Singapura Jadi Safe Haven Baru: DBS, OCBC, UOB Panen Dana Orang Kaya Asia

- 26 Februari 2026 - 07:35

Tiga bank terbesar di Singapura—DBS Group Holdings, OCBC, dan United Overseas Bank—menarik dana kelolaan baru senilai S$77 miliar sepanjang 2025. Lonjakan ini dipicu ketegangan geopolitik global dan perubahan kebijakan pajak di sejumlah negara yang mendorong orang-orang kaya Asia memindahkan aset ke yurisdiksi yang lebih stabil. Peralihan ini mempertegas transformasi model bisnis bank Singapura yang makin bergantung pada fee wealth management di tengah margin kredit yang menyempit.


Fokus:

■ Ketegangan global, relasi AS–China yang membeku, konflik di Eropa dan Timur Tengah, serta perubahan pajak di Inggris mendorong relokasi aset ke Singapura sebagai pusat keuangan yang stabil dan prediktabel.
■ Margin bunga menyempit, bank mengalihkan fokus ke pengelolaan kekayaan. Fee wealth management melonjak signifikan, memperkuat kontribusi non-bunga terhadap pendapatan.
■ Indonesia, India, Tiongkok, Hong Kong, dan Taiwan menjadi sumber pertumbuhan baru. Bank berlomba memperluas private banking untuk klien high-net-worth lintas negara.


Di tengah dunia yang makin tak menentu, uang selalu mencari tempat yang tenang. Tahun lalu, uang itu mengalir deras ke Singapura.

Tiga raksasa perbankan Negeri Singa—DBS, OCBC, dan UOB—membukukan total dana kelolaan baru bersih (net new money) sebesar S$77 miliar sepanjang 2025 atau lebih dari Rp1.000 triliun. Angka ini bukan sekadar statistik tahunan; ia mencerminkan pergeseran psikologi investor kaya Asia yang kini lebih sensitif terhadap risiko geopolitik dan perubahan kebijakan pajak lintas negara.

DBS memimpin dengan arus masuk S$39 miliar, mengerek total aset kelolaan (AUM) wealth menjadi S$488 miliar. OCBC mencatat S$27 miliar dana baru, sehingga AUM wealth mencapai rekor S$343 miliar. UOB menyusul dengan S$11 miliar, mengangkat AUM high-net-worth ke S$201 miliar.

Bank-bank terbesar Singapura menarik S$77 miliar dana baru dari orang kaya Asia pada 2025. Ketegangan geopolitik dan perubahan pajak global mendorong relokasi aset ke pusat keuangan yang stabil.

Lonjakan ini terjadi saat margin bunga bersih (net interest margin) industri perbankan mulai tertekan. Dengan suku bunga global yang bergerak fluktuatif dan kompetisi kredit yang ketat, bank tak lagi bisa sepenuhnya mengandalkan selisih bunga. Mereka beralih ke fee-based income. Di OCBC, fee wealth management naik 33%. Di DBS, meningkat 29%.

CEO DBS Tan Su Shan menyebut pertumbuhan ini sebagai sesuatu yang “structural”. Artinya, bukan sekadar efek sesaat. “Saya sangat senang melihat pertumbuhan net new money yang mencetak rekor, yang bersifat struktural,” ujarnya seperti diberitakan Business Times. DBS kini menjadi salah satu pengelola kekayaan terbesar di Asia di luar Tiongkok, dengan ekspansi agresif di India, Indonesia, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura.

Singapura diuntungkan oleh reputasinya sebagai yurisdiksi stabil dengan regulasi yang konsisten. Ketika Inggris mengubah rezim pajak non-domisili dan memicu kegelisahan di kalangan warga kaya global, sebagian aset mencari pelabuhan alternatif. Singapura muncul sebagai kandidat utama, bersaing dengan Hong Kong dan Swiss.

OCBC, melalui unit Bank of Singapore, bahkan memperdalam penetrasi private banking di Indonesia—ekonomi terbesar di Asia Tenggara. “Kami sudah berada di sana selama 80 tahun. Kami terus berinvestasi dan sangat berkomitmen pada pasar Indonesia,” kata manajemen OCBC. Strateginya jelas, yakni naik kelas, membidik klien ultra-high-net-worth dengan aset domestik dan offshore.

Fenomena ini tidak hanya menguntungkan bank. Sektor asuransi ikut terdongkrak. Manulife Financial Corp, misalnya, menjual polis asuransi jiwa senilai US$300 juta di Singapura—diklaim sebagai yang terbesar dalam sejarah menurut Guinness World Records. Ini mempertegas posisi Singapura sebagai magnet wealth Asia.

Secara global, laporan konsultan seperti Capgemini World Wealth Report menunjukkan populasi high-net-worth individual di Asia-Pasifik terus bertambah, terutama di India dan Asia Tenggara. Arus kekayaan lintas batas kini makin cair, dan pusat keuangan yang mampu menjamin kepastian hukum serta efisiensi pajak akan menjadi pemenang.

Di balik angka S$77 miliar itu, tersimpan cerita yang lebih besar: bank Singapura sedang berevolusi. Dari sekadar penyalur kredit menjadi arsitek pengelolaan kekayaan regional. Di era volatilitas geopolitik, stabilitas bukan lagi sekadar keunggulan—ia menjadi komoditas paling berharga.


Digionary:

● AUM (Assets Under Management): Total nilai aset yang dikelola oleh institusi keuangan untuk klien.
● Fee-based income: Pendapatan berbasis komisi atau biaya jasa, bukan dari bunga kredit.
● Geopolitik: Dinamika politik global yang memengaruhi stabilitas ekonomi dan keamanan.
● High-Net-Worth Individual (HNWI): Individu dengan kekayaan finansial tinggi, umumnya di atas US$1 juta aset likuid.
● Net Interest Margin (NIM): Selisih antara pendapatan bunga dan beban bunga bank.
● Net New Money: Dana baru bersih yang masuk setelah dikurangi penarikan dana.
● Private Banking: Layanan perbankan eksklusif untuk nasabah kaya.
● Safe Haven: Instrumen atau yurisdiksi yang dianggap aman saat kondisi global bergejolak.
● Wealth Management: Layanan pengelolaan aset dan perencanaan keuangan terpadu.

#SingaporeBanks #WealthManagement #SafeHaven #DBS #OCBC #UOB #AsianWealth #Geopolitik #PrivateBanking #AUM #HighNetWorth #FinancialHub #AsiaFinance #GlobalInvesting #CrossBorderAssets #SafeJurisdiction #WealthShift #BankingTransformation #CapitalFlows #InvestmentStrategy

Comments are closed.