Kinerja BCA sepanjang 2025 menunjukkan mesin bisnis bank swasta terbesar di Indonesia ini tetap bekerja stabil di tengah tekanan pasar modal. Kredit tumbuh 7,71% sesuai target, laba naik 4,93% menjadi Rp57,54 triliun, kualitas aset membaik, dan dana murah (CASA) makin dominan. Namun, di saat fundamental menguat, harga saham BBCA justru terkoreksi tajam—turun 6,54% sejak awal tahun dan 18,03% dalam setahun. Di sinilah paradoks BCA 2025: banknya sehat, pasarnya cemas.
Fokus:
■ Pertumbuhan kredit dan laba tetap sesuai jalur, kualitas aset makin sehat.
■ Dominasi CASA dan lonjakan transaksi digital memperkuat fondasi likuiditas.
■ Target 2026 lebih agresif, tetapi pasar saham justru menunjukkan kekhawatiran.
Di saat banyak bank berhati-hati menekan pedal ekspansi, BCA justru menutup 2025 dengan ritme yang terjaga: kredit tumbuh, laba naik, kualitas aset membaik, dana murah menguat, dan transaksi digital melonjak. Tetapi pasar saham membaca cerita yang berbeda. Harga BBCA turun lebih dari 18% dalam setahun terakhir. Pertanyaannya: apa yang dilihat investor yang tidak tercermin di laporan keuangan?
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menutup 2025 dengan performa yang, di atas kertas, nyaris tanpa cela. Laba bersih konsolidasian tumbuh 4,93% secara tahunan menjadi Rp57,54 triliun. Penyaluran kredit naik 7,71% menjadi Rp992,89 triliun—tepat berada dalam rentang target 6–8% yang ditetapkan manajemen di awal tahun.
Struktur kredit BCA masih ditopang kuat oleh kredit usaha yang naik 9,9% menjadi Rp756,5 triliun. Sementara itu, kredit konsumen mencapai Rp224,1 triliun, dengan porsi terbesar berasal dari KPR sebesar Rp142,3 triliun, diikuti KKB Rp56,6 triliun dan kartu kredit Rp25,2 triliun.
Yang menarik, pertumbuhan ini tidak dibayar dengan penurunan kualitas. Rasio NPL gross justru turun menjadi 1,71%. “Kualitas kredit BCA terjaga, tercermin dari rasio loan at risk (LAR) yang membaik ke 4,8% dibandingkan 5,3% pada tahun sebelumnya,” ungkap manajemen.
Di sisi pendanaan, BCA menunjukkan kekuatan klasiknya: dana murah. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 10,2% menjadi Rp1,25 kuadriliun. CASA naik lebih tinggi lagi, 13,1% menjadi Rp1,05 kuadriliun, setara 83,67% dari total DPK. Konsekuensinya, rasio loan-to-deposit (LDR) justru turun tipis menjadi 76,75%—memberi ruang likuiditas yang sangat longgar untuk ekspansi berikutnya.
Kredit BCA tumbuh 7,71%, laba tembus Rp57,54 triliun, kualitas aset membaik. Namun saham BBCA turun 18% setahun. Mengapa pasar tidak sejalan dengan kinerja bank?
Transaksi menjadi indikator lain betapa kuatnya mesin operasional BCA. Sepanjang 2025, frekuensi transaksi naik 17% menjadi 42 miliar. Kanal digital—mobile banking dan internet banking—tumbuh lebih cepat lagi, 19%. “Pada puncaknya, BCA pernah memproses transaksi hingga hampir 300 juta dalam satu hari,” ungkap manajemen.
Hingga akhir Desember 2025, total aset BCA mencapai Rp1,6 kuadriliun, tumbuh 9,5%, dengan ekuitas Rp281,69 triliun. “Dukungan besar dari pemerintah dan otoritas membantu kami melewati 2025 dan menorehkan kinerja positif,” ujar Presiden Direktur BBCA Hendra Lembong.
Untuk 2026, BCA bahkan memasang target lebih tinggi. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, manajemen membidik pertumbuhan kredit 8–10% dengan NIM di kisaran 5,4–5,6%, sedikit turun dari realisasi 5,7% pada 2025. Namun di sinilah ironi muncul. Di hari yang sama laporan kinerja ini beredar, saham BBCA ditutup melemah 1,96% di level Rp7.500. Sejak awal tahun, harga sudah turun 6,54%. Dalam setahun terakhir, koreksinya mencapai 18,03%.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar tidak hanya melihat angka hari ini, tetapi membaca risiko ke depan: potensi penurunan margin bunga, kompetisi likuiditas yang makin ketat di industri perbankan, tekanan suku bunga global, serta perlambatan ekonomi domestik yang mulai terasa di sektor riil.
Dengan kata lain, kinerja 2025 mencerminkan masa lalu yang kuat, sementara harga saham mencerminkan ekspektasi masa depan yang lebih penuh kehati-hatian. BCA mungkin sedang berada di fase yang jarang terjadi: fundamental sangat sehat, tetapi sentimen pasar sedang waspada.
Digionary:
● CASA: Dana murah dari giro dan tabungan yang menjadi sumber likuiditas utama bank
● DPK: Dana Pihak Ketiga yang dihimpun dari masyarakat
● Ekuitas: Modal bersih perusahaan setelah dikurangi kewajiban
● KKB: Kredit Kendaraan Bermotor
● KPR: Kredit Pemilikan Rumah
● LAR: Loan at Risk, indikator potensi kredit bermasalah
● LDR: Loan to Deposit Ratio, rasio penyaluran kredit terhadap dana
● NIM: Net Interest Margin, selisih bunga kredit dan dana
● NPL: Non Performing Loan, kredit bermasalah
● Transaksi digital: Aktivitas perbankan melalui mobile dan internet banking
#BCA #BBCA #KinerjaBank #SahamBBCA #PerbankanIndonesia #LaporanKeuangan #KreditPerbankan #CASA #DPK #NPL #NIM #LDR #DigitalBanking #MobileBanking #EkonomiIndonesia #PasarModal #FundamentalKuat #InvestasiSaham #BankSwasta #Keuangan
Keywords SEO
