responden. Akibatnya, kode tidak aman diproduksi jauh lebih cepat daripada kemampuan tim keamanan untuk meninjaunya.
Dari 52% tim pengembang yang merilis kode setiap minggu, hanya 18% yang mampu menambal kerentanan dengan kecepatan serupa. Celah keamanan pun menumpuk, memperbesar risiko di seluruh lingkungan cloud.
Elad Koren, Vice President of Product Management Cortex Palo Alto Networks, memperingatkan bahwa pendekatan lama sudah tidak lagi memadai.
“Saat organisasi secara agresif meningkatkan investasi cloud untuk mendukung inisiatif AI, mereka tanpa sadar membuka pintu bagi vektor serangan baru yang semakin canggih. Riset kami menegaskan bahwa pendekatan keamanan cloud tradisional tidak lagi cukup, membuat tim keamanan melawan ancaman berkecepatan mesin dengan alat yang terfragmentasi dan siklus perbaikan manual yang lambat,” ujarnya.
“Tim tidak hanya membutuhkan dashboard risiko yang tak pernah selesai dibereskan. Mereka harus bertransformasi ke platform agentic-first yang mencakup kode, cloud, hingga SOC agar bisa bergerak lebih cepat dari penyerang.”
API, Identitas, dan Pergerakan Lateral Jadi Titik Lemah
Laporan ini juga menandai pergeseran medan perang keamanan cloud. Penyerang tidak lagi hanya mengeksploitasi aplikasi di permukaan, tetapi mulai menembus lapisan fundamental cloud.
Serangan terhadap API melonjak 41%, seiring meningkatnya ketergantungan agentic AI pada API untuk beroperasi. API kini menjadi “pintu depan” baru bagi peretas tingkat lanjut.
Masalah identitas juga kian krusial. Sebanyak 53% responden mengakui praktik identity and access management (IAM) yang longgar sebagai tantangan utama. Lemahnya kontrol akses menjadikan pencurian kredensial dan eksfiltrasi data sebagai vektor serangan dominan.
Risiko lain datang dari pergerakan lateral. Sebanyak 28% responden menyoroti akses jaringan antar workload cloud yang tidak dibatasi, memungkinkan penyerang berpindah bebas dari satu sistem ke sistem lain, mengubah insiden kecil menjadi krisis besar.
Kompleksitas Alat Memperparah Risiko
Alih-alih memperkuat pertahanan, tumpukan alat keamanan justru menciptakan blind spot baru. Rata-rata organisasi mengelola 17 alat keamanan cloud dari lima vendor berbeda. Fragmentasi data dan konteks membuat respons insiden melambat.
Akibatnya, 97% organisasi kini memprioritaskan konsolidasi alat keamanan cloud.
Namun, silo antara tim cloud security dan SOC masih menjadi hambatan besar. Sekitar 30% tim membutuhkan waktu lebih dari satu hari untuk menyelesaikan satu insiden keamanan.
Tak mengherankan, 89% organisasi menyatakan keamanan cloud dan aplikasi harus terintegrasi penuh dengan SOC agar efektif.
Menuju Pertahanan End-to-End di Kecepatan Mesin
Ketika penyerang mulai mempersenjatai AI untuk mempercepat serangan, visibilitas statis dan alat yang terpisah-pisah tidak lagi memadai. Palo Alto Networks menekankan perlunya pendekatan end-to-end yang menggabungkan pencegahan risiko proaktif dan respons insiden reaktif dalam satu platform terpadu.
Melalui Cortex® Cloud™, perusahaan ini mengintegrasikan Cloud Native Application Protection Platform (CNAPP) dengan Cloud Detection and Response (CDR) dalam arsitektur agentic-first, mencakup keamanan dari tahap kode hingga SOC—sebuah upaya menjawab tantangan keamanan cloud di era AI.
Digionary:
● Agentic AI: Sistem AI yang mampu bertindak secara otonom untuk menjalankan tugas kompleks
● API (Application Programming Interface): Antarmuka yang memungkinkan sistem dan aplikasi saling berkomunikasi
● CDR (Cloud Detection and Response): Teknologi untuk mendeteksi dan merespons ancaman di lingkungan cloud
● CNAPP: Platform keamanan terpadu untuk aplikasi native cloud
● Cloud Attack Surface: Seluruh titik potensial yang dapat dieksploitasi penyerang di lingkungan cloud
● Data Exfiltration: Pencurian atau pengeluaran data secara ilegal dari sistem
● GenAI: Generative Artificial Intelligence, AI yang dapat menghasilkan teks, kode, atau konten baru
● IAM (Identity and Access Management): Sistem pengelolaan identitas dan hak akses pengguna
● Lateral Movement: Teknik penyerang berpindah antar sistem setelah berhasil masuk
● SOC (Security Operations Center): Pusat operasi pemantauan dan respons keamanan siber
#CyberSecurity #CloudSecurity #ArtificialIntelligence #AIThreats #PaloAltoNetworks #CloudComputing #GenAI #APIsecurity #DigitalTransformation #DataProtection #CyberAttack #EnterpriseIT #SecurityOperations #SOC #CloudRisk #AIgovernance #CyberDefense #TechNews #GlobalSecurity #DigitalRisk
