Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan ambisi besar bagi pasar modal Indonesia. Dalam uji kelayakan di DPR, Hasan Fawzi memaparkan target agar kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) menembus Rp25.000 triliun pada 2031—setara sekitar 80% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Target ini juga disertai peningkatan jumlah investor hingga 30 juta dan nilai transaksi harian mencapai Rp35 triliun, sebuah agenda yang menandai upaya memperdalam pasar modal Indonesia di tengah persaingan regional yang semakin ketat.
Fokus:
■ Hasan Fawzi menargetkan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia mencapai Rp25.000 triliun pada 2031 atau sekitar 80% dari PDB nasional.
■ Jumlah investor pasar modal ditargetkan meningkat menjadi 30 juta SID, hampir dua kali lipat dibandingkan jumlah investor saat ini.
■ Likuiditas pasar diharapkan melonjak dengan rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp35 triliun.
Pasar modal Indonesia tengah diarahkan menuju fase ekspansi yang jauh lebih agresif. Dalam lima tahun ke depan, regulator ingin menjadikan bursa saham nasional sebagai salah satu pilar utama pembiayaan ekonomi.
Dalam uji kelayakan dan kepatutan calon Anggota Dewan Komisioner OJK di Komisi XI DPR, Hasan Fawzi memaparkan target ambisius: kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) ditargetkan mencapai Rp25.000 triliun pada 2031.
Target tersebut, menurutnya, setara dengan sekitar 80% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. “Sebagai arah penerapan visi tersebut kami menetapkan proyeksi-proyeksi kinerja strategis dalam periode lima tahun ke depan sampai dengan 2031 di mana ditargetkan kapitalisasi pasar akan mencapai angka Rp25.000 triliun atau mencapai sekitar 80% dari angka PDB nasional,” ungkap Hasan dalam uji kelayakan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Memperdalam Pasar Modal
Target tersebut menunjukkan upaya serius regulator untuk memperdalam pasar keuangan domestik. Selama ini, kapitalisasi pasar saham Indonesia masih relatif tertinggal dibandingkan beberapa negara di kawasan Asia.
Data BEI menunjukkan bahwa kapitalisasi pasar saham Indonesia pada awal 2026 berada di kisaran Rp12.000–Rp13.000 triliun. Artinya, untuk mencapai Rp25.000 triliun dalam lima tahun, pasar harus tumbuh hampir dua kali lipat.
Sebagai perbandingan, rasio kapitalisasi pasar terhadap PDB di negara seperti Singapura dan Malaysia telah berada di atas 100%. Bahkan di pasar keuangan yang matang seperti Amerika Serikat, rasio ini bisa melampaui 150%.
Dengan kata lain, target yang dipasang OJK sebenarnya merupakan upaya untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam kedalaman pasar modal.
Investor Ditargetkan Tembus 30 Juta
Selain memperbesar ukuran pasar, OJK juga menargetkan perluasan basis investor domestik. Hasan menyebut jumlah investor pasar modal Indonesia diharapkan meningkat menjadi 30 juta Single Investor Identification (SID) pada 2031.
Jumlah tersebut akan menjadi lompatan besar dibandingkan kondisi saat ini. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor pasar modal Indonesia pada 2025 telah menembus sekitar 13 juta SID.
Artinya, dalam lima tahun ke depan diperlukan penambahan sekitar 17 juta investor baru. Lonjakan tersebut diharapkan datang dari generasi muda, terutama investor ritel yang semakin aktif bertransaksi melalui platform digital.
Transaksi Harian Ditargetkan Rp35 Triliun
Selain jumlah investor, indikator lain yang disasar adalah likuiditas pasar. Hasan menargetkan rata-rata nilai transaksi harian di BEI bisa mencapai Rp35 triliun pada 2031.
“Angka RNTH rata-rata transaksi harian kita harapkan sudah mencapai angka 35 triliun per harinya. dan sejalan dengan itu terjadi peningkatan baik di sisi jumlah emiten maupun jumlah dana kelolaan dari para investor,” imbuhnya.
Saat ini, rata-rata nilai transaksi harian di BEI berada di kisaran Rp10–Rp15 triliun. Dengan demikian, target Rp35 triliun berarti likuiditas pasar harus meningkat lebih dari dua kali lipat.
Peningkatan ini biasanya terjadi jika jumlah investor bertambah, emiten baru masuk ke bursa, serta instrumen investasi semakin beragam.
Dinamika Kepemimpinan OJK
Pemaparan strategi tersebut juga muncul di tengah dinamika kepemimpinan regulator keuangan. Saat ini Hasan Fawzi menjabat sebagai pejabat sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ia menggantikan Inarno Djajadi yang sebelumnya mengundurkan diri dari posisi tersebut.
Selain itu, Hasan juga menjabat Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK. Peran ini membuatnya berada di posisi strategis dalam menghubungkan perkembangan teknologi keuangan dengan pertumbuhan pasar modal.
Ke depan, keberhasilan target kapitalisasi Rp25.000 triliun tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada reformasi struktural di pasar modal—mulai dari peningkatan kualitas emiten, perlindungan investor, hingga inovasi produk investasi.
Jika target tersebut tercapai, pasar modal Indonesia berpotensi menjadi salah satu pusat pembiayaan terbesar di Asia Tenggara.
Digionary:
● Emiten
Perusahaan yang menawarkan saham atau obligasi kepada publik melalui pasar modal.
● Kapitalisasi Pasar
Total nilai pasar seluruh saham yang diperdagangkan di bursa, dihitung dari harga saham dikalikan jumlah saham beredar.
● Likuiditas Pasar
Kemudahan suatu aset diperdagangkan di pasar tanpa mempengaruhi harga secara signifikan.
● PDB (Produk Domestik Bruto)
Total nilai barang dan jasa yang diproduksi suatu negara dalam periode tertentu, biasanya satu tahun.
● RNTH (Rata-rata Nilai Transaksi Harian)
Nilai rata-rata transaksi perdagangan saham yang terjadi setiap hari di bursa.
● SID (Single Investor Identification)
Nomor identitas tunggal bagi investor pasar modal di Indonesia yang diterbitkan oleh KSEI.
#PasarModal #BursaEfekIndonesia #OJK #HasanFawzi #IHSG #InvestorSaham #InvestasiIndonesia #EkonomiIndonesia #KapitalisasiPasar #SahamIndonesia #PasarKeuangan #LikuiditasPasar #Emiten #InvestasiRitel #KSEI #PertumbuhanEkonomi #FinancialMarket #StockMarketIndonesia #RegulasiKeuangan #InvestorMilenial
