Saham bank-bank raksasa Amerika Serikat rontok setelah laporan riset memicu kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan (AI) dan stablecoin dapat menggerus bisnis pembayaran tradisional. CEO Jamie Dimon menilai kepanikan pasar berlebihan dan menegaskan JPMorgan Chase justru akan menjadi pemenang, dengan belanja teknologi tahun ini mencapai US$20 miliar. Namun tekanan kompetisi fintech dan tuntutan transparansi investor menjadi ujian besar bagi bank terbesar di AS tersebut.
Fokus:
■ Laporan riset yang menyoroti potensi AI mengubah sistem pembayaran memicu kejatuhan saham bank dan perusahaan kartu kredit besar di Wall Street.
■ JPMorgan menambah belanja teknologi menjadi US$20 miliar pada 2026, naik US$2 miliar dari tahun sebelumnya, untuk memperkuat daya saing di era AI dan fintech.
■ Persaingan dari Chime, Revolut, PayPal, Stripe hingga popularitas stablecoin menekan model bisnis tradisional bank sebagai perantara pembayaran global.
Wall Street kembali diuji oleh ketakutan lama yang datang dengan wajah baru, yakni kecerdasan buatan. Pada awal pekan ini, saham sejumlah raksasa perbankan Amerika Serikat terjerembap setelah laporan riset menyebut AI berpotensi merombak sistem pembayaran global—salah satu ladang laba paling stabil bagi bank dan perusahaan kartu kredit. Pasar bereaksi cepat, bahkan brutal.

Saham American Express anjlok sekitar 7%. JPMorgan, Citigroup, dan Morgan Stanley turun lebih dari 4%. Mastercard merosot hampir 6%, sementara Visa melemah lebih dari 4%. Investor khawatir otomatisasi berbasis AI dan disrupsi teknologi dapat memangkas peran bank sebagai perantara transaksi.
Saham bank-bank besar AS rontok akibat kekhawatiran AI dan stablecoin. CEO JPMorgan Jamie Dimon menilai pasar bereaksi berlebihan dan menyiapkan belanja teknologi US$20 miliar untuk memperkuat daya saing.
Namun bagi Jamie Dimon, kepanikan itu terlalu jauh. “Menurut saya, kita akan menjadi pemenang,” katanya.
Dimon menegaskan bahwa JPMorgan tidak gagap menghadapi perubahan teknologi. Selama dua dekade kepemimpinannya, bank tersebut konsisten menggelontorkan dana besar untuk digitalisasi. Tahun ini saja, JPMorgan berencana membelanjakan US$20 miliar untuk teknologi—naik US$2 miliar dari tahun sebelumnya. Angka ini menjadikannya salah satu investor teknologi terbesar di industri perbankan global.
Menurut laporan tahunan perusahaan, JPMorgan telah mengintegrasikan AI ke dalam deteksi fraud, analisis risiko kredit, otomatisasi dokumen hukum, hingga personalisasi layanan nasabah. Bank tersebut juga mengembangkan model bahasa internal berbasis AI untuk membantu analis dan relationship manager meningkatkan produktivitas. Meski demikian, pasar ingin bukti konkret.
“Investor mencari lebih banyak transparansi dan akuntabilitas dalam pengeluaran teknologinya,” kata Mike Mayo, analis di Wells Fargo, seperti dikutip The Wall Streets Journal.
Ia menambahkan bahwa JPMorgan perlu menunjukkan bahwa mereka lebih mungkin menjadi penerima manfaat daripada korban dari kecerdasan buatan (AI).
Tekanan bukan hanya datang dari AI generatif. Dimon secara terbuka mengakui agresivitas pemain fintech.
“Ada banyak sekali perusahaan pembayaran: Chime, Revolut, PayPal, Stripe,” katanya.
“Kami kalah telak di beberapa bagian. Kami dikalahkan dengan telak. Kami juga harus bersaing di level itu. Kami tidak bisa hanya berpura-pura tidak tahu.”
Fenomena ini mencerminkan perubahan lanskap industri keuangan global. Menurut data McKinsey, pendapatan pembayaran global diperkirakan melampaui US$2 triliun pada akhir dekade ini, dengan pertumbuhan tercepat berasal dari solusi digital dan lintas batas. Sementara itu, laporan BIS menunjukkan transaksi berbasis stablecoin melonjak signifikan dalam beberapa tahun terakhir, menggerus sebagian peran bank dalam transfer internasional.
Stablecoin—mata uang kripto yang dipatok pada aset seperti dolar AS—menawarkan transfer instan dengan biaya lebih rendah. Bagi bank tradisional, ini bukan sekadar inovasi, melainkan ancaman langsung terhadap model bisnis settlement dan remittance.
Di tengah badai salju besar yang melanda wilayah New York, JPMorgan tetap menggelar investor day di kantor pusat barunya di 270 Park Avenue. Pesan manajemen konsisten: strategi tetap di jalur yang sama.
“Anda telah melihat bahwa banyak pesaing kami sekarang memiliki strategi yang sedikit mirip dengan apa yang kami lakukan, dan saya pikir meniru adalah bentuk pujian tertinggi,” kata Marianne Lake, kepala unit konsumen JPMorgan.
Investor juga menyoroti isu suksesi. Dimon, yang telah memimpin JPMorgan selama 20 tahun, mengatakan ia akan tetap menjabat “beberapa tahun sebagai CEO,” tanpa merinci tenggat waktu pasti. Pernyataan itu memberi ruang spekulasi sekaligus ketidakpastian.
Di balik gejolak harga saham, persoalan yang lebih besar sedang berlangsung: apakah bank raksasa seperti JPMorgan mampu bertransformasi cukup cepat di tengah revolusi AI?
Pasar tampaknya belum yakin sepenuhnya. Tetapi Dimon, seperti biasanya, memilih berdiri di garis depan—meyakinkan bahwa perubahan bukan ancaman, melainkan peluang.
Digionary:
● Artificial Intelligence (AI): Teknologi kecerdasan buatan yang memungkinkan sistem komputer melakukan tugas analitis dan otomatis.
● Fintech: Perusahaan teknologi finansial yang menyediakan layanan keuangan digital.
● Investor Day: Forum tahunan perusahaan untuk memaparkan strategi kepada investor.
● Stablecoin: Aset kripto yang nilainya dipatok pada mata uang atau aset tertentu agar lebih stabil.
● Wall Street: Pusat industri keuangan Amerika Serikat.
● Wealth Management: Layanan pengelolaan kekayaan dan investasi untuk nasabah.
#JamieDimon #JPMorgan #WallStreet #SahamAS #ArtificialIntelligence #Fintech #Stablecoin #PasarSaham #TeknologiKeuangan #BankGlobal #InvestasiTeknologi #DigitalBanking #DisrupsiKeuangan #McKinsey #BIS #AmericanExpress #Visa #Mastercard #Citigroup #MorganStanley
