Pendiri Bridgewater Ray Dalio Sarankan Alokasi Emas 15% di Tengah Risiko Geopolitik

- 1 Februari 2026 - 17:11

Investor kawakan sekaligus pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, memberikan peringatan keras mengenai pergeseran tektonik dalam tatanan keuangan global, di mana emas kini resmi menyalip posisi berbagai instrumen utang untuk menjadi “mata uang cadangan terbesar kedua” di dunia setelah Dolar AS. Fenomena ini dipicu oleh aksi borong emas fisik oleh bank sentral global yang mulai meninggalkan surat utang AS (US Treasuries) akibat kekhawatiran atas sanksi geopolitik dan risiko penyitaan aset, memposisikan emas sebagai “uang fundamental” paling aman di tengah ancaman perang modal dan devaluasi mata uang fiat.


​Fokus:

■ ​Emas sebagai Mata Utama Dunia: Emas bukan lagi sekadar komoditas, melainkan aset likuiditas utama yang statusnya kini hanya berada satu tingkat di bawah Dolar AS dalam hierarki cadangan devisa global.
■ ​Eksodus dari Surat Utang AS: Ketegangan geopolitik dan risiko sanksi ekonomi membuat negara-negara besar, termasuk China, mulai mengalihkan kekayaan mereka dari aset berbasis utang Amerika ke emas fisik guna menghindari risiko pembekuan aset.
■ ​Strategi Portofolio Krisis: Ray Dalio merekomendasikan alokasi emas sebesar 5% hingga 15% dalam portofolio investasi, dengan penekanan khusus untuk menambah porsi tersebut saat terjadi kerusakan sistem moneter atau perang ekonomi.


​Ray Dalio peringatkan krisis moneter global! Emas kini jadi mata uang cadangan terbesar ke-2 dunia kalahkan surat utang AS.


​Ray Dalio, maestro investasi di balik kemegahan Bridgewater Associates, baru saja melepaskan “bom” informasi di forum bergengsi World Economic Forum (WEF) Davos. Dalam diskusi tajam bersama Alan Murray, Dalio menegaskan bahwa peta kekuatan finansial dunia telah berubah secara radikal: emas kini telah berevolusi menjadi mata uang cadangan terbesar kedua di dunia, membayangi dominasi Dolar AS.

​Pergeseran ini bukan tanpa alasan. Bank-bank sentral dan sovereign wealth funds kini lebih memilih menumpuk emas batangan di brankas mereka ketimbang memegang surat utang Amerika Serikat (US Treasuries). Dalio melihat adanya tren “perang modal” (capital wars) yang membuat aset kertas menjadi sangat rentan terhadap sanksi geopolitik.

​“Jika Anda China, tidakkah Anda khawatir akan disanksi? Dan jika Anda Amerika Serikat, selalu ada risiko utang itu tidak lagi diminati pembeli,” ujar Dalio, mengutip laporan Kitco News.

Menurut Dalio, dunia saat ini sedang berada dalam konvergensi berbahaya antara puncak siklus utang dan eskalasi konflik internasional. Ia mengingatkan prinsip dasar keuangan bahwa “utang satu pihak adalah aset bagi pihak lain.” Namun, dalam lingkungan yang menyerupai kondisi perang, memegang janji utang negara lain—terutama Amerika—menjadi perjudian yang berisiko tinggi.

​Emas muncul sebagai pemenang karena satu keunggulan mutlak: risiko penyitaan (confiscation risk) yang minimal. Berbeda dengan saldo digital atau obligasi yang bisa dibekukan hanya dengan satu ketukan palu sanksi, emas fisik tidak bergantung pada sistem perbankan manapun. Ia tidak dapat dihapus nilainya atau diblokir oleh pemerintah asing.

​Antara Investasi dan Spekulasi

Dalam tesis yang ia bagikan melalui LinkedIn, Dalio membedah bagaimana emas harus diperlakukan dalam portofolio. Ia menyarankan alokasi strategis sebesar 5% hingga 15% dari total kekayaan. Namun, ia memberikan catatan kaki yang krusial.

​Porsi emas harus ditingkatkan secara signifikan (overweighted) hanya ketika sistem moneter mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan atau saat perang ekonomi berkecamuk. Sebaliknya, pada masa stabil, emas sering kali menjadi aset yang tidak produktif dibandingkan saham atau properti.

​Dalio juga menyoroti kenaikan harga emas yang mencapai 67% dalam periode terakhir sebagai pola sejarah yang berulang sejak standar emas ditinggalkan pada 1971. “Hubungkan titik-titiknya (connect the dots),” tegasnya. Bagi Dalio, ketika negara-negara mencetak uang tanpa kendali untuk menutupi utang, devaluasi mata uang kertas adalah kepastian, dan emas adalah penyimpan nilai daya beli paling tangguh yang pernah diciptakan sejarah.

Ilustrasi: Market Watch/Getty Images


​Digionary:

​● Capital Wars (Perang Modal): Penggunaan kekuatan finansial dan pembatasan arus modal sebagai alat geopolitik untuk melemahkan posisi ekonomi negara lawan.
● Confiscation Risk (Risiko Penyitaan): Risiko di mana aset investor diambil alih atau dibekukan oleh otoritas pemerintah, biasanya terjadi saat konflik internasional atau sanksi ekonomi.
● Fiat Money (Uang Fiat): Mata uang yang nilainya ditetapkan oleh pemerintah dan tidak didukung oleh komoditas fisik seperti emas atau perak.
● Monetary System Breakdowns: Kondisi di mana kepercayaan terhadap mata uang atau sistem perbankan runtuh, sering kali akibat utang berlebih dan inflasi ekstrem.
● Overweighted: Keputusan investasi untuk mengalokasikan persentase aset tertentu lebih besar daripada bobot normalnya dalam suatu indeks atau portofolio.
● Sovereign Wealth Funds (SWF): Dana investasi milik negara yang dikelola untuk tujuan jangka panjang, biasanya berasal dari cadangan devisa atau surplus perdagangan.
● US Treasuries: Instrumen utang pemerintah Amerika Serikat yang dianggap sebagai salah satu aset paling aman di dunia sebelum terjadinya ketegangan geopolitik saat ini.

​#RayDalio #HargaEmas2026 #InvestasiEmas #KrisisMoneter #PasarGlobal #BridgewaterAssociates #EkonomiDunia #DolarAS #SuratUtangAS #PerangModal #GoldStandard #ManajemenPortofolio #WealthManagement #Geopolitik #SanksiEkonomi #EmasCadanganDevisa #KeuanganGlobal #Inflasi #DevaluasiMataUang #PeluangInvestasi

Comments are closed.