Menangkal Deepfake dan Fraud Digital, Privy Tancap Gas Bangun Ekosistem Digital Trust di 2026

- 5 Januari 2026 - 20:08

Menutup 2025 dengan lonjakan pengguna dan ekspansi internasional, Privy menegaskan posisinya sebagai tulang punggung digital trust Indonesia. Dengan 71 juta pengguna terverifikasi, jaminan keaslian dokumen hingga Rp 1 miliar, serta kemampuan menangkal ratusan juta upaya penipuan digital—including deepfake berbasis AI—Privy memasuki 2026 dengan strategi agresif memperkuat identitas digital, komunikasi terverifikasi, dan tanda tangan elektronik lintas sektor, sekaligus memperluas jejaknya di pasar global.


Fokus Utama:

■ Perang Melawan Penipuan Digital: Privy memosisikan diri sebagai benteng utama menghadapi fraud dan deepfake berbasis AI.
■ Skala dan Kepercayaan: 71 juta pengguna dan jaminan hingga Rp 1 miliar memperkuat legitimasi Privy sebagai penyedia digital trust.
■ Ekspansi Global: Masuknya Privy ke Australia menandai babak baru ekspor jasa teknologi tinggi Indonesia.


Di tengah ledakan penipuan online dan semakin canggihnya teknologi deepfake berbasis AI, kepercayaan menjadi mata uang paling mahal di era digital. Privy—penyedia identitas digital dan tanda tangan elektronik tersertifikasi—memilih menjawab tantangan itu dengan pendekatan yang jarang dilakukan: bukan sekadar memberi kepastian hukum, tetapi juga jaminan finansial atas keaslian transaksi digital.


Privy menutup tahun 2025 dengan catatan kinerja yang mencerminkan satu hal: kepercayaan digital bukan lagi wacana, melainkan kebutuhan mendesak. Perusahaan ini mencatat 71 juta pengguna individu terverifikasi dan 167.000 organisasi serta institusi yang aktif menggunakan layanannya—angka yang menempatkan Privy sebagai salah satu pemain digital trust terbesar di Indonesia.

CEO Privy, Marshall Pribadi, menegaskan posisi unik Privy dalam ekosistem keamanan digital nasional.
“Sebagai Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE) yang berinduk ke Kominfo RI, Privy memberikan Certificate Warranty hingga Rp 1 miliar untuk melindungi pengguna dari kerugian akibat dokumen yang ditandatangani dengan Sertifikat Privy yang terbukti tidak asli. Dengan begitu, setiap transaksi digital menjadi lebih aman dan sah secara hukum,” ujar Marshall.

Langkah ini menjadi diferensiasi penting di tengah meningkatnya risiko pemalsuan dokumen elektronik. Laporan berbagai lembaga keamanan siber global menunjukkan lonjakan signifikan kejahatan berbasis AI dalam dua tahun terakhir, terutama deepfake untuk penipuan identitas, kontrak, dan transaksi keuangan.
Privy mengklaim berada di garis depan dalam menghadapi ancaman tersebut.

“Cukup meminta mereka menandatangani dokumen melalui Privy atau berkomunikasi lewat Privy Chat, maka identitas mereka dijamin keasliannya. Sepanjang 2025, Privy berhasil mendeteksi dan mencegah lebih dari 122 juta upaya kecurangan digital atau fraud, termasuk pemalsuan identitas berbasis AI dan rekayasa dokumen elektronik,” jelas Marshall.

Angka tersebut mencerminkan skala ancaman yang dihadapi dunia digital Indonesia—sekaligus menegaskan peran Privy sebagai fondasi keamanan transaksi bagi individu, UMKM, korporasi, hingga institusi keuangan.

Ekspansi dan Validasi Global

Tak hanya bertumbuh di dalam negeri, 2025 juga menjadi tahun penting bagi ekspansi internasional Privy. Masuknya Privy ke pasar Australia menjadikannya perusahaan Indonesia pertama yang mengekspor jasa berteknologi tinggi di bidang digital trust ke negara tersebut.

“Ekspansi ke Australia menjadikan Privy perusahaan Indonesia pertama yang mengekspor jasa berteknologi tinggi ke pasar internasional. Pencapaian ini menegaskan peran Privy sebagai fondasi keamanan transaksi digital, baik untuk korporasi, UMKM, maupun individu,” imbuh Marshall.
Langkah ini sekaligus menjadi validasi bahwa standar keamanan dan tata kelola Privy mampu bersaing di pasar global yang dikenal sangat ketat terhadap isu perlindungan data dan privasi.

Memasuki 2026, Privy menegaskan arah strategisnya: memperkuat ekosistem digital trust yang tidak hanya aman secara teknologi, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan bisnis.
“Kami berkomitmen untuk terus berinovasi dan memperkuat ekosistem digital yang aman dan terpercaya. Sebab Privy hadir bukan hanya sebagai teknologi, tetapi sebuah jaminan kepercayaan bagi masyarakat dan dunia usaha,” kata Marshall.

Privy akan mengakselerasi pengembangan sejumlah fitur kunci, mulai dari Digital ID untuk akses lintas platform, Privy Chat sebagai kanal komunikasi terverifikasi, hingga tanda tangan elektronik tersertifikasi untuk dokumen perpajakan yang lebih canggih. “Semua ini mendukung transformasi digital Indonesia dan memperkuat posisi Privy di pasar global,” ungkap Marshall.

Di tengah agenda besar transformasi digital nasional, langkah Privy menegaskan bahwa keamanan, keaslian identitas, dan kepercayaan publik akan menjadi fondasi utama ekonomi digital Indonesia ke depan.


Digionary:

● Certificate Authority (CA): Lembaga penerbit sertifikat digital untuk menjamin keaslian identitas dan dokumen elektronik.
● Certificate Warranty: Jaminan finansial atas keaslian dokumen digital yang disertifikasi.
● Deepfake: Teknologi AI yang memanipulasi wajah, suara, atau identitas secara realistis untuk penipuan.
● Digital Trust: Kepercayaan terhadap sistem, identitas, dan transaksi di ekosistem digital.
● E-KYC: Proses verifikasi identitas nasabah secara elektronik.
● PSrE: Penyelenggara Sertifikasi Elektronik yang diakui pemerintah.

#Privy #DigitalTrust #IdentitasDigital #TandaTanganElektronik #KeamananDigital #AntiFraud #DeepfakeAI #TransformasiDigital #FintechIndonesia #CyberSecurity #EkonomiDigital #DigitalID #PrivyChat #KepercayaanDigital #AIsecurity #IndonesiaDigital #TeknologiFinansial #TrustEconomy #DataProtection #GlobalExpansion

Comments are closed.