Ketergantungan Uni Eropa pada Visa dan Mastercard kian dipandang sebagai risiko strategis di tengah memanasnya relasi transatlantik. Lewat proyek dompet digital WERO, regulasi pembayaran instan, hingga rencana euro digital, Eropa berupaya merebut kembali kedaulatan sistem pembayarannya. Namun jalan menuju otonomi finansial masih panjang dan penuh tantangan struktural.
Fokus:
■ Sekitar 61% transaksi kartu euro-area dikelola merek AS, dengan volume mencapai US$4,7 triliun pada 2023.
■ Proyek swasta EPI, regulasi SEPA instan, TIPS, dan rencana euro digital menjadi fondasi otonomi finansial baru.
■ Ketergantungan pada sistem asing kini dipandang sebagai risiko strategis, bukan sekadar persoalan efisiensi pasar.
Setiap detik, jutaan warga Eropa menggesek kartu atau menekan tombol bayar tanpa berpikir panjang. Namun di balik transaksi itu, ada fakta yang kini membuat Brussel gelisah dimana sebagian besar infrastruktur pembayaran Eropa dikendalikan perusahaan Amerika. Dalam iklim geopolitik yang kian panas, ketergantungan itu berubah dari sekadar efisiensi pasar menjadi persoalan kedaulatan.

Data menunjukkan dominasi dua raksasa kartu asal AS—Visa dan Mastercard—sangat besar di kawasan euro. Pada 2023, keduanya memproses sekitar US$4,7 triliun volume pembayaran di Uni Eropa. Di 13 dari 21 negara zona euro, transaksi kartu internasional berjalan eksklusif melalui skema global tersebut. Sekitar 61% transaksi kartu di kawasan euro ditangani merek AS.
Uni Eropa berupaya lepas dari dominasi Visa dan Mastercard lewat WERO, pembayaran instan, dan euro digital. Apakah Eropa benar-benar siap membangun kedaulatan finansialnya sendiri?
Angka itu bukan sekadar statistik. Di tengah ketegangan hubungan Uni Eropa–AS, muncul kekhawatiran bahwa 450 juta warga Eropa bisa terdampak jika akses terhadap infrastruktur pembayaran internasional terganggu.
Presiden European Central Bank (ECB), Christine Lagarde, mengingatkan, “Jika kita kehilangan kendali atas uang kita, kita kehilangan kendali atas nasib ekonomi kita. Dan kita menyerahkan salah satu atribut utama kedaulatan.”
WERO: Tiket Otonomi atau Sekadar Eksperimen?
Jawaban paling ambisius datang dari sektor swasta yakni WERO, dompet digital dan sistem pembayaran instan antar-rekening (account-to-account/A2A) yang diluncurkan 2024 di Jerman, Prancis, dan Belgia. Proyek ini digagas oleh European Payment Initiative (EPI).
Menurut Ludovic Francesconi dari EPI, WERO adalah tentang melengkapi arsitektur kedaulatan pembayaran Eropa dengan alternatif Eropa yang dapat diskalakan.
WERO memungkinkan transfer instan menggunakan nomor ponsel, email, atau kode QR—tanpa melalui jaringan kartu tradisional. Targetnya ambisius: menjadi alternatif penuh bagi Visa dan Mastercard pada 2027, termasuk untuk transaksi e-commerce lintas negara.
Namun Judith Arnal dari Centre for European Policy Studies mengingatkan, proyek ini harus memenuhi syarat ketat. “WERO harus memenuhi syarat utama untuk bersaing dengan Visa dan Mastercard. Harus hemat biaya bagi pedagang, nyaman bagi konsumen, aman dari penipuan, serta memiliki sistem penyelesaian sengketa yang memadai,” katanya seperti dikutip Euronews.com.
Ia juga menegaskan, “Alih-alih menghilangkan Visa atau Mastercard, Uni Eropa seharusnya membangun alternatifnya sendiri berdampingan dengan sistem AS.”
Regulasi, Euro Digital, dan Infrastruktur Baru
Langkah Uni Eropa tidak berhenti pada WERO. Pada 2024, aturan SEPA Instant Payment mulai berlaku, mewajibkan bank menyediakan transfer euro instan dalam hitungan detik dengan biaya setara transfer biasa. Sistem TIPS (TARGET Instant Payment Settlement) yang dioperasikan ECB menjadi rel infrastruktur penyelesaian real-time antarbank.
Selain itu, proyek euro digital—mata uang digital bank sentral—digadang sebagai pilar kedaulatan baru. ECB menilai ketergantungan berlebihan pada skema internasional dan raksasa teknologi global berisiko terhadap perlindungan data, ketahanan sistem, dan kekuatan pasar.
Komite Ekonomi dan Moneter Parlemen Eropa bahkan menyerukan “Airbus sistem pembayaran Eropa”—sebuah metafora untuk proyek industri strategis berskala benua.
Ancaman itu bukan teoritis. Pada 2022, Visa dan Mastercard menghentikan operasional di Rusia pasca invasi Ukraina. Dampaknya langsung terasa: isolasi finansial dan gangguan transaksi domestik. Preseden ini membuat Eropa sadar bahwa pembayaran bukan lagi sekadar infrastruktur komersial, melainkan bagian dari ketahanan ekonomi kritis.
Biaya Fragmentasi dan Taruhan €500 Miliar
Fragmentasi pasar tunggal, termasuk di sektor pembayaran, diperkirakan merugikan Uni Eropa hingga €500 miliar per tahun dalam potensi PDB. Pedagang di zona euro menghabiskan sekitar €3 miliar per tahun hanya untuk biaya menerima kartu debit asing.
Menurut Francesconi, kerugian terbesar bukan sekadar finansial. “Kerugian ekonomi terbesar bukan hanya finansial—tetapi strategis—kita berbicara tentang kendali atas data konsumen, peluang periklanan, batas pertumbuhan, dan sebagainya,” katanya. ●
Digionary:
● A2A (Account-to-Account): Sistem pembayaran langsung antar rekening tanpa perantara jaringan kartu.
● Digital Euro: Mata uang digital resmi yang diterbitkan bank sentral Eropa.
● Fragmentasi Pasar Tunggal: Kondisi ketika integrasi ekonomi Uni Eropa tidak berjalan optimal antarnegara anggota.
● SEPA Instant Payment: Skema transfer euro instan lintas negara dalam hitungan detik.
● Sovereignty (Kedaulatan Finansial): Kendali suatu kawasan atas sistem keuangan dan moneternya sendiri.
● TIPS (TARGET Instant Payment Settlement): Infrastruktur penyelesaian pembayaran instan real-time milik ECB.
#UniEropa #Visa #Mastercard #WERO #DigitalEuro #ECB #ChristineLagarde #PembayaranDigital #KedaulatanFinansial #SEPA #TIPS #EkonomiEropa #Geopolitik #TransaksiDigital #Fintech #SistemPembayaran #OtonomiStrategis #ZonaEuro #BankSentral #EkonomiGlobal
