Ekonomi Tumbuh 5,11%, OJK Optimistis Kredit Perbankan 2026 Capai Target 12%

- 6 Februari 2026 - 17:03

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan target optimis pertumbuhan kredit perbankan sebesar 10-12% pada 2026, didorong oleh likuiditas yang stabil dan momentum pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,11% pada 2025. Di tengah dinamika global, regulator memperkuat sektor riil melalui proyeksi kenaikan aset asuransi, dana pensiun, serta pendalaman pasar modal senilai Rp250 triliun untuk memastikan stabilitas dan inklusi keuangan digital tetap terjaga.


​Fokus:

■ ​Ambisi Ekspansi Perbankan: OJK mematok pertumbuhan kredit dua digit (10-12%) dengan dukungan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang diproyeksikan tumbuh 7-9% guna menjamin ketersediaan likuiditas.
■ ​Kinerja Ekonomi Makro: Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 yang tercatat 5,11% menjadi landasan kuat, di mana sektor industri, pertanian, dan perdagangan menyumbang lebih dari 40% struktur ekonomi.
■ ​Akselerasi Keuangan Digital dan Pasar Modal: Target penghimpunan dana pasar modal sebesar Rp250 triliun serta lonjakan permintaan skor kredit digital hingga 200 juta permintaan menunjukkan transformasi masif sistem keuangan nasional.


Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tampaknya enggan menginjak pedal rem di tahun 2026. Meski awan mendung ekonomi global belum sepenuhnya beranjak, regulator jasa keuangan Indonesia ini justru memasang target ekspansif. Kredit perbankan pada 2026 diproyeksikan mampu melaju di zona 10% hingga 12%.

​Angka tersebut bukan sekadar kalkulasi di atas kertas. Optimisme ini berpijak pada performa ekonomi nasional yang baru saja menutup tahun 2025 dengan capaian impresif. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,11%, melampaui angka 5,03% pada tahun sebelumnya. Sebuah sinyal kuat bahwa daya beli masyarakat dan gairah korporasi masih menyala.

​Menjaga Nafas Likuiditas

​Dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis (5/2/2026), Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara nyali ekspansi dan kehati-hatian.

​”Kami mencermati berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi, serta kebijakan yang saat ini kami ambil. OJK optimistis kinerja sektor jasa keuangan akan tumbuh berkelanjutan pada 2026,” tegas perempuan yang akrab disapa Kiki tersebut.

​Sokongan utama kredit ini diharapkan datang dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang diprediksi tumbuh 7% sampai 9%. Likuiditas yang terjaga menjadi krusial agar perbankan tidak “sesak nafas” saat menyalurkan pembiayaan ke sektor riil, terutama ke sektor industri pengolah yang menjadi mesin utama pertumbuhan.

​Stimulus Pemerintah Mulai Berbuah

​Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan catatan positif terhadap tren pertumbuhan yang konsisten membaik dari kuartal ke kuartal. Menurutnya, kuatnya fondasi ekonomi saat ini tak lepas dari intervensi fiskal yang tepat sasaran sepanjang tahun lalu.

​”Dibandingkan beberapa negara relatif situasinya baik dan kalau kita lihat kuartal per kuartal itu terus baik. Ini adalah tertinggi dari 4 kuartal yang lalu,” ujar Airlangga. Ia merujuk pada program Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk sektor properti dan insentif PPh karyawan sebagai motor penggerak konsumsi rumah tangga yang menyumbang porsi besar bagi ekonomi.

​Data menunjukkan sektor industri tumbuh 5,4%, sementara sektor pertanian dan perdagangan tetap kokoh sebagai tulang punggung dengan kontribusi kumulatif lebih dari 40%.

​Loncatan Digital dan Pasar Modal

​Tak hanya perbankan konvensional, OJK juga membidik penguatan di sektor non-bank dan digital. Aset dana pensiun ditargetkan melesat 10-12%, sementara industri asuransi diproyeksi tumbuh 5-7%.
​Yang paling mencolok adalah pergeseran perilaku masyarakat ke arah keuangan digital. OJK memprediksi permintaan skor kredit akan menembus angka 200 juta permintaan tahun ini, dengan nilai transaksi melalui agregator keuangan mencapai Rp27 triliun. Di sisi lain, pasar modal diharapkan mampu menyerap dana hingga Rp250 triliun sebagai alternatif pembiayaan jangka panjang bagi korporasi.

​Dengan target-target tersebut, Indonesia sedang mencoba membuktikan bahwa di tengah volatilitas global, pasar domestik yang dalam dan kebijakan yang akomodatif adalah benteng pertahanan terbaik.


​Digionary:

​● Agregator Keuangan: Platform digital yang mengumpulkan dan menyajikan informasi produk keuangan dari berbagai penyedia untuk memudahkan konsumen membandingkan layanan.
● Dana Pihak Ketiga (DPK): Dana yang dihimpun oleh bank dari masyarakat, terdiri dari giro, tabungan, dan deposito.
● Inklusi Keuangan: Ketersediaan akses bagi masyarakat dan bisnis untuk memanfaatkan produk serta layanan keuangan formal secara efektif.
● Likuiditas: Kemampuan perusahaan atau bank dalam memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek secara tepat waktu.
● Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP): Fasilitas pajak di mana pemerintah membayar beban PPN atas transaksi tertentu (seperti rumah), sehingga konsumen mendapatkan harga lebih murah.
● Skor Kredit (Credit Scoring): Sistem penilaian untuk menentukan kelayakan seseorang atau bisnis dalam mendapatkan pinjaman berdasarkan riwayat keuangan mereka.

#OJK #Perbankan2026 #EkonomiIndonesia #KreditBank #PasarModal #KeuanganDigital #Investasi #AirlanggaHartarto #InklusiKeuangan #InfoKeuangan #StabilitasEkonomi #SektorRiil #Asuransi #DanaPensiun #PertumbuhanEkonomi #IndonesiaMaju #Fintech #OtoritasJasaKeuangan #BeritaEkonomi #Likuiditas

Comments are closed.