Scam Makin Canggih, DBS Wajibkan Jeda 12 Jam untuk Transfer Berisiko Tinggi

- 23 Februari 2026 - 09:44

Mulai 7 Maret 2026, DBS Bank akan memberlakukan jeda 12 jam untuk penambahan penerima transfer baru, kenaikan limit harian, dan perubahan data kontak. Kebijakan ini dirancang sebagai tameng terhadap lonjakan penipuan digital di Singapura, yang pada paruh pertama 2025 menyebabkan kerugian hampir US$500 juta. Langkah ini menyusul kebijakan serupa di OCBC Bank dan United Overseas Bank, sekaligus memperkuat implementasi Shared Responsibility Framework 2024.


Fokus:

■ Penambahan penerima baru, kenaikan limit transfer, dan perubahan kontak di DBS kini tidak lagi instan.
■ Lonjakan phishing 134% memicu bank dan regulator memperketat sistem keamanan.
■ OCBC dan UOB lebih dulu menerapkan kebijakan serupa, menjadikan cooling period norma baru.


Di tengah gelombang penipuan digital yang kian canggih, kecepatan bukan lagi keunggulan—melainkan celah. Mulai 7 Maret 2026, nasabah digital DBS Bank harus menunggu 12 jam sebelum bisa menambahkan penerima transfer baru, menaikkan limit transaksi harian, atau memperbarui detail kontak. Kebijakan ini menjadi lapisan pertahanan terbaru bank terbesar di Asia Tenggara itu dalam menghadang scam yang merugikan warga Singapura hampir US$500 juta hanya dalam enam bulan pertama 2025.

Jeda 12 Jam sebagai “Rem Pengaman”

Selama ini, penambahan penerima transfer maupun kenaikan limit transaksi dapat dilakukan secara instan. Mulai Maret, kemudahan itu diubah menjadi proses bertahap dengan masa tunggu 12 jam.

DBS terapkan jeda 12 jam untuk tambah penerima dan naikkan limit transfer mulai 7 Maret 2026. Langkah ini respons atas lonjakan scam yang merugikan hampir US$500 juta di Singapura.

DBS menjelaskan, jeda ini dirancang sebagai “critical security safeguard”. “Misalnya, seorang penipu mencoba menambahkan penerima transfer baru atau menaikkan batas transfer Anda. Transfer ke penerima baru atau transaksi yang melebihi batas yang ada hanya akan diizinkan setelah masa tunggu 12 jam berakhir,” kata bank tersebut dalam pemberitahuan kepada nasabah mengutip The Straits Times.

“Selama periode ini, pemberitahuan akan dikirim ke detail kontak yang terdaftar di bank sehingga Anda dapat meninjau permintaan tersebut dan segera melaporkannya jika itu bukan dilakukan oleh Anda.”

Dengan kata lain, sistem memberi ruang bagi nasabah untuk menyadari aktivitas mencurigakan sebelum dana berpindah tangan.

Lonjakan Scam Jadi Alarm Industri

Data Kepolisian Singapura menunjukkan hampir 20.000 kasus penipuan dilaporkan pada semester pertama 2025, dengan total kerugian mendekati US$500 juta. Modus terbanyak adalah phishing—3.779 kasus—dengan nilai kerugian sekitar US$30,4 juta, melonjak 134% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebagian besar kasus phishing melibatkan transaksi kartu tanpa otorisasi. Korban tanpa sadar menyerahkan detail kartu dan kode autentikasi kepada pelaku, yang kemudian mengeksekusi transaksi seolah-olah sah.

Tren ini mendorong regulator memperkenalkan Shared Responsibility Framework pada 2024, yang mewajibkan bank menerapkan token digital dengan masa aktivasi 12 jam serta peringatan real-time untuk aktivitas berisiko tinggi.

Bank Lain Sudah Lebih Dulu

Langkah DBS bukan yang pertama. OCBC Bank telah menerapkan cooling period 12 jam sejak 2022 untuk aktivitas berisiko seperti penambahan penerima baru dan perubahan detail kontak. Sementara United Overseas Bank mulai Desember 2024 juga memberlakukan jeda serupa untuk kenaikan limit transfer dan pengiriman dana ke penerima baru.

Artinya, kebijakan ini kini menjadi standar industri, bukan pengecualian.

Lapisan Keamanan Tambahan

Dalam setahun terakhir, DBS agresif memperkuat sistem anti-scam. Beberapa fitur yang telah diluncurkan antara lain:
● Kontrol aktivasi mobile wallet dengan toggle 10 menit.
● Sistem pemantauan fraud real-time.
● Penahanan 24 jam untuk transaksi melebihi 50% saldo pada rekening dengan saldo minimal US$50.000.

Langkah ini bertujuan mencegah kasus pengurasan dana besar secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan pemilik rekening.

Menurut analis keamanan siber regional, pendekatan “friction by design” seperti ini kini menjadi tren global. Bank-bank besar di Eropa dan Australia mulai menerapkan penundaan serupa pada transaksi berisiko tinggi, karena mayoritas korban scam mentransfer dana dalam hitungan menit setelah dipicu manipulasi psikologis.

Keamanan vs Kenyamanan

Kebijakan ini hampir pasti mengurangi kenyamanan sebagian nasabah yang terbiasa dengan transaksi instan. Namun, industri perbankan kini menghadapi dilema klasik: kecepatan atau keamanan.

Dengan kerugian hampir US$500 juta dalam enam bulan, pilihan DBS jelas—memperlambat sedikit demi melindungi lebih banyak.

Dalam ekosistem keuangan digital yang makin kompleks, jeda 12 jam mungkin menjadi harga yang tak seberapa untuk mencegah kehilangan seumur hidup.


Digionary:

● Cooling Period: Masa tunggu sebelum transaksi atau perubahan akun dapat diproses.
● Digital Token: Sistem autentikasi elektronik untuk memverifikasi identitas nasabah.
● Fraud Surveillance: Sistem pemantauan transaksi untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan.
● Phishing: Modus penipuan dengan menyamar sebagai pihak resmi untuk mencuri data korban.
● Real-Time Alert: Notifikasi langsung saat terjadi aktivitas berisiko.
● Shared Responsibility Framework: Kerangka regulasi Singapura yang membagi tanggung jawab pencegahan scam antara bank dan konsumen.
● Transfer Limit: Batas maksimum dana yang dapat dikirim dalam satu hari.
● Unauthorized Transaction: Transaksi yang dilakukan tanpa persetujuan pemilik rekening.

#DBS #SingaporeBanking #AntiScam #DigitalBanking #CyberSecurity #Phishing #CoolingPeriod #FraudPrevention #BankingSecurity #Fintech #SharedResponsibility #TransferLimit #ScamAlert #OCBC #UOB #AsiaFinance #FinancialCrime #DigitalSafety #BankRegulation #SecureBanking

Comments are closed.