Bank Sentral India Dorong Konektivitas CBDC BRICS, Dunia Hadapi Babak Baru Sistem Pembayaran

- 20 Januari 2026 - 14:34

Bank sentral India mengusulkan penghubungan mata uang digital bank sentral (CBDC) negara-negara BRICS guna mempermudah pembiayaan perdagangan lintas negara dan pembayaran pariwisata. Jika disepakati dalam KTT BRICS 2026, langkah ini berpotensi mengubah lanskap sistem pembayaran global dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Namun tantangan teknis, tata kelola, dan geopolitik masih membayangi realisasinya.


Fokus:

■ BRICS mendorong konektivitas CBDC sebagai alternatif sistem pembayaran lintas negara di tengah fragmentasi global.
■ India memosisikan e-rupee sebagai instrumen strategis, sambil menahan laju stablecoin demi stabilitas moneter.
■,Tantangan interoperabilitas dan tata kelola menjadi penentu keberhasilan integrasi mata uang digital BRICS.


Di tengah memanasnya tensi geopolitik dan meningkatnya fragmentasi sistem keuangan global, negara-negara BRICS mulai meraba satu jalur alternatif: menghubungkan mata uang digital bank sentral mereka sendiri. Bukan sekadar inovasi teknologi, inisiatif ini menyentuh jantung kekuasaan moneter global—dominasi dolar AS.


Bank sentral India, Reserve Bank of India (RBI), mengusulkan agar negara-negara BRICS menghubungkan mata uang digital resmi mereka untuk memperlancar transaksi lintas negara, khususnya pembiayaan perdagangan dan pembayaran sektor pariwisata. Dua sumber yang mengetahui rencana tersebut menyebutkan, proposal ini direkomendasikan RBI kepada pemerintah India untuk dimasukkan dalam agenda KTT BRICS 2026, yang akan digelar di India.

Jika disetujui, ini akan menjadi pertama kalinya BRICS secara resmi membahas integrasi lintas negara antar-CBDC—sebuah langkah yang berpotensi mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi internasional, di saat ketegangan geopolitik global kian meningkat.

Kelompok BRICS mencakup Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, serta telah diperluas dengan anggota baru seperti Uni Emirat Arab, Iran, dan Indonesia. Ambisi ekonomi kolektif blok ini kembali menguat seiring retorika perang dagang dan ancaman tarif dari Amerika Serikat.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut BRICS sebagai aliansi “anti-Amerika” dan bahkan mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara-negara yang berupaya menghindari dolar dalam perdagangan internasional.

Menjembatani Sistem Pembayaran

Usulan RBI ini berangkat dari deklarasi BRICS pada KTT Rio de Janeiro 2025, yang mendorong interoperabilitas sistem pembayaran lintas negara guna meningkatkan efisiensi transaksi. RBI sendiri telah secara terbuka menyatakan ketertarikan untuk menghubungkan e-rupee dengan CBDC negara lain.
Namun, RBI menegaskan bahwa upaya tersebut bukan bertujuan mendorong de-dolarisasi, melainkan meningkatkan efisiensi dan ketahanan sistem pembayaran lintas batas.

Hingga kini, belum satu pun negara BRICS yang meluncurkan CBDC secara penuh. Namun seluruh anggota utama telah menjalankan proyek percontohan. India, misalnya, meluncurkan e-rupee pada Desember 2022 dan telah menggaet sekitar 7 juta pengguna ritel. China, di sisi lain, secara agresif mendorong internasionalisasi digital yuan sebagai bagian dari sistem mata uang multipolar.
RBI juga memperluas adopsi e-rupee melalui fitur pembayaran offline, programmability untuk penyaluran subsidi pemerintah, serta membuka akses bagi perusahaan fintech untuk menyediakan dompet digital.

Tantangan Teknis dan Politik

Keberhasilan penghubungan CBDC BRICS sangat bergantung pada tiga faktor kunci: teknologi interoperabel, aturan tata kelola bersama, dan mekanisme penyelesaian ketidakseimbangan perdagangan.

Salah satu sumber menyebutkan bahwa kehati-hatian negara anggota dalam mengadopsi platform teknologi dari negara lain bisa memperlambat proses. Konsensus mengenai standar teknologi dan regulasi menjadi prasyarat mutlak.

Untuk mengatasi potensi ketimpangan perdagangan, salah satu opsi yang dibahas adalah penggunaan perjanjian swap valuta asing bilateral antar-bank sentral. Skema ini dinilai dapat membantu menyelesaikan transaksi secara periodik—baik mingguan maupun bulanan—tanpa menimbulkan akumulasi mata uang yang sulit digunakan.

Pengalaman masa lalu menjadi pelajaran penting. Upaya Rusia dan India meningkatkan perdagangan menggunakan mata uang lokal sempat tersendat ketika Rusia menumpuk saldo rupee yang sulit dimanfaatkan, hingga RBI akhirnya mengizinkan dana tersebut diinvestasikan ke obligasi domestik India.

CBDC vs Stablecoin

Di tengah melambatnya minat global terhadap CBDC akibat pesatnya adopsi stablecoin, India justru mengambil posisi berlawanan. RBI menilai CBDC lebih aman dan terkendali secara regulasi. “CBDC tidak menimbulkan banyak risiko seperti yang melekat pada stablecoin,” kata Wakil Gubernur RBI T Rabi Sankar.

Ia menambahkan, “Di luar potensi memfasilitasi pembayaran ilegal dan penghindaran pengawasan, stablecoin menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas moneter, kebijakan fiskal, intermediasi perbankan, dan ketahanan sistemik.”

India khawatir adopsi stablecoin secara luas dapat memecah ekosistem pembayaran nasional dan melemahkan kedaulatan sistem digital domestik.

Implikasi Strategis bagi Indonesia

Sebagai anggota baru BRICS, Indonesia berada di persimpangan strategis. Integrasi CBDC lintas BRICS membuka peluang efisiensi perdagangan dan penguatan peran rupiah digital di kawasan. Namun di sisi lain, kesiapan infrastruktur, regulasi, dan koordinasi lintas bank sentral menjadi tantangan nyata.

Bagi perbankan nasional, isu ini bukan sekadar geopolitik, melainkan awal dari transformasi sistem pembayaran lintas negara yang akan memengaruhi likuiditas, manajemen risiko valas, dan model bisnis ke depan.


Digionary:

● BRICS: Blok ekonomi negara berkembang yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, dan anggota baru
● CBDC: Mata uang digital resmi yang diterbitkan bank sentral
● De-dolarisasi: Upaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi internasional
● Digital Yuan: Mata uang digital bank sentral China
● e-Rupee: Mata uang digital bank sentral India
● Interoperabilitas: Kemampuan sistem berbeda untuk saling terhubung dan beroperasi bersama
● Stablecoin: Aset kripto yang nilainya dipatok pada mata uang atau aset tertentu
● Swap Valuta Asing: Perjanjian pertukaran mata uang antar-bank sentral

#BRICS #CBDC #DigitalCurrency #EkonomiDigital #GeopolitikMoneter #SistemPembayaran #DeDolarisasi #BankSentral #eRupee #DigitalYuan #RupiahDigital #KeuanganGlobal #Fintech #MonetaryPolicy #CrossBorderPayment #GlobalSouth #Perbankan #StabilitasKeuangan #DigitalFinance #EkonomiGlobal

Comments are closed.