Bank Indonesia melaporkan uang beredar dalam arti luas (M2) menembus Rp10.117,8 triliun per Januari 2026, tumbuh 10% yoy—tertinggi sejak Juli 2022. Namun di saat yang sama, laju uang primer (M0 adjusted) justru melambat menjadi 14,7% yoy. Data ini mencerminkan likuiditas perbankan yang tetap ekspansif, tetapi dengan sinyal kehati-hatian di tengah dinamika suku bunga dan tekanan eksternal pada rupiah.
Fokus:
■ Uang beredar Rp10.117,8 triliun atau naik 10% yoy, didorong kredit dan pembiayaan pemerintah.
■ Pertumbuhan uang primer 14,7% yoy, turun dari 16,8% yoy—indikasi penyesuaian likuiditas.
■ Bank sentral mengelola ekspansi uang beredar sambil mengantisipasi tekanan rupiah dan risiko global.
Di tengah rupiah yang sempat menjadi mata uang terlemah di Asia dan perdebatan arah suku bunga, Bank Indonesia merilis data yang menyiratkan dua wajah likuiditas. Uang beredar melonjak ke level tertinggi dalam 3,5 tahun terakhir. Namun fondasi uang primer justru melambat. Kombinasi ini membuka pertanyaan: apakah ekonomi sedang menguat, atau bank sentral tengah menata ulang strategi likuiditasnya?

M2 Menguat, Dorongan dari Pemerintah dan Kredit
Per Januari 2026, M2 tercatat Rp10.117,8 triliun, tumbuh 10% yoy—lebih tinggi dibanding Desember 2025 sebesar 9,6% yoy. Ini adalah pertumbuhan tertinggi sejak Juli 2022.
Bank Indonesia melaporkan M2 tumbuh 10% yoy tertinggi sejak 2022, tetapi uang primer melambat. Apa arti sinyal ganda ini bagi rupiah, suku bunga, dan ekonomi 2026?
“Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,9% yoy dan uang kuasi sebesar 5,4% yoy,” sebut laporan BI.
Lonjakan ini terutama ditopang oleh dua mesin utama: ekspansi kredit dan kenaikan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat. Tagihan bersih kepada pemerintah tumbuh 22,6% yoy, melonjak dari bulan sebelumnya 13,6% yoy. Sementara kredit perbankan naik 10,2% yoy, membaik dari 9,3% yoy pada Desember.
Secara teori moneter, pertumbuhan M2 yang solid mencerminkan likuiditas cukup longgar dan transmisi kredit berjalan. Dalam konteks global, tren ini menarik karena banyak bank sentral di negara maju justru masih menjaga kebijakan ketat akibat inflasi yang belum sepenuhnya jinak.
Uang Primer Melambat: Sinyal Pengetatan Terselubung?
Di sisi lain, M0 adjusted—yang menggambarkan uang primer setelah mengisolasi dampak insentif likuiditas—tumbuh 14,7% yoy. Angka ini memang masih dua digit, tetapi melambat dari Desember 2025 yang mencapai 16,8% yoy.
“Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di BI adjusted sebesar 30,1% yoy dan uang kuartal yang diedarkan sebesar 12,4% yoy. Sementara itu, giro sektor swasta di BI dan surat berharga diterbitkan BI yang dimiliki oleh sektor swasta tercatat kontraksi masing-masing 5,8% yoy dan 80,2% yoy,” terang laporan BI.
Kontraksi surat berharga BI yang dimiliki swasta hingga 80,2% yoy menunjukkan penyesuaian instrumen moneter. Ini bisa dibaca sebagai upaya bank sentral mengelola likuiditas agar tidak berlebihan, terutama di tengah volatilitas pasar global.
Sejak Januari 2025, BI juga melakukan penyesuaian metodologi perhitungan M0 adjusted untuk memberikan gambaran lebih akurat tentang dampak kebijakan likuiditas.
Konteks Makro: Rupiah, Suku Bunga, dan Risiko Eksternal
Data ini muncul saat rupiah sempat tertekan dan arus modal asing bergerak fluktuatif. Dalam beberapa bulan terakhir, pasar juga mencermati arah BI Rate yang berada di 4,75% dan ruang pelonggaran yang makin terbatas.
Pertumbuhan M2 sebesar 10% yoy memang masih di bawah fase ekspansif pandemi, ketika likuiditas tumbuh belasan hingga di atas 15%. Namun angka ini cukup kuat untuk menopang target pertumbuhan ekonomi 5% lebih.
Pertanyaannya kini: apakah ekspansi likuiditas ini cukup berkualitas untuk mendorong sektor riil, atau hanya berputar di sistem keuangan?
Membaca Arah Kebijakan
Secara keseluruhan, kombinasi M2 yang menguat dan M0 yang melambat menunjukkan pendekatan yang lebih terkalibrasi. BI tampaknya menjaga keseimbangan antara mendukung pertumbuhan dan menjaga stabilitas nilai tukar serta inflasi.
Jika M2 terus tumbuh tanpa diikuti lonjakan inflasi, maka ruang kebijakan tetap terbuka. Namun jika tekanan eksternal meningkat—termasuk dari kebijakan suku bunga global—maka manuver BI akan semakin terbatas.
Dalam bahasa sederhana: likuiditas ada, tetapi rem tetap disiapkan.
Foto: The Jakarta Post
Digionary:
● Giro: Simpanan di bank yang dapat ditarik kapan saja menggunakan cek atau bilyet giro.
● Kredit Perbankan: Pinjaman yang disalurkan bank kepada sektor rumah tangga dan dunia usaha.
● Likuiditas: Ketersediaan dana dalam sistem keuangan untuk mendukung aktivitas ekonomi.
● M0 (Uang Primer): Uang kartal dan cadangan bank di bank sentral.
● M1: Uang kartal dan giro yang langsung dapat digunakan untuk transaksi.
● M2: Uang beredar luas, mencakup M1 dan uang kuasi seperti deposito.
● Surat Berharga BI: Instrumen moneter yang diterbitkan bank sentral untuk mengatur likuiditas.
● Year-on-Year (yoy): Perbandingan data dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
#BankIndonesia #UangBeredar #M2 #M0 #Likuiditas #Rupiah #BIrate #EkonomiIndonesia #KebijakanMoneter #Inflasi #KreditPerbankan #PasarKeuangan #StabilitasRupiah #Moneter2026 #DataEkonomi #SektorRiil #APBN #KeuanganIndonesia #AnalisisEkonomi
