PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) membukukan laba bersih konsolidasian Rp57,13 triliun sepanjang 2025, ditopang pertumbuhan kredit 12,67% menjadi Rp1.517,07 triliun dan dana pihak ketiga (DPK) yang naik 7,42% menjadi Rp1.466,84 triliun. Meski profitabilitas tetap kuat, sejumlah rasio seperti ROA, ROE, dan NIM mengalami penurunan di tengah kenaikan beban pencadangan dan tekanan kualitas kredit.
Fokus:
■ BRI membukukan laba Rp57,13 triliun meski lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
■ Kredit tumbuh 12,67%, melampaui rata-rata industri, mendorong LDR ke 91,96%.
■ NPL dan beban pencadangan meningkat, menekan ROA, ROE, dan NIM.
Di tengah dinamika suku bunga dan tekanan kualitas kredit, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. tetap menunjukkan taji. Sepanjang 2025, bank pelat merah dengan fokus pembiayaan UMKM ini membukukan laba bersih konsolidasian Rp57,13 triliun.

Angka itu memang sedikit lebih rendah dibandingkan capaian 2024 sebesar Rp60,3 triliun. Namun dalam konteks perlambatan global dan kenaikan biaya pencadangan, kinerja tersebut tetap mencerminkan daya tahan model bisnis BRI.
BRI mencatat laba Rp57,13 triliun pada 2025 dengan pertumbuhan kredit 12,67%. Namun kenaikan NPL dan beban pencadangan menekan rasio profitabilitas. Simak analisis lengkap kinerja BBRI.
Penopang utama laba berasal dari pendapatan bunga yang mencapai Rp207,78 triliun, tumbuh 4,27% dibandingkan Rp199,27 triliun pada tahun sebelumnya. Beban bunga naik lebih moderat 1,20% menjadi Rp57,28 triliun, sehingga pendapatan bunga bersih (NII) meningkat 5,52% menjadi Rp150,50 triliun.
Jika digabung dengan pendapatan jasa asuransi, total pendapatan bunga bersih dan jasa asuransi bersih mencapai Rp151,79 triliun, naik 5,54%.
Kredit Tumbuh Dua Digit, Intermediasi Makin Agresif
BRI menjaga peran intermediasinya secara agresif. Kredit dan pembiayaan syariah secara konsolidasian mencapai Rp1.517,07 triliun, tumbuh 12,67% dibandingkan Rp1.348,2 triliun pada 2024.
Secara rinci, kredit konvensional naik 12,5% menjadi Rp1.460,72 triliun, sementara pembiayaan syariah melonjak 12,9% menjadi Rp56,35 triliun. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan kredit industri perbankan nasional yang pada 2025 berada di kisaran 10% menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Artinya, BRI masih menjadi motor utama ekspansi kredit nasional, terutama di segmen UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung perseroan.
Sejalan dengan ekspansi tersebut, loan to deposit ratio (LDR) naik menjadi 91,96% dari 89,39%, menandakan fungsi intermediasi yang semakin agresif namun tetap dalam batas aman.
Dana Murah Menguat, Likuiditas Tetap Terjaga
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 7,42% menjadi Rp1.466,84 triliun. Giro melonjak 19,66% menjadi Rp448,20 triliun, tabungan naik 7,93% menjadi Rp587,58 triliun, sementara deposito sedikit turun menjadi Rp431,05 triliun.
Komposisi dana murah atau CASA (current account saving account) menguat 12,11% menjadi Rp1.035,78 triliun. Penguatan CASA penting untuk menjaga biaya dana (cost of fund) tetap efisien di tengah persaingan likuiditas.
Total aset BRI pun meningkat 7,1% menjadi Rp2.135,37 triliun, memperkokoh posisinya sebagai salah satu bank dengan aset terbesar di Indonesia.
Profitabilitas Tertekan, Pencadangan Meningkat
Di balik pertumbuhan kredit yang impresif, tekanan mulai terlihat pada kualitas aset. Beban kerugian penurunan nilai (impairment) melonjak 20,8% menjadi Rp46,09 triliun dari Rp38,14 triliun pada 2024.
Rasio kredit bermasalah (NPL) gross naik menjadi 3,29% dari 2,94%, sedangkan NPL net meningkat menjadi 0,96% dari 0,75%. Meski demikian, cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) tetap dijaga di level Rp82,89 triliun.
Dari sisi profitabilitas, return on assets (ROA) turun menjadi 2,64% dari 2,99%, sementara return on equity (ROE) melemah ke 16,84% dari 18,40%. Net interest margin (NIM) juga terkoreksi tipis ke 6,54% dari 6,75%.
Efisiensi operasional ikut tertekan. Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) naik menjadi 71,50% dari 67,64%. Cost to income ratio (CIR) meningkat ke 38,92% dari 37,87%.
Meski begitu, rasio kecukupan modal (KPMM) tetap solid di 21,06%, jauh di atas ketentuan minimum regulator, meski turun dari 24,41% tahun sebelumnya.
Digionary
● BOPO: Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional, indikator efisiensi bank.
● CASA: Dana murah yang berasal dari giro dan tabungan.
● CKPN: Cadangan kerugian penurunan nilai atas kredit bermasalah.
● CIR (Cost to Income Ratio): Rasio biaya terhadap pendapatan, mengukur efisiensi operasional.
● KPMM: Rasio kecukupan modal bank sesuai ketentuan regulator.
● LDR (Loan to Deposit Ratio): Rasio kredit terhadap dana pihak ketiga.
● NII (Net Interest Income): Pendapatan bunga bersih setelah dikurangi beban bunga.
● NIM (Net Interest Margin): Margin bunga bersih terhadap aset produktif.
● NPL: Rasio kredit bermasalah terhadap total kredit.
● ROA: Tingkat pengembalian aset.
● ROE: Tingkat pengembalian terhadap ekuitas.
#BRI #BBRI #LabaBRI #KinerjaBank #PerbankanIndonesia #BankBUMN #UMKM #KreditPerbankan #NPL #NIM #ROA #ROE #DPK #CASA #LDR #OJK #EkonomiIndonesia #SahamBBRI #InvestasiSaham #BankHimbara
