Singapura Jadi Raja Pembayaran Digital ASEAN, Bidik Transaksi US$113 Miliar di 2030

- 7 Februari 2026 - 06:15

Singapura semakin mengukuhkan dominasinya sebagai pusat pembayaran digital Asia Tenggara dengan proyeksi nilai transaksi menembus US$ 113,7 miliar pada 2030, melonjak tajam dari US$ 39,4 miliar pada 2023. Didorong oleh adopsi masif Gen Z dan milenial serta efisiensi infrastruktur lintas batas, sektor pembayaran Negeri Singa ini berhasil menyedot investasi sebesar US$ 319 juta hingga kuartal ketiga 2025—melampaui gabungan pendanaan lima negara besar tetangganya, termasuk Indonesia.


Fokus:

■ ​Dominasi Investasi Regional: Sektor pembayaran Singapura menarik modal sebesar US$ 319 juta pada sembilan bulan pertama 2025, angka yang lebih besar dibanding total pendanaan gabungan Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.
■ ​Transformasi Konsumen Digital: Sekitar 98% orang dewasa di Singapura kini menggunakan dompet digital, dengan kelompok Gen Z dan milenial menjadi motor utama pergeseran total menuju masyarakat nirkasir (cashless society).
■ ​Inovasi Stablecoin dan Konektivitas Lintas Batas: Stablecoin yang dipatok ke Dollar Singapura menguasai lebih dari 70% pangsa pasar di Asia Tenggara pada kuartal kedua 2025, didukung integrasi pembayaran real-time antarnegara melalui proyek seperti Project Nexus.


​Di peta finansial global, Singapura baru saja mengirimkan sinyal kuat bahwa dominasinya di sektor pembayaran digital bukan lagi sekadar keunggulan kompetitif, melainkan sebuah anomali pertumbuhan yang masif. Berdasarkan laporan Payments’ State of Play 2026 yang dirilis oleh Singapore FinTech Association (SFA) dan PwC, nilai transaksi digital di negara pelabuhan ini diprediksi meroket hingga US$ 113,7 miliar pada tahun 2030.

​Loncatan ini bukan tanpa alasan. Jika pada 2023 angka transaksi baru menyentuh US$ 39,4 miliar, kini Singapura sedang memanen hasil dari infrastruktur finansial yang paling tangguh di kawasan. Menariknya, pertumbuhan ini bukan dipicu oleh kebijakan top-down semata, melainkan didorong oleh perubahan perilaku konsumen Gen Z dan milenial yang sudah tidak lagi mengenal uang fisik dalam keseharian mereka.

​Magnet Modal di Tengah Kekeringan Investasi

Saat banyak negara tetangga berjuang menarik minat investor di tengah ketidakpastian ekonomi global, Singapura justru menjadi “safe haven” bagi modal fintech. Pada sembilan bulan pertama 2025, sektor pembayaran Singapura berhasil mengantongi pendanaan sebesar US$ 319 juta.

​Angka ini sangat mencolok karena lebih besar dari akumulasi pendanaan yang didapatkan oleh Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam secara kolektif dalam periode yang sama. Singapura tidak hanya menjadi pusat perdagangan, tetapi juga menjadi pusat kepercayaan bagi para pemodal ventura global.

​Holly Fang, Presiden SFA, menegaskan bahwa ekspansi ini mencerminkan keberhasilan pengembangan ekosistem yang matang. “Perluasan sektor pembayaran mencerminkan perkembangan Singapura sebagai salah satu ekosistem pembayaran paling maju, tangguh, dan terpercaya di dunia,” ujarnya seperti dikutip The Business Times.

​Melampaui Batas Fisik: Dari PayNow hingga Stablecoin

​Singapura juga membuktikan diri sebagai pusat inovasi mata uang digital. Stablecoin yang dipatok ke mata uang lokal (Singdollar-pegged) kini mendominasi volume transaksi di Asia Tenggara dengan pangsa pasar mencapai lebih dari 70% pada pertengahan 2025.

​Di sisi lain, integrasi sistem pembayaran domestik seperti FAST (Fast And Secure Transfers) telah memproses lebih dari 500 juta transaksi pada 2024, tumbuh 31% secara tahunan. Namun, ambisi Singapura melampaui batas negaranya. Melalui inisiatif Project Nexus dan koneksi bilateral PayNow dengan Thailand serta Malaysia, volume pengiriman uang (remittance) diprediksi akan terus membengkak hingga mencapai US$ 13,3 miliar pada 2032.

​Pertahanan Terhadap Kejahatan Siber

​Namun, di balik angka-angka fantastis tersebut, tersimpan tantangan besar: keamanan siber. Kerugian akibat penipuan (scam) di Singapura mencapai sekitar S$ 840 juta (sekitar US$ 620 juta) dalam 11 bulan pertama 2025. Hal ini memaksa industri untuk mengintegrasikan Kecerdasan Buatan (AI) lebih dalam untuk mendeteksi penipuan secara real-time.

​Wong Wanyi, Partner di PwC Singapore, memberikan catatan penting terkait masa depan ini: “Singapura berdiri di pusat era transformatif ini, di mana keberhasilan jangka panjang sebagai pusat pembayaran—dan bagi para pemain industri—memerlukan kerangka kontrol dan manajemen risiko yang komprehensif.” Ia menambahkan bahwa keberlanjutan momentum ini harus didasarkan pada panduan peraturan yang jelas dan standar industri yang tinggi untuk membangun kepercayaan nasabah.


​Digionary:

​● Bilateral Linkages: Hubungan kerja sama antara dua negara untuk mengintegrasikan sistem pembayaran mereka, seperti antara PayNow Singapura dan PromptPay Thailand.
● Cashless Transactions: Transaksi keuangan yang dilakukan tanpa penggunaan uang tunai fisik, menggunakan media digital atau kartu.
● Compound Annual Growth Rate (CAGR): Laju pertumbuhan tahunan rata-rata suatu investasi atau sektor dalam periode waktu tertentu (lebih dari satu tahun).
● Project Nexus: Inisiatif global yang bertujuan untuk menghubungkan berbagai sistem pembayaran real-time di seluruh dunia agar transaksi lintas batas menjadi secepat dan semudah transaksi domestik.
● Stablecoins: Jenis mata uang kripto yang nilainya dipatok pada aset stabil, seperti mata uang fiat (misalnya Dollar Singapura) atau komoditas, untuk meminimalkan volatilitas harga.
● Tokenised Deposits: Simpanan bank tradisional yang diubah menjadi token digital di atas jaringan blockchain untuk meningkatkan kecepatan dan efisiensi transaksi.

​#Singapura #DigitalPayments #FintechASEAN #CashlessSociety #InvestasiFintech #SmartNation #EkonomiDigital #Stablecoin #PayNow #ProjectNexus #GenZFinance #Milenial #FinansialTeknologi #AsiaBusiness #TechInvestment #FutureOfPayments #SiberSecurity #GlobalFinance #Singapura2030 #EconomicOutlook

Comments are closed.