Harta Miliarder Global Tembus US$18,3 Triliun, Ketimpangan Dunia Makin Tajam

- 20 Januari 2026 - 10:32

Kekayaan para miliarder dunia mencetak rekor baru dengan menembus US$18,3 triliun, meningkat tajam sejak pandemi Covid-19. Laporan terbaru Oxfam menunjukkan bahwa lonjakan kekayaan kelompok super kaya berbanding terbalik dengan laju pengurangan kemiskinan global yang stagnan. Ketimpangan ekonomi kian melebar, memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas sosial, politik, dan masa depan pertumbuhan inklusif dunia.


Fokus:

■ Lonjakan kekayaan miliarder global mencapai US$18,3 triliun, mencerminkan akselerasi ketimpangan pascapandemi.
■ Stagnasi pengurangan kemiskinan, dengan kondisi global yang dinilai tak jauh membaik dibandingkan 2019.
■ Ancaman defisit politik dan sosial, akibat pengaruh berlebihan kelompok super kaya terhadap ekonomi dan kebijakan publik.


Dunia semakin kaya—namun tidak semakin adil. Di tengah perlambatan ekonomi global dan tekanan biaya hidup yang dirasakan jutaan orang, kekayaan para miliarder justru melonjak ke titik tertinggi sepanjang sejarah. Fenomena ini kembali menyorot jurang ketimpangan yang kian menganga antara segelintir elite ekonomi dan mayoritas masyarakat dunia.


Laporan terbaru badan amal global Oxfam mencatat kekayaan kolektif miliarder dunia telah mencapai US$18,3 triliun, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Angka ini mencerminkan lonjakan 16%, atau setara US$2,5 triliun, hanya dalam satu tahun.

Jumlah miliarder global kini telah melampaui 3.000 orang, sebuah peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelum pandemi. Lebih mencolok lagi, sejak 2020, kekayaan kelompok ini telah melonjak 81%, memperlihatkan bagaimana krisis global justru menjadi akselerator akumulasi modal bagi segelintir elite.

Sebaliknya, laju pengurangan kemiskinan dunia justru tersendat. Oxfam menilai tingkat kemiskinan global saat ini relatif tidak jauh berbeda dengan kondisi 2019, sebelum pandemi melanda.

“Pengaruh yang sangat besar yang dimiliki kaum super kaya terhadap politisi, ekonomi, dan media kita telah memperdalam ketidaksetaraan dan membawa kita jauh dari jalur yang benar dalam mengatasi kemiskinan,” kata Direktur Eksekutif Oxfam, Amitabh Behar.

Ketimpangan yang Menggerus Fondasi Sosial

Laporan ketimpangan Oxfam ini dirilis bertepatan dengan pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss—sebuah panggung global yang ironisnya kerap menjadi simbol konsentrasi kekayaan dan kekuasaan ekonomi dunia.

Pada 2025, Oxfam bahkan memperkirakan dunia berpotensi memiliki setidaknya lima triliuner dalam satu dekade ke depan, jika tren saat ini tidak dibendung. Organisasi tersebut kembali menyerukan penerapan pajak global bagi orang super kaya sebagai instrumen untuk menekan ketimpangan ekstrem.
“Kesenjangan yang semakin lebar antara orang kaya dan masyarakat lainnya menciptakan defisit politik yang sangat berbahaya dan tidak berkelanjutan,” tegas Behar.

Defisit politik yang dimaksud merujuk pada melemahnya kepercayaan publik terhadap institusi negara, demokrasi, dan sistem ekonomi yang dianggap gagal mendistribusikan manfaat pertumbuhan secara adil.

Amerika Serikat: Kaya Raya, Namun Banyak yang Tertinggal

Paradoks ketimpangan ini juga terlihat jelas di Amerika Serikat, negara dengan jumlah miliarder terbanyak di dunia. Laporan Ludwig Institute for Shared Economic Prosperity pada 2023 menunjukkan bahwa sebagian besar warga AS tidak lagi mampu mengakses standar kualitas hidup yang layak.

Data sensus AS yang dirilis September 2025 mengungkapkan sekitar 10% penduduk Amerika hidup dalam kemiskinan pada 2024, sebuah angka yang menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menjamin kesejahteraan merata.

Fenomena ini memperkuat kritik bahwa sistem ekonomi global saat ini terlalu berpihak pada akumulasi modal, sementara perlindungan sosial dan distribusi pendapatan tertinggal jauh.

Seruan Reformasi: Pajak dan Batas Kekuasaan Uang

Melihat tren tersebut, Oxfam mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk segera menyusun rencana nasional pengurangan ketimpangan, termasuk:

– Pengenaan pajak progresif terhadap kelompok super kaya.
– Pembatasan pengaruh kekayaan terhadap kebijakan publik.
– Penguatan “benteng” antara politik dan uang.
– Langkah-langkah ini dinilai krusial untuk mencegah ketimpangan berubah menjadi krisis sosial dan politik yang lebih luas.


Digionary:

● Defisit Politik: Kondisi ketika ketimpangan ekonomi melemahkan kepercayaan publik terhadap institusi dan demokrasi.
● Ketimpangan Ekonomi: Kesenjangan distribusi pendapatan dan kekayaan antar kelompok masyarakat.
● Miliarder: Individu dengan kekayaan bersih minimal US$1 miliar.
● Oxfam: Organisasi internasional yang fokus pada pengentasan kemiskinan dan ketidakadilan global.
● Pajak Progresif: Sistem pajak dengan tarif lebih tinggi bagi individu berpenghasilan atau berkekayaan besar.
● World Economic Forum: Forum tahunan pemimpin global yang membahas isu ekonomi dan geopolitik dunia.

#KetimpanganGlobal #KekayaanMiliarder #Oxfam #EkonomiGlobal #KeadilanSosial #WealthInequality #GlobalEconomy #WorldEconomicForum #PajakOrangKaya #KemiskinanGlobal #DistribusiKekayaan #EkonomiDunia #SuperRich #InclusiveGrowth #DefisitPolitik #SocialJustice #GlobalWealth #EconomicGap #CapitalConcentration #FutureEconomy

Comments are closed.