Transformasi Besar Dimulai, BTN Ubah Wajah dari Bank KPR Jadi Bank Keluarga

- 15 Maret 2026 - 17:30

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mempercepat transformasi bisnis untuk memperkuat posisinya sebagai bank yang melayani kebutuhan finansial keluarga Indonesia secara menyeluruh. Transformasi ini mencakup modernisasi operasional kredit melalui sistem loan factory, penguatan mesin pendanaan berkelanjutan, pengembangan layanan digital, hingga peremajaan jaringan kantor cabang. Langkah tersebut menjadi bagian dari visi BTN 2025–2029 untuk bertransformasi dari bank spesialis KPR menjadi bank dengan layanan keuangan yang lebih komprehensif.


Fokus:

■ Transformasi BTN menuju bank layanan finansial keluarga, tidak lagi hanya fokus pada KPR.
■ Modernisasi operasional kredit melalui sistem loan factory yang terpusat dan digital.
■ Peremajaan cabang dan ekspansi layanan digital untuk meningkatkan pengalaman nasabah.


PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mulai mengubah wajah bisnisnya. Bank yang selama puluhan tahun identik dengan kredit pemilikan rumah (KPR) itu kini mempercepat transformasi agar mampu menyediakan layanan keuangan yang lebih lengkap bagi keluarga Indonesia. Transformasi tersebut mencakup pembaruan operasional kredit, modernisasi jaringan kantor cabang, hingga pengembangan layanan digital. Semua langkah ini menjadi bagian dari implementasi visi baru BTN periode 2025–2029: “Mitra Utama dalam Pemberdayaan Finansial Keluarga Indonesia.”

Direktur Operations BTN I Nyoman Sugiri Yasa menegaskan perubahan ini bukan sekadar pembaruan kosmetik, tetapi transformasi menyeluruh pada model bisnis.

“Kami akan mengubah image itu bahwa bank BTN bisa memberikan layanan full banking services. Artinya kalau finansial keluarga itu, ada pembiayaan, investasi, transaksi, dan segala macam kebutuhan perbankan lainnya. Apalagi di era digital sekarang ini,” kata Nyoman dalam acara Talk Show & Anugerah Jurnalistik dan Foto BTN 2026 di Jakarta.

Dari Bank KPR ke Layanan Finansial Keluarga

Selama ini BTN dikenal sebagai bank spesialis pembiayaan perumahan. Data industri menunjukkan lebih dari 40% pangsa pasar KPR nasional dikuasai BTN. Namun model bisnis yang terlalu bergantung pada kredit perumahan dinilai membuat ruang pertumbuhan bank menjadi terbatas.

Karena itu BTN mulai mendorong strategi beyond mortgage — memperluas layanan keuangan di luar pembiayaan rumah.

Melalui pendekatan ini, nasabah yang mengambil KPR di BTN diharapkan juga menggunakan berbagai produk keuangan lain milik bank tersebut. Misalnya layanan payroll, kartu kredit, investasi, kredit multiguna, pembiayaan kendaraan, hingga kredit renovasi rumah seperti Kredit Ringan (KRING) BTN.

Nyoman menjelaskan strategi tersebut juga memperkuat pendekatan cross selling yang selama ini menjadi sumber pertumbuhan bank-bank besar dunia.

“Ketika nasabah membeli rumah melalui KPR, mereka juga berpotensi membutuhkan produk finansial lainnya. Melalui strategi ini, BTN dapat menyediakan beragam solusi keuangan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia,” ungkapnya.

Mesin Baru Operasional Kredit

Transformasi BTN juga menyasar sektor operasional kredit yang selama ini tersebar di berbagai wilayah.

Sebelumnya, pengolahan kredit konsumer BTN dilakukan melalui enam Regional Loan Processing Center (RLPC) yang berada di Cawang, Bekasi, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar. Model ini dinilai memiliki sejumlah kelemahan, mulai dari standar proses yang tidak seragam hingga kontrol operasional yang belum sepenuhnya terpusat.

Untuk mengatasi hal tersebut, BTN kini menerapkan sistem loan factory, yaitu sistem pengolahan kredit terpusat berbasis digital.
“Dengan loan factory, proses KPR diproses di satu sentral. Kami mengedepankan proses digital agar layanan lebih cepat, akurat, transparan, dan memiliki standar yang sama,” terang Nyoman.

Pendekatan ini juga mengikuti praktik perbankan global yang mulai mengadopsi model centralized credit processing untuk meningkatkan efisiensi dan menekan risiko operasional.

Memperkuat Mesin Pendanaan

Selain memperbaiki operasional kredit, BTN juga menaruh perhatian besar pada penguatan sumber pendanaan.

Dalam industri perbankan, funding merupakan bahan bakar utama untuk menyalurkan kredit. Tanpa dana murah yang kuat, bank akan kesulitan memperluas pembiayaan.

Nyoman mengatakan penguatan sustainable funding menjadi salah satu prioritas utama BTN. “Penguatan funding menjadi salah satu fokus utama yang terus diperbaiki. Upaya ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan sumber pendanaan yang stabil dan berkelanjutan,” ujarnya.

Data industri menunjukkan tantangan utama BTN memang berada pada komposisi dana pihak ketiga (DPK). Bank dengan dominasi kredit perumahan biasanya memiliki struktur dana yang lebih mahal dibanding bank dengan basis transaksi tinggi. Karena itu, transformasi menuju bank layanan finansial keluarga diharapkan dapat meningkatkan dana murah atau CASA (Current Account Saving Account) melalui peningkatan transaksi nasabah.

Modernisasi Kantor Cabang

Transformasi BTN juga terlihat pada jaringan kantor cabangnya. Sepanjang 2025, BTN membuka 20 kantor cabang baru, merelokasi 29 kantor cabang, serta melakukan re-layout terhadap 10 cabang untuk menciptakan konsep layanan yang lebih modern.

Selama ini citra cabang BTN kerap dianggap birokratis dan kaku. “Kami ingin mengubah kesan lama bahwa kantor cabang bank itu kuno dan birokratis. Ke depan, cabang BTN akan menyesuaikan perkembangan zaman dengan konsep yang lebih modern dan dinamis,” ujar Nyoman.

Beberapa cabang yang telah menggunakan konsep baru antara lain berada di kawasan Pondok Indah, Harmoni, Kuningan, dan Central Park.

Bank Hadir di Tengah Aktivitas Masyarakat

Selain cabang konvensional, BTN juga mengembangkan konsep BTN Digital Store.
Layanan ini menghadirkan outlet perbankan di lokasi aktivitas masyarakat seperti pusat perbelanjaan dan kawasan komersial.

Menariknya, beberapa digital store bahkan menggandeng merek kopi lokal untuk menciptakan suasana layanan yang lebih santai. Saat ini 24 BTN Digital Store telah beroperasi di berbagai kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Semarang.

“Kami hadir di area komersial, di mal dan pusat keramaian. Konsepnya adalah outlet yang bisa melayani kapan saja melalui digital store. Tapi tetap ada superstaff yang membantu nasabah,” jelas Nyoman.

Dengan konsep ini, BTN ingin mengubah paradigma lama layanan bank. “Jadi bukan hanya nasabah yang datang ke bank, tetapi bank yang hadir di tempat orang-orang beraktivitas,” ujarnya.

Pengelolaan Dokumen Kredit Lebih Modern

Transformasi BTN juga menyentuh aspek yang jarang terlihat publik: pengelolaan dokumen kredit. Dengan portofolio KPR yang sangat besar, pengelolaan dokumen agunan menjadi isu penting bagi bank.

Karena itu BTN membangun Records Center, pusat penyimpanan dokumen kredit dengan sistem keamanan tinggi.

Fasilitas tersebut kini tersedia di beberapa kota seperti Bandung, Semarang, Surabaya, dan Gandul Jakarta.

“Portofolio KPR BTN sangat besar sehingga tata kelola dokumen agunan harus dilakukan secara baik dan aman. Karena itu kami membangun records center dengan sistem yang lebih modern. Ruang penyimpanan tahan api, rayap, dan high secured. Penyimpanan dengan dossier box, bukan amplop,” jelasnya.

Fondasi Pertumbuhan Baru

Melalui rangkaian transformasi ini, BTN berharap dapat memperkuat efisiensi operasional sekaligus meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah. Lebih jauh lagi, perubahan tersebut diharapkan mampu membawa BTN keluar dari citra lama sebagai bank spesialis KPR menuju bank dengan layanan keuangan yang lebih luas.

Nyoman optimistis fondasi pertumbuhan bisnis BTN kini sudah jauh lebih kuat.
“Fundamental dalam pertumbuhan bisnis yang sustainable sudah kita bangun. Dan kita sekarang siap untuk melayani masyarakat Indonesia,” tandasnya.


Digionary:

● Beyond Mortgage — strategi bank untuk memperluas layanan keuangan di luar kredit perumahan.
● CASA — dana murah perbankan yang berasal dari giro dan tabungan.
● Cross Selling — strategi menjual lebih dari satu produk kepada nasabah yang sama.
● Customer Experience — pengalaman keseluruhan nasabah saat menggunakan layanan bank.
● Digital Store — konsep layanan bank berbasis digital di lokasi komersial seperti mal.
● Funding — sumber dana bank yang digunakan untuk menyalurkan kredit.
● Loan Factory — sistem pengolahan kredit terpusat berbasis digital untuk meningkatkan efisiensi.
● Records Center — pusat penyimpanan dokumen kredit dengan sistem keamanan tinggi.
● RLPC (Regional Loan Processing Center) — pusat pengolahan kredit regional milik BTN sebelum sistem sentralisasi diterapkan.
● Sustainable Funding — strategi memperoleh sumber pendanaan jangka panjang yang stabil.

#BTN #BankBTN #TransformasiPerbankan #IndustriPerbankan #BankIndonesia #PerbankanDigital #KPR #MortgageBank #DigitalBanking #TransformasiDigital #CustomerExperience #LoanFactory #SustainableFunding #EkonomiIndonesia #PerbankanNasional #KeuanganKeluarga #DigitalStore #StrategiPerbankan #BankBUMN #FintechIndonesia

Comments are closed.