Dividen Naik 65%, StanChart Bukukan Laba US$7 Miliar pada 2025

- 27 Februari 2026 - 07:01
Standard Chartered Bank Indonesia menggulirkan pendanaan untuk pinjaman konsumen digital dengan total limit hingga US$70 juta atau setara Rp1 triliun melalui perusahaan teknologi finansial PT Kredit Pintar Indonesia (Kredit Pintar). Kerja sama ini merupakan bagian dari kemitraan global Standard Chartered dengan Atome Financial. Adapun, Kredit Pintar merupakan bagian dari Atome Financial, yang sebelumnya telah disepakati dan diumumkan pada Oktober 2021.

Standard Chartered membukukan laba sebelum pajak US$7 miliar pada 2025, naik 16% berkat kinerja kuat bisnis global banking dan wealth management. Namun capaian itu sedikit di bawah ekspektasi analis sebesar US$7,2 miliar. Di tengah hasil yang solid tapi tak spektakuler, bank yang fokus di Asia dan Afrika ini meluncurkan buyback saham US$1,5 miliar dan menaikkan dividen 65%, sembari menghadapi sorotan soal suksesi kepemimpinan setelah mundurnya CFO Diego De Giorgi.


Fokus:

■ Laba sebelum pajak mencapai US$7 miliar, sedikit di bawah konsensus US$7,2 miliar analis.
■ Strategi penguatan nilai pemegang saham melalui pembelian kembali saham dan kenaikan dividen signifikan.
■ Mundurnya CFO memicu spekulasi suksesi CEO di tengah evaluasi program efisiensi besar.


Standard Chartered menutup 2025 dengan kinerja yang secara kasat mata impresif. Laba sebelum pajak bank berbasis di London itu melonjak 16% menjadi US$7 miliar, ditopang performa solid lini global banking dan wealth management.

Namun pasar tak sekadar melihat pertumbuhan. Konsensus 16 analis sebelumnya memperkirakan laba mencapai US$7,2 miliar. Selisih US$200 juta memang tipis, tetapi cukup untuk menandai bahwa ekspektasi terhadap bank yang banyak beroperasi di Asia dan Afrika ini masih sangat tinggi.

Standard Chartered mencetak laba US$7 miliar, naik 16% namun di bawah ekspektasi analis. Bank meluncurkan buyback US$1,5 miliar dan menaikkan dividen 65%, di tengah sorotan isu suksesi kepemimpinan.

Sebagai respons, manajemen mengumumkan pembelian kembali saham (share buyback) senilai US$1,5 miliar yang akan segera dimulai. Tak hanya itu, dividen tahunan juga dinaikkan 65% dibanding tahun sebelumnya—sinyal tegas bahwa arus kas perusahaan berada dalam kondisi sehat.

Chief Executive Officer Bill Winters mengatakan momentum pertumbuhan masih kuat di pasar-pasar utama bank. “Kami melihat pertumbuhan yang kuat di pasar-pasar utama kami, dan pergeseran struktural dalam perdagangan serta investasi global menjadi kekuatan khas kami dalam melayani kebutuhan lintas negara dan perbankan nasabah affluent,” ujarnya.

Asia dan Afrika Jadi Mesin Uang

Tidak seperti banyak bank Inggris lain yang bergantung pada pasar domestik, Standard Chartered memperoleh mayoritas pendapatannya dari Asia, Afrika, dan Timur Tengah. Kawasan-kawasan ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang relatif lebih tinggi dibanding Eropa Barat.

Menurut proyeksi IMF terbaru, pertumbuhan ekonomi Asia berkembang pada 2026 diperkirakan tetap berada di atas rata-rata global, didorong konsumsi domestik dan arus investasi regional. Kondisi ini menjadi angin segar bagi bisnis pembiayaan perdagangan (trade finance), wealth management, serta layanan perbankan lintas negara—segmen yang menjadi andalan StanChart.

Lonjakan aktivitas wealth management juga mencerminkan meningkatnya jumlah individu dengan kekayaan tinggi (high-net-worth individuals) di Asia. Laporan berbagai lembaga konsultan global menunjukkan Asia kini menjadi pusat pertumbuhan populasi miliarder dan jutawan dolar baru.

Buyback dan Dividen: Strategi Menjaga Kepercayaan Investor

Buyback US$1,5 miliar bukan sekadar aksi korporasi rutin. Dalam konteks industri perbankan global yang menghadapi tekanan margin akibat fluktuasi suku bunga, langkah ini menjadi sinyal bahwa manajemen yakin terhadap prospek jangka menengah.

Program pembelian kembali saham umumnya bertujuan meningkatkan laba per saham (EPS) serta memberikan dukungan harga saham di pasar. Sementara kenaikan dividen 65% memperkuat daya tarik bagi investor jangka panjang yang memburu imbal hasil stabil.

Langkah ini juga mencerminkan posisi permodalan yang solid, di tengah pengawasan regulator global yang semakin ketat pascakrisis perbankan regional di AS dan Eropa dalam beberapa tahun terakhir.

Isu Suksesi Bayangi Kinerja

Di balik laporan keuangan yang relatif kuat, perhatian investor juga tertuju pada dinamika internal. Mundurnya Chief Financial Officer Diego De Giorgi secara mendadak untuk bergabung dengan Apollo Global Management memicu spekulasi.

De Giorgi dianggap sebagai kandidat internal terkuat untuk menggantikan Winters, yang kini berusia 64 tahun dan telah menjabat selama satu dekade—menjadikannya CEO dengan masa jabatan terlama di antara bank-bank besar Inggris.

Kepergian De Giorgi juga berarti hilangnya salah satu arsitek utama program efisiensi “Fit for Growth”, yang dijadwalkan menjalani tinjauan penting pada Mei mendatang. Program ini dirancang untuk memangkas biaya dan meningkatkan produktivitas operasional di tengah tekanan kompetisi global.

Isu kepemimpinan menjadi krusial karena pasar biasanya sensitif terhadap transisi manajemen, terutama di institusi keuangan besar dengan eksposur lintas negara.

Tantangan dan Peluang di Depan Mata
Meski kinerja 2025 solid, tantangan tetap ada. Ketidakpastian geopolitik, fragmentasi perdagangan global, serta volatilitas suku bunga bisa memengaruhi arus modal lintas negara—segmen yang menjadi kekuatan StanChart.

Namun di sisi lain, pergeseran rantai pasok global dan meningkatnya perdagangan intra-Asia justru membuka peluang baru. Bank dengan jaringan kuat di pasar berkembang seperti StanChart berpotensi menjadi penghubung utama dalam arsitektur ekonomi global yang semakin multipolar.

Dengan kombinasi pertumbuhan laba 16%, buyback agresif, dan kenaikan dividen 65%, Standard Chartered menunjukkan bahwa ia masih menjadi pemain penting di pasar berkembang. Pertanyaannya kini bukan apakah bank ini mampu mencetak laba—melainkan apakah ia bisa terus melampaui ekspektasi yang semakin tinggi.


Digionary:

● Buyback Saham: Aksi perusahaan membeli kembali sahamnya dari pasar untuk meningkatkan nilai pemegang saham.
● Chief Executive Officer (CEO): Pimpinan tertinggi perusahaan yang bertanggung jawab atas strategi dan kinerja.
● Chief Financial Officer (CFO): Eksekutif yang bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan perusahaan.
● Dividen: Pembagian laba perusahaan kepada pemegang saham.
● Earnings Per Share (EPS): Laba bersih dibagi jumlah saham beredar.
● Emerging Markets: Negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi relatif tinggi.
● Fit for Growth: Program efisiensi biaya dan restrukturisasi operasional.
● Global Banking: Layanan perbankan untuk korporasi besar dan institusi multinasional.
● High-Net-Worth Individuals: Individu dengan kekayaan bersih tinggi.
● Konsensus Analis: Rata-rata proyeksi kinerja perusahaan dari sejumlah analis.
● Laba Sebelum Pajak: Keuntungan perusahaan sebelum dikurangi kewajiban pajak.
● Wealth Management: Layanan pengelolaan kekayaan untuk nasabah individu kaya.

#StandardChartered #StanChart #LabaBank #BuybackUS15Miliar #Dividen65Persen #KinerjaKeuangan #LaporanKeuangan2025 #BankGlobal #PerbankanAsia #EmergingMarkets #WealthManagement #GlobalBanking #SahamStanChart #InvestorGlobal #PasarModal #EkonomiGlobal #BisnisInternasional #KeuanganDunia #AnalisisBank #BeritaEkonomi

Comments are closed.