Kelas Menengah Makin Terjepit: Menikah, Punya Anak, Beli Rumah Kini Jadi ‘Barang Mewah’

- 26 Januari 2026 - 10:39

Di banyak negara, “kelas menengah” dulu identik dengan hidup yang stabil: menikah, punya anak, membeli rumah, dan mobil pertama. Kini, tonggak hidup itu berubah menjadi sumber kecemasan finansial. Data menunjukkan biaya perumahan, pendidikan anak, dan layanan dasar melonjak jauh lebih cepat daripada pendapatan. Akibatnya, generasi Milenial dan Gen Z yang secara pendapatan masih tergolong kelas menengah justru merasa hidup kian sempit. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Amerika, tetapi semakin relevan dengan kondisi Indonesia.


Fokus:

■ Biaya perumahan dan membesarkan anak naik jauh lebih cepat dibanding kenaikan pendapatan kelas menengah.
■ Banyak rumah tangga masih tergolong kelas menengah secara angka, tetapi merasa tertekan secara finansial.
■ Fenomena ini mulai sangat terasa di Indonesia, terutama di kota-kota besar dengan harga properti tinggi.


Dulu, satu gaji cukup untuk membeli rumah, membesarkan anak, dan menabung untuk masa depan. Hari ini, bahkan dua sumber penghasilan sering kali belum mampu membuat keluarga kelas menengah merasa aman.


Tekanan ekonomi yang dirasakan kelas menengah bukan lagi sekadar keluhan personal. Ia kini terlihat jelas dalam data. Bagi banyak orang, terutama generasi Milenial dan Gen Z, rencana menikah, memiliki anak, membeli rumah, atau sekadar mengganti mobil terasa semakin jauh dari jangkauan. Standar hidup yang dulu dianggap “normal” bagi keluarga kelas menengah, kini perlahan berubah menjadi sesuatu yang terasa mewah.

Pew Research Center mendefinisikan kelas menengah sebagai rumah tangga dengan pendapatan sekitar dua pertiga hingga dua kali lipat median nasional, dengan penyesuaian lokasi. Namun definisi angka ini tidak lagi sejalan dengan kenyataan di lapangan.

Biaya rumah, pendidikan, dan hidup melonjak lebih cepat dari gaji. Kelas menengah kini merasa terhimpit. Fenomena global ini makin relevan dengan kondisi Indonesia.

Di Amerika Serikat, proporsi kelas menengah menyusut dari 61% populasi pada 1971 menjadi hanya 51% pada 2023. Lonjakan biaya hidup menjadi faktor utama. Harga median rumah keluarga tunggal di AS melonjak dari US$164.000 (sekitar Rp2,75 miliar) pada Januari 2012 menjadi US$357.275 (sekitar Rp6 miliar) pada Januari 2026.

Biaya membesarkan anak bahkan melonjak lebih ekstrem. Jika pada 2000 total biayanya sekitar US$165.630 (Rp2,78 miliar), maka pada 2025 angkanya mencapai US$414.000 (Rp6,96 miliar).
Sementara itu, pendapatan tahunan rata-rata hanya naik sekitar 2,1 kali, dari US$29.744 (Rp500 juta) menjadi US$63.128 (Rp1,06 miliar).

Artinya, biaya hidup melesat jauh lebih cepat daripada kenaikan penghasilan.

Inilah yang membuat banyak keluarga merasa seperti “berjalan di tempat” meski bekerja lebih keras dari generasi sebelumnya.

Sangat Relevan dengan Indonesia

Apa yang terjadi di AS mulai terasa polanya di Indonesia. Harga rumah di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Denpasar naik jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan gaji kelas menengah. Harga properti melambung, sementara akses KPR makin ketat akibat suku bunga tinggi dan rasio cicilan yang membatasi.

Biaya pendidikan anak, kesehatan, transportasi, hingga gaya hidup digital ikut menyedot pengeluaran rutin rumah tangga.

Banyak keluarga secara pendapatan masih masuk kategori kelas menengah. Namun secara psikologis dan likuiditas keuangan, mereka merasa terhimpit utang, cicilan, dan biaya rutin.

Inilah paradoks baru. Secara statistik, mereka masih kelas menengah. Namun secara pengalaman hidup, mereka merasa rapuh secara finansial. Teknologi, kerja jarak jauh, dan peluang freelance memang membuka sumber pendapatan tambahan. Namun itu belum tentu memberikan stabilitas jangka panjang.

Akibatnya, banyak orang mulai menyesuaikan ekspektasi hidup dengan menunda menikah, menunda punya anak, menunda membeli rumah, dan mengurangi standar gaya hidup. Dana darurat, pengendalian gaya hidup, dan diversifikasi penghasilan menjadi jauh lebih penting dibanding simbol-simbol status yang dulu identik dengan kelas menengah.


Digionary:

● Dana Darurat: Simpanan untuk kebutuhan tak terduga
● Kelas Menengah: Kelompok pendapatan di kisaran dua pertiga hingga dua kali median nasional
● Likuiditas Keuangan: Kemampuan memenuhi kebutuhan tunai tanpa tekanan
● Median Pendapatan: Nilai tengah pendapatan populasi
● Rasio Cicilan: Batas maksimal porsi cicilan terhadap penghasilan
● Stagnasi Upah: Kondisi kenaikan gaji tidak signifikan dalam jangka panjang

#KelasMenengah #BiayaHidup #HargaRumah #GenerasiMilenial #GenZ #FinansialKeluarga #TekananEkonomi #PropertiMahal #DanaDarurat #GajiStagnan #BiayaPendidikan #KesehatanMahal #GayaHidup #EkonomiIndonesia #KPR #PerencanaanKeuangan #UtangRumahTangga #StabilitasFinansial #MiddleClass #RealitaEkonomi

Comments are closed.