Visa vs Bank Sentral Australia: ‘Perang’ Biaya Kartu Kredit yang Mengancam Akses Pinjaman Rakyat

- 30 Januari 2026 - 17:27

Raksasa pembayaran global, Visa, terlibat dalam ketegangan diplomatik dan ekonomi dengan Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) terkait rencana pemangkasan biaya interkoneksi kartu kredit secara drastis. Kebijakan RBA yang bertujuan mendukung larangan biaya tambahan (surcharge) bagi konsumen ini dikhawatirkan Visa akan memicu “bencana ekonomi” serupa dengan proposal batasan bunga Donald Trump di AS, yang berisiko melumpuhkan akses kredit bagi jutaan nasabah serta mengancam keberlangsungan bisnis perbankan dan fintech.


​Fokus:

■ ​Ancaman Akses Kredit: Visa memperingatkan bahwa pemangkasan pendapatan bank dari 80 basis poin menjadi 30 basis poin akan memaksa institusi keuangan memperketat kriteria peminjaman atau menaikkan biaya bunga.
■ ​Efek Domino pada Fintech: Setidaknya tiga perusahaan fintech telah menunda peluncuran kartu baru mereka karena regulasi ini dianggap mematikan profitabilitas model bisnis penantang bank besar.
■ ​Ketidakadilan Kompetisi: Regulasi ini dinilai hanya akan menguntungkan pemain seperti American Express yang beroperasi di luar payung regulasi interkoneksi, sehingga menciptakan ketimpangan di pasar pembayaran.


Visa vs Bank Sentral! Pertarungan sengit biaya kartu kredit yang bisa bikin akses pinjaman macet total. Simak analisis lengkapnya di sini.


Panggung industri pembayaran Australia tengah memanas. Visa, salah satu pemain kunci sistem keuangan dunia, secara terbuka melancarkan serangan terhadap rencana Reserve Bank of Australia (RBA) untuk memangkas pendapatan yang diterima bank dari penerbitan kartu kredit.

​Stephen Karpin, Presiden Regional Visa Asia-Pasifik, bahkan menarik garis paralel yang provokatif. Ia membandingkan langkah RBA dengan proposal kontroversial Presiden Donald Trump yang ingin membatasi suku bunga kartu kredit di Amerika Serikat. Keduanya, menurut Karpin, memiliki risiko yang sama: menghantam kapasitas perbankan dalam menyalurkan kredit sehat ke dalam ekosistem.

​”Saat saya berbicara dengan bank-bank besar di Australia, fintech, dan semua pihak di antaranya, mereka mengatakan tekanan pada bisnis mereka untuk mempertahankan penerbitan kartu kredit sangatlah tinggi,” ujar Karpn seperti dikutip Financial Review.

Ia menambahkan bahwa konsekuensi yang tidak diinginkan adalah nasabah akan kesulitan mendapatkan kredit atau justru bermigrasi ke pinjaman dengan biaya yang jauh lebih tinggi.

​Pemangkasan Pendapatan US$900 Juta

Inti dari sengketa ini adalah biaya interkoneksi—biaya yang dibayarkan pedagang kepada bank penerbit kartu. Saat ini, bank dapat mengenakan biaya hingga 80 basis poin (8 sen untuk setiap transaksi US$10). RBA berencana memangkasnya secara radikal menjadi hanya 30 basis poin.

​Langkah ini diperkirakan akan melenyapkan pendapatan perbankan domestik hingga US$900 juta per tahun. RBA berdalih bahwa mandat mereka adalah menurunkan biaya pembayaran bagi usaha kecil dan menengah (UKM), terutama karena pemerintah akan memberlakukan larangan biaya tambahan (surcharge) bagi konsumen tahun ini.

​Namun, bagi perbankan, ini adalah pil pahit. Mereka memperingatkan akan adanya serangan balik berupa kenaikan suku bunga kartu kredit, kenaikan biaya tahunan, hingga penggerusan nilai poin frequent flyer yang selama ini menjadi daya tarik utama nasabah.

​Fintech Terjepit, Amex Diuntungkan

Dampak kebijakan ini bukan hanya isapan jempol. Karpin mengungkapkan setidaknya ada tiga perusahaan fintech yang berniat meluncurkan kartu Visa untuk menantang dominasi bank besar, kini terpaksa membatalkan rencana mereka. Alasannya sederhana: batas biaya yang rendah membuat bisnis mereka tidak lagi menguntungkan.

​Di sisi lain, kebijakan ini justru menjadi karpet merah bagi American Express (Amex). Karena Amex beroperasi dengan model di mana bank tidak menerbitkan kartunya, mereka berada di luar jangkauan regulasi biaya interkoneksi ini. “Amex akan menjadi pemenang besar dari proposal ini,” tegas Karpin.

​Pertarungan ini akan mencapai puncaknya pada Februari mendatang, saat komite ekonomi parlemen memanggil eksekutif Visa dan Mastercard untuk memberikan kesaksian sebelum RBA menetapkan posisi finalnya pada April 2026.

Foto: Reuters


​Digionary:

​● Basis Poin (Bps): Unit ukuran standar untuk suku bunga dan persentase lain dalam keuangan (100 basis poin sama dengan 1%).
● Biaya Interkoneksi (Interchange Fees): Biaya yang dibayar oleh bank pedagang kepada bank pemegang kartu untuk memproses transaksi.
● Fintech: Singkatan dari Financial Technology, perusahaan yang menggunakan teknologi untuk menyediakan layanan keuangan yang lebih efisien.
● Surcharge: Biaya tambahan yang dikenakan oleh pedagang kepada konsumen saat membayar menggunakan kartu kredit atau debit.
● Working Capital: Modal kerja yang digunakan perusahaan untuk membiayai operasional harian.

#Visa #BankSentral #Australia #KartuKredit #SukuBunga #EkonomiGlobal #Finansial #Perbankan #Fintech #RegulasiKeuangan #RBA #DonaldTrump #BeritaEkonomi #BisnisInternasional #CreditCardFees #SurchargeBan #Investasi #ManajemenKeuangan #InfoPerbankan #DuniaPembayaran

Comments are closed.