PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) mencetak lonjakan laba bersih 48,5% sepanjang 2025 menjadi Rp1,66 triliun, didorong turunnya biaya provisi 28,7% dan perbaikan kualitas aset. Di tengah perlambatan kredit korporasi, bank ini mengandalkan pertumbuhan ritel dan SME, efisiensi biaya, serta penguatan modal dengan CAR 27,3%.
Fokus:
■ Lonjakan laba 48,5% didorong penurunan provisi 28,7% dan perbaikan kualitas aset.
■ Pertumbuhan selektif: kredit korporasi dikurangi, ritel dan SME tumbuh sekitar 5%.
■ Modal dan likuiditas kuat: CAR 27,3%, CASA 57,6%, NPL tetap terkendali.
Di tengah tekanan likuiditas dan persaingan ketat industri perbankan, PT Bank Maybank Indonesia Tbk justru mencatatkan akselerasi laba yang solid. Sepanjang 2025, bank berkode saham BNII itu membukukan lonjakan laba bersih hampir 50%—sebuah capaian yang lahir dari kombinasi disiplin biaya, perbaikan kualitas kredit, dan strategi penyeimbangan portofolio.

Kinerja 2025 menjadi titik balik bagi Maybank Indonesia. Laba sebelum pajak (PBT) tercatat Rp2,22 triliun, tumbuh 38,9% dibanding tahun sebelumnya. Sementara laba setelah pajak dan kepentingan nonpengendali (PATMI) melonjak 48,5% menjadi Rp1,66 triliun.
Laba Maybank Indonesia melonjak 48,5% pada 2025 menjadi Rp1,66 triliun. Turunnya provisi, kualitas aset membaik, dan strategi efisiensi menjadi kunci penguatan fundamental BNII di tengah ketidakpastian ekonomi.
Motor utama pertumbuhan ini bukan semata ekspansi agresif, melainkan penurunan beban provisi yang signifikan sebesar 28,7%. Perbaikan kualitas aset membuat ruang profitabilitas terbuka lebih lebar. Rasio kredit bermasalah (NPL) terjaga di 2,2% (gross) dan 1,3% (net), mencerminkan manajemen risiko yang relatif solid di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pendapatan bunga bersih (NII) naik tipis 1,6% secara tahunan dengan margin bunga bersih (NIM) 4,3%. Di sisi lain, pendapatan nonbunga tumbuh lebih kuat 8,1%. Kombinasi ini mendorong gross operating income (GOI) naik 3,1% menjadi Rp9,55 triliun. Laba operasional sebelum provisi (PPOP) pun meningkat 4,8% ke Rp3,10 triliun.
Dari sisi intermediasi, total kredit tercatat Rp123,64 triliun, turun 3,1% akibat penyeimbangan portofolio korporasi. Namun kredit ritel dan SME masih tumbuh sekitar 5%, sejalan dengan tren industri yang mulai mengandalkan segmen konsumsi domestik sebagai penopang pertumbuhan. Total aset bank mencapai Rp193,72 triliun.
Likuiditas terjaga dengan rasio CASA 57,6%, mencerminkan struktur pendanaan yang relatif murah. Sementara itu, permodalan tetap tebal dengan CAR 27,3%, jauh di atas ketentuan minimum regulator dan rata-rata industri perbankan nasional yang berada di kisaran 25%.
Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan mengatakan, 2025 menjadi momentum penguatan fundamental. “Di sepanjang 2025, kami berfokus untuk meningkatkan kualitas pendapatan yang mumpuni serta berkelanjutan pada sejumlah lini bisnis kami yang terus menunjukkan perkembangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, disiplin biaya dan optimalisasi struktur pendanaan menjadi kunci peningkatan profitabilitas sekaligus memperkuat daya tahan neraca.
Di lini syariah, kinerja bahkan lebih agresif. Laba sebelum pajak melonjak 104% menjadi Rp847 miliar, dengan pertumbuhan pembiayaan 8–13% di berbagai segmen. Ini menunjukkan potensi bisnis syariah yang masih terbuka lebar di Indonesia, seiring meningkatnya literasi dan inklusi keuangan syariah.
Presiden Komisaris Dato’ Sri Khairussaleh Ramli menegaskan bahwa capaian ini selaras dengan strategi grup. “Maybank Group baru-baru ini meluncurkan strategi ROAR30, yang merupakan rencana lima tahun paling ambisius dalam sejarah Grup. Strategi ini dibangun di atas momentum yang telah diciptakan melalui M25+ yang berfokus pada percepatan pertumbuhan, penguatan kapabilitas bisnis dan teknologi, serta keberlanjutan Maybank untuk generasi mendatang,” paparnya.
Strategi ROAR30 menekankan misi Humanising Financial Services—pendekatan layanan berbasis nilai dengan fokus pada pengalaman nasabah, dampak sosial, dan kontribusi terhadap ekonomi riil.
Di entitas anak, Maybank Finance membukukan pembiayaan Rp8,48 triliun atau naik 6,7% dengan PBT Rp593 miliar (+2,1%). Sementara WOM Finance mencatat pembiayaan Rp6,75 triliun (+8,8%), meski laba sebelum pajak turun 46,9% menjadi Rp175 miliar akibat kenaikan provisi.
Secara industri, kinerja Maybank Indonesia terjadi di tengah perlambatan pertumbuhan kredit nasional yang pada 2025 berada di kisaran satu digit. Dengan menjaga kualitas aset dan efisiensi, bank ini tampak memilih jalur konservatif namun terukur—sebuah strategi yang semakin relevan ketika volatilitas global masih tinggi dan tekanan biaya dana belum sepenuhnya mereda.
Digionary:
● CAR (Capital Adequacy Ratio): Rasio kecukupan modal bank untuk menyerap risiko kerugian.
● CASA: Dana murah yang berasal dari giro dan tabungan.
● GOI (Gross Operating Income): Total pendapatan operasional sebelum biaya operasional.
● NII (Net Interest Income): Pendapatan bunga bersih setelah dikurangi beban bunga.
● NIM (Net Interest Margin): Rasio keuntungan bunga terhadap aset produktif.
● NPL (Non-Performing Loan): Rasio kredit bermasalah.
● PBT (Profit Before Tax): Laba sebelum pajak.
● PPOP (Pre-Provision Operating Profit): Laba operasional sebelum pencadangan.
● Provisi: Cadangan kerugian atas potensi kredit macet.
● ROAR30: Strategi lima tahun Maybank Group untuk percepatan pertumbuhan dan transformasi.
#MaybankIndonesia #BNII #LabaBank #KinerjaKeuangan #PerbankanIndonesia #BankingNews #LaporanKeuangan #CAR #NPL #NIM #KreditRitel #SME #IndustriPerbankan #EkonomiIndonesia #BankSyariah #ROAR30 #HumanisingFinancialServices #InvestorDaily #SahamBNII #FundamentalBank
