Rencana pemerintahan Donald Trump membatasi bunga kartu kredit hingga 10% mengguncang sektor perbankan Amerika Serikat. Saham bank-bank besar Wall Street tertekan karena investor khawatir kebijakan ini justru menggerus akses kredit, memangkas laba, dan berisiko menekan stabilitas sistem keuangan AS secara lebih luas.
Fokus:
■ Rencana pembatasan bunga kartu kredit 10% memicu aksi jual saham bank AS karena berpotensi memangkas laba dan meningkatkan risiko kredit konsumen.
■ Perbankan dan pelaku industri menilai kebijakan populis ini justru mengancam akses kredit jutaan warga AS serta stabilitas ekonomi.
■ Ketegangan antara Gedung Putih, bank, dan The Fed memperbesar ketidakpastian regulasi sektor keuangan AS di awal 2026.
Wall Street kembali bergejolak. Kali ini, pemicunya bukan inflasi atau suku bunga acuan The Fed, melainkan wacana kebijakan Gedung Putih. Rencana Presiden Donald Trump membatasi bunga kartu kredit maksimal 10% langsung menekan saham bank-bank besar Amerika Serikat, memicu kekhawatiran serius soal masa depan kredit konsumen.
Saham emiten perbankan Amerika Serikat kompak melemah pada Selasa (20/1/2026), setelah investor mencermati tenggat waktu yang ditetapkan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk memberlakukan pembatasan bunga kartu kredit sebesar 10%.
Pemerintah AS menyebut kebijakan ini bertujuan meningkatkan keterjangkauan kredit bagi konsumen. Namun, perbankan melihatnya dari sudut pandang berbeda. Bagi bank, pembatasan bunga berpotensi menggerus kemampuan mereka memitigasi risiko kredit, terutama pada pinjaman kartu kredit tanpa agunan.
Rencana Trump membatasi bunga kartu kredit 10% mengguncang saham bank AS. Investor khawatir akses kredit menyempit dan ekonomi tertekan.
Ketidakpastian kebijakan tersebut langsung tercermin di pasar. Saham JPMorgan Chase turun 3,1%, Citigroup anjlok 4,4%, dan Wells Fargo melemah 1,9%. Bank investasi juga tak luput dari tekanan. Morgan Stanley merosot 3,7%, sementara Goldman Sachs terkoreksi 1,9%.
Trump telah meminta perusahaan-perusahaan mematuhi aturan tersebut mulai Selasa, meski hingga kini belum jelas apakah kebijakan itu dapat diterapkan secara sepihak tanpa persetujuan Kongres.
“Untuk saat ini, ini adalah hambatan, tetapi hambatan itu dapat segera hilang jika lebih berupa seruan kepada Kongres untuk melakukan sesuatu — daripada tindakan kebijakan spesifik oleh kantor eksekutif,” kata Brian Jacobsen, Kepala Strategi Ekonomi Annex Wealth Management, seperti dikutip Reuters.
Dari Davos, CEO Citigroup Jane Fraser secara terbuka meragukan kelanjutan kebijakan ini. “Presiden benar dalam memfokuskan pada keterjangkauan. Tetapi pembatasan suku bunga tidak akan baik untuk ekonomi AS,” ujarnya kepada CNBC.
Nada serupa disampaikan CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon. Pekan lalu, Dimon memperingatkan bahwa kebijakan ini justru berpotensi merugikan konsumen. JPMorgan bahkan mengisyaratkan tidak menutup kemungkinan menempuh jalur hukum.
Tekanan terhadap sektor perbankan terjadi di tengah memburuknya relasi pemerintahan Trump dengan industri keuangan. Gedung Putih sebelumnya menuding bank membatasi layanan keuangan untuk sejumlah industri kontroversial. Pemerintah juga meluncurkan penyelidikan terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell, menambah lapisan ketidakpastian baru.
Asosiasi Perbankan Amerika memperingatkan dampak kebijakan ini tidak sepele. Berdasarkan data penerbit kartu kredit, setidaknya 137 juta pemegang kartu dan hingga 159 juta calon pengguna berisiko kehilangan akses kartu kredit jika batas bunga diberlakukan.
Survei Asosiasi Perbankan Konsumen menunjukkan enam dari 10 orang dewasa AS memperkirakan bank akan menaikkan biaya lain dan memperketat persetujuan kredit sebagai kompensasi.
“Data tersebut menegaskan apa yang sudah diketahui oleh warga Amerika yang bekerja keras, para pembuat undang-undang dari kedua kubu, dan para ahli di bidang ini: pembatasan suku bunga kartu kredit yang diberlakukan pemerintah akan merugikan konsumen dengan mengurangi akses ke kredit, membahayakan program hadiah kartu kredit, dan mengancam perekonomian secara luas,” kata Presiden CBA Lindsey Johnson.
CEO U.S. Bancorp Gunjan Kedia menambahkan, “Perkiraan kami adalah bahwa lebih dari 90% klien kami akan merasakan dampak buruk jika ada pembatasan suku bunga 10% secara menyeluruh pada kartu kredit.”
Analis menilai bank kemungkinan akan mencari jalan tengah melalui produk inovatif, seperti kartu dengan bunga lebih rendah namun tanpa program imbalan, atau dengan menurunkan batas kredit. TD Cowen mencatat, kompromi politik masih terbuka lebar agar kebijakan ini tidak diterapkan secara ekstrem.
Foto: thewallstreetjournal.com
Digionary:
● Akses Kredit: Kemampuan konsumen memperoleh fasilitas pinjaman dari lembaga keuangan
● Bunga Kartu Kredit: Biaya bunga atas saldo pinjaman kartu kredit
● Kartu Kredit Tanpa Agunan: Kredit tanpa jaminan aset
● Regulasi Perbankan: Aturan pemerintah yang mengatur aktivitas bank
● Risiko Kredit: Potensi gagal bayar debitur
● Wall Street: Simbol pasar keuangan Amerika Serikat
#BankAS #WallStreet #DonaldTrump #BungaKartuKredit #RegulasiPerbankan #EkonomiAS #Citigroup #JPMorgan #GoldmanSachs #MorganStanley #WellsFargo #SahamBank #KebijakanTrump #KreditKonsumen #PasarKeuangan #TheFed #Inflasi #InvestasiGlobal #FinansialGlobal #Reuters
