​Efek Dominasi Dana Murah, OCBC Indonesia Kantongi Laba Rp5,1 Triliun di 2025

- 30 Januari 2026 - 14:23

PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC Indonesia) membuktikan ketangguhannya di tengah dinamika pasar global dengan mencetak laba bersih Rp5,1 triliun sepanjang tahun 2025, tumbuh 4% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini ditopang oleh kenaikan pendapatan operasional sebesar 10% menjadi Rp13,1 triliun serta struktur permodalan yang sangat kuat (CAR 24,5%), yang mempertegas strategi bank dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit yang pruden dan penghimpunan dana murah.


​Fokus:

■ ​Stabilitas Laba dan Operasional: OCBC Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih Rp5,1 triliun yang didorong oleh efisiensi dan kenaikan pendapatan operasional hingga dua digit.
■ ​Dominasi Dana Murah (CASA): Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 18% sangat dipengaruhi oleh lonjakan CASA (giro dan tabungan) sebesar 24%, yang kini menyumbang 58% dari total dana bank.
■ ​Kualitas Aset yang Pruden: Meskipun kredit tumbuh tipis 2%, bank tetap menjaga profil risiko dengan rasio NPL Gross yang rendah di level 1,9% dan cadangan yang sangat memadai.


​OCBC Indonesia cetak laba Rp5,1 triliun di 2025! Simak strategi bank menjaga likuiditas melimpah dan lonjakan dana murah (CASA) hingga 24% tahun ini.


Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi suku bunga, PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC Indonesia) menunjukkan performa yang solid. Bank berkode saham NISP ini menutup tahun buku 2025 dengan rapor hijau, membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp5,1 triliun. Angka ini mencerminkan pertumbuhan moderat namun stabil sebesar 4% secara tahunan (year on year/yoy).

​Lonjakan laba ini sejatinya merupakan buah dari mesin operasional yang bekerja lebih kencang. Pendapatan operasional bank melonjak 10% yoy menjadi Rp13,1 triliun, sebuah indikasi bahwa diversifikasi pendapatan dan layanan perbankan bank ini berjalan sesuai rencana.

​Fondasi Kuat di Dana Murah

Satu hal yang paling mencolok dari laporan keuangan OCBC Indonesia adalah kemampuannya menyedot likuiditas. Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat melesat 18% yoy menjadi Rp243,5 triliun. Menariknya, pertumbuhan ini bukan didorong oleh deposito berbunga tinggi, melainkan oleh Dana Murah atau CASA (Giro dan Tabungan) yang terbang 24% yoy menjadi Rp141,1 triliun.

​Kini, porsi dana murah bank telah mencapai 58,0% dari total DPK, meningkat dibandingkan tahun lalu yang sebesar 55,3%. Bagi bank, tingginya porsi CASA adalah “kemenangan” dalam menekan biaya dana (cost of fund), yang pada gilirannya memperkuat margin keuntungan.

​Presiden Direktur OCBC Indonesia, Parwati Surjaudaja, menegaskan pentingnya kualitas aset dalam menjaga momentum ini. ​”Penguatan dana pihak ketiga dan kualitas aset yang terjaga menjadi fondasi utama dalam memperkuat keberlanjutan kinerja Bank ke depan,” ujar Parwati dalam keterangannya, Jumat (30/1).

​Ekspansi Kredit yang Terukur

Di sisi penyaluran kredit, OCBC Indonesia tampak bermain cantik dengan pendekatan yang pruden. Kredit tumbuh sebesar 2% yoy menjadi Rp173,4 triliun. Angka ini menunjukkan sikap bank yang lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan demi menjaga kesehatan neraca.

​Hasilnya terlihat pada rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) Gross yang tetap “jinak” di level 1,9%. Untuk mengantisipasi risiko di masa depan, bank juga telah memagari diri dengan rasio pencadangan NPL yang sangat tebal, yakni mencapai 226,0%.

​Likuiditas dan Modal Melimpah

Dari kacamata investor, rasio permodalan OCBC Indonesia berada pada level yang sangat aman. Rasio Kecukupan Modal (CAR) bank meningkat ke angka 24,5%. Sebagai perbandingan, rata-rata industri perbankan nasional biasanya berada di kisaran 20% hingga 23%, yang berarti OCBC memiliki bantalan modal yang jauh di atas rata-rata.

​Likuiditas pun tampak melimpah, terlihat dari Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 240,9%, jauh melampaui ketentuan regulator. Kondisi ini memberikan fleksibilitas tinggi bagi bank untuk melakukan ekspansi atau menghadapi guncangan pasar di tahun 2026 ini.


​Digionary:

​● CAR (Capital Adequacy Ratio): Rasio kecukupan modal yang menunjukkan kemampuan bank dalam menyediakan dana untuk keperluan pengembangan bisnis dan menampung risiko kerugian.
● CASA (Current Account Saving Account): Dana murah yang berasal dari giro dan tabungan, memiliki biaya bunga yang lebih rendah bagi bank dibandingkan deposito.
● DPK (Dana Pihak Ketiga): Dana yang dihimpun bank dari masyarakat (nasabah) dalam bentuk tabungan, giro, maupun deposito.
● LCR (Liquidity Coverage Ratio): Rasio yang mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aset likuid berkualitas tinggi dalam skenario krisis.
● NPL (Non-Performing Loan): Rasio kredit bermasalah yang menunjukkan persentase pinjaman yang mengalami kesulitan pelunasan.
● Yoy (Year on Year): Metode perbandingan kinerja keuangan antara satu periode dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

#OCBCIndonesia #LabaBank #NISP #ParwatiSurjaudaja #KinerjaBank2025 #EkonomiIndonesia #SektorPerbankan #LaporanKeuangan #SahamNISP #PerbankanPruden #DanaPihakKetiga #CASABank #LikuiditasBank #KreditMacet #NPL #InvestasiSaham #Finansial #BeritaMarket #CNBCIndonesia #ManajemenRisiko

Comments are closed.