Laba CIMB Niaga Tembus Rp6,93 Triliun, CASA Melonjak dan Kredit Tumbuh 8,87%

- 26 Februari 2026 - 11:22
Pada 2020 lalu CNAF telah menerapkan inovasi digital seperti self services termasuk apply kredit dari platform mobile CNAF, tanda tangan digital agar aplikasi kredit nasabah dilakukan tanpa kertas dan tanda tangan basah dan verifikasi berbasis geotagging.

PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) membukukan laba bersih Rp6,93 triliun sepanjang 2025, naik tipis 0,53% YoY di tengah tekanan margin industri perbankan. Pertumbuhan kredit 8,87% dan dana murah (CASA) yang melonjak 10,1% menjadi penopang utama, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) terjaga di 1,81% dan CAR solid di 24,8%. Kinerja ini menegaskan daya tahan bank di tengah kompetisi likuiditas dan suku bunga yang masih tinggi.


Fokus:

■ Laba bersih Rp6,93 triliun naik 0,53% YoY, ditopang kenaikan laba operasional 5,02% dan efisiensi biaya.
■ Kredit naik 8,87% YoY menjadi Rp182,59 triliun. CASA tumbuh 10,1% dengan rasio 70%, memperkuat struktur pendanaan.
■ NPL terjaga 1,81%, CAR 24,8%, ROE 13,0%, cost to income ratio 45,9%—menunjukkan permodalan dan kualitas aset yang sehat.


Di tengah kompetisi likuiditas yang ketat dan biaya dana yang belum sepenuhnya jinak, PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) menutup 2025 dengan laba bersih Rp6,93 triliun—naik tipis 0,53% dibandingkan tahun sebelumnya Rp6,9 triliun. Angka ini mungkin terlihat moderat, tetapi mencerminkan ketahanan model bisnis bank saat margin industri tertekan.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, laba sebelum pajak mencapai Rp8,82 triliun, tumbuh 1,11% YoY. Pendapatan bunga naik 1,83% menjadi Rp24,67 triliun. Setelah dikurangi beban bunga Rp11,19 triliun, pendapatan bunga bersih tercatat Rp13,48 triliun atau tumbuh 1,58% YoY.

CIMB Niaga (BNGA) mencetak laba Rp6,93 triliun pada 2025. Kredit tumbuh 8,87%, CASA naik 10,1%, NPL terjaga 1,81% dan CAR 24,8%. Fundamental tetap solid di tengah tekanan margin perbankan.

Yang mencolok adalah disiplin biaya. Beban operasional selain bunga bersih menyusut 4,28% menjadi Rp4,69 triliun. Hasilnya, laba operasional naik 5,02% menjadi Rp8,78 triliun. Rasio cost to income ratio terjaga di 45,9%—indikator efisiensi yang relatif kompetitif di industri.

Di sisi intermediasi, kredit tumbuh 8,87% YoY menjadi Rp182,59 triliun. Meski pembiayaan syariah turun menjadi Rp55,72 triliun dari Rp60,29 triliun, secara total kredit dan pembiayaan naik 4,5% menjadi Rp238,3 triliun.

Pendanaan juga menunjukkan fondasi yang kian kuat. Dana pihak ketiga (DPK) naik 3,79% menjadi Rp270,52 triliun. Giro tercatat Rp103,08 triliun, tabungan Rp86,38 triliun, dan deposito Rp81,06 triliun. Dana murah (CASA) tumbuh 10,1% menjadi Rp189,5 triliun dengan rasio CASA 70,0%.

Struktur pendanaan murah ini penting di tengah suku bunga acuan yang sepanjang 2025 masih berada di level relatif tinggi. CASA yang kuat membantu menahan lonjakan biaya dana dan menjaga margin bunga bersih.

Dari sisi kualitas aset, gross NPL terjaga di 1,81%, menunjukkan manajemen risiko yang relatif prudent. Sementara rasio kecukupan modal (CAR) berada di 24,8%—jauh di atas ambang minimum regulator—memberi ruang ekspansi lebih lanjut. Return on equity (ROE) tercatat 13,0%, mencerminkan tingkat pengembalian yang tetap menarik bagi pemegang saham.

Namun, pos laba nonoperasional menyusut tajam dari Rp365,81 miliar menjadi Rp43,24 miliar akibat turunnya pendapatan nonoperasional lainnya. Ini menjadi salah satu faktor yang menahan laju pertumbuhan laba bersih secara keseluruhan.

Secara industri, pertumbuhan kredit perbankan nasional pada 2025 berada di kisaran tinggi satu digit, sejalan dengan data otoritas yang menunjukkan ekspansi kredit sekitar 8%–10%. Dalam konteks itu, capaian 8,87% menempatkan CIMB Niaga sejalan dengan tren industri.

Ke depan, tantangan tetap ada: kompetisi menghimpun dana murah, risiko perlambatan ekonomi global, serta dinamika kualitas kredit di sektor-sektor sensitif. Namun dengan CAR 24,8% dan NPL terkendali, bank memiliki bantalan yang memadai.

Bagi investor, pesan yang muncul jelas: pertumbuhan mungkin tidak spektakuler, tetapi fundamental tetap solid. Di tengah siklus suku bunga dan volatilitas global, konsistensi sering kali lebih bernilai daripada lonjakan sesaat.


Digionary:

● Capital Adequacy Ratio (CAR): Rasio kecukupan modal bank untuk menyerap risiko kerugian.
● CASA: Current Account Saving Account, dana murah dari giro dan tabungan.
● Cost of Credit: Biaya pencadangan atas potensi kredit bermasalah.
● Cost to Income Ratio: Rasio efisiensi yang membandingkan biaya operasional dengan pendapatan operasional.
● Dana Pihak Ketiga (DPK): Dana yang dihimpun bank dari masyarakat dalam bentuk giro, tabungan, dan deposito.
● Gross NPL: Rasio kredit bermasalah sebelum dikurangi pencadangan.
● Net Interest Income: Pendapatan bunga bersih setelah dikurangi beban bunga.
● Return on Equity (ROE): Tingkat pengembalian laba terhadap modal pemegang saham.

#CIMBNiaga #BNGA #LabaBank #KinerjaBank2025 #PerbankanIndonesia #KreditTumbuh #CASA #DPK #NPL #CAR #ROE #LaporanKeuangan #EmitenBank #SahamBNGA #IndustriPerbankan #EkonomiIndonesia #FundamentalBank #MarginBunga #BankSwasta #InvestasiSaham

Comments are closed.