Permintaan emas oleh bank sentral dunia anjlok tajam pada Januari 2026—turun 82% dibandingkan rata-rata bulanan 2025. Namun di balik perlambatan itu, basis negara pembeli justru melebar. Sejumlah bank sentral di Asia dan Eropa Timur kembali atau mulai masuk pasar, mempertegas bahwa emas tetap menjadi jangkar cadangan devisa di tengah ketidakpastian geopolitik dan perubahan tatanan global.
Fokus:
■ Penurunan tajam 82%: Pembelian emas bank sentral Januari hanya 5 ton, jauh di bawah rata-rata 2025.
■ Basis pembeli melebar: Negara-negara seperti Malaysia dan Korea kembali masuk pasar, memperluas spektrum permintaan.
■ Geopolitik jadi pendorong utama: Ketegangan global dan perubahan tatanan ekonomi mendorong emas tetap relevan sebagai lindung nilai strategis.
Langkah bank-bank sentral dunia mengoleksi emas mendadak melambat pada awal 2026. Data terbaru menunjukkan pembelian bersih Januari hanya 5 ton—jauh di bawah rata-rata bulanan 27 ton sepanjang 2025. Meski demikian, tren yang lebih menarik justru muncul: semakin banyak negara masuk ke pasar emas, memperluas basis permintaan di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian arah ekonomi global.

Permintaan Turun Tajam, Hanya 5 Ton
Laporan bulanan World Gold Council (WGC) mencatat pembelian bersih emas bank sentral pada Januari 2026 mencapai 5 ton. Angka ini kurang dari 20% rata-rata pembelian bulanan 2025 yang sebesar 27 ton—setara penurunan sekitar 82%.
Permintaan emas bank sentral turun 82% pada Januari 2026, namun semakin banyak negara masuk pasar. Laporan World Gold Council mengungkap arah baru strategi cadangan devisa di tengah ketegangan geopolitik global.
Marissa Salim, Senior Research Lead APAC WGC, menulis, “Momentum pembelian emas oleh bank sentral mereda di awal tahun dibandingkan rata-rata 12 bulan sebelumnya sebesar 27 ton. Pembelian bersih Januari mencapai 5 ton. Harga emas yang volatil dan musim liburan mungkin membuat sebagian bank sentral menahan diri, meski ketegangan geopolitik yang belum mereda kemungkinan akan menjaga akumulasi tetap berlangsung hingga 2026 dan seterusnya.”
Secara historis, sejak 2022 bank sentral global memang agresif memborong emas sebagai bagian dari diversifikasi cadangan devisa. Data WGC menunjukkan pembelian tahunan bank sentral sempat menembus lebih dari 1.000 ton pada 2022 dan 2023—level tertinggi dalam beberapa dekade. Perlambatan Januari 2026 lebih mencerminkan jeda taktis ketimbang perubahan arah strategi.
Asia dan Eropa Timur Dominan
Aktivitas Januari terkonsentrasi di Asia dan Eropa Timur. Bank Sentral Uzbekistan menjadi pembeli terbesar dengan tambahan 9 ton, melanjutkan tren beli sejak Oktober.
Cadangan emas negara itu kini mencapai 399 ton. Porsi emas dalam total cadangan devisa Uzbekistan melonjak dari 57% pada periode yang sama 2020 menjadi 86% per Januari 2026—lonjakan signifikan yang menandakan orientasi kuat pada aset lindung nilai.
Malaysia muncul sebagai nama baru. Bank Negara Malaysia membeli 3 ton—kenaikan pertama sejak 2018. Total cadangan emasnya kini 42 ton, sekitar 5% dari total cadangan devisa.
Republik Ceko dan Indonesia masing-masing membeli 2 ton, sementara China dan Serbia menambah 1 ton. China mencatat 15 bulan berturut-turut menambah emas, mendorong porsi emasnya mendekati 10% dari total cadangan.
Di sisi lain, Bank Rusia menjadi penjual bersih terbesar dengan melepas 9 ton. Bank Nasional Bulgaria menjual 2 ton sebagai bagian dari proses adopsi euro yang efektif per 1 Januari 2026, menjadikannya anggota ke-21 Uni Eropa. Kazakhstan dan Kirgistan masing-masing melepas 1 ton.
Korea Selatan Pilih Jalur ETF
Sorotan lain datang dari Korea Selatan. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, Bank of Korea (BOK) mengumumkan rencana memasukkan ETF emas fisik yang tercatat di luar negeri ke dalam portofolio cadangan devisanya mulai kuartal I-2026.
“Bank of Korea mengumumkan rencana untuk memasukkan ETF emas fisik yang tercatat di luar negeri ke dalam portofolio cadangan devisanya mulai kuartal pertama 2026, menandai investasi terkait emas pertamanya sejak 2013,” tulis Salim. “BOK menyebut likuiditas dan kemudahan diperdagangkan sebagai keunggulan utama struktur ETF dibandingkan emas fisik.”
Saat ini BOK memegang 104 ton emas fisik—sekitar 4% dari total cadangan devisanya—dan berada di peringkat ke-41 secara global.
Namun pendekatan lewat ETF tergolong tidak lazim. Salim mencatat, “Survei Cadangan Emas Bank Sentral 2025 kami menemukan bahwa mengakses emas melalui ETF relatif jarang di kalangan bank sentral. Tidak satu pun responden yang kami survei memilih metode tersebut untuk membeli emas.”
Basis Permintaan Melebar di Tengah Geopolitik
Meski volume Januari kecil, WGC menilai perluasan basis pembeli bisa menjadi tema penting sepanjang 2026.
“Seperti yang terlihat pada Januari, bank sentral Malaysia dan Korea kembali menunjukkan minat untuk meningkatkan eksposur emas setelah absen cukup lama,” tulis Salim. “10–15 hari ke depan bisa menjadi krusial dalam membentuk lanskap geopolitik tahun ini, seiring ketegangan AS–Iran yang terus meningkat tanpa tanda penyelesaian diplomatik. Laju kuat akumulasi emas oleh bank sentral sejak 2022 berkaitan erat dengan bagaimana negara-negara memposisikan diri dalam tatanan dunia yang berubah.”
Di tengah fragmentasi geopolitik, meningkatnya penggunaan sanksi finansial, dan kekhawatiran terhadap volatilitas dolar AS, emas kembali dipandang sebagai aset netral—bebas risiko gagal bayar dan tidak bergantung pada satu yurisdiksi. ●
Digionary:
● Bank Sentral: Lembaga moneter yang mengelola kebijakan uang dan cadangan devisa suatu negara.
● Cadangan Devisa: Aset luar negeri yang disimpan bank sentral untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mata uang.
● Diversifikasi Cadangan: Strategi menyebar aset ke berbagai instrumen untuk mengurangi risiko.
● ETF Emas: Reksa dana berbasis emas yang diperdagangkan di bursa, merepresentasikan kepemilikan emas fisik.
● Geopolitik: Dinamika politik global yang memengaruhi hubungan dan stabilitas antarnegara.
● Pembelian Bersih: Selisih antara jumlah pembelian dan penjualan dalam periode tertentu.
● Volatilitas Harga: Tingkat fluktuasi harga dalam periode waktu tertentu.
● World Gold Council (WGC): Organisasi riset industri emas global yang memantau tren permintaan dan pasokan emas.
#Emas #GoldReserve #BankSentral #WorldGoldCouncil #CadanganDevisa #EkonomiGlobal #Geopolitik #InvestasiEmas #PasarKomoditas #ETFEmas #DiversifikasiAset #MoneterGlobal #HargaEmas #KrisisGlobal #Uzbekistan #Malaysia #China #KoreaSelatan #Rusia #StrategiInvestasi
