Ancaman Gugatan Trump ke JPMorgan Mengguncang Bank AS, Isu ‘Debanking’ Kian Panas

- 18 Januari 2026 - 10:20

Ancaman gugatan hukum Presiden AS Donald Trump terhadap JPMorgan Chase atas tuduhan “debanking” kembali mengguncang industri perbankan Amerika Serikat. Isu penolakan layanan keuangan berbasis afiliasi politik atau keyakinan ideologis kini bukan sekadar polemik hukum, melainkan berpotensi menjadi risiko sistemik bagi sektor perbankan, pasar modal, hingga arah regulasi keuangan global.


Fokus:

■ Ancaman gugatan Trump terhadap JPMorgan mengangkat isu debanking dari praktik internal bank menjadi risiko politik dan hukum nasional.
■ Tekanan politik terhadap bank berpotensi melemahkan netralitas industri perbankan dan menciptakan ketidakpastian regulasi.
■ Kasus ini menjadi peringatan bagi regulator untuk memperjelas batas layanan bank agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.


Ketika bank seharusnya menjadi institusi netral penjaga stabilitas sistem keuangan, konflik politik justru menyeretnya ke pusaran kekuasaan. Ancaman gugatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap JPMorgan Chase membuka kembali perdebatan sensitif soal debanking—dan membuat industri perbankan AS siaga penuh menghadapi risiko hukum, reputasi, hingga regulasi.


Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (17/1) melontarkan ancaman akan menggugat JPMorgan Chase. Gugatan tersebut terkait tuduhan bahwa bank terbesar di AS itu menolak memberikan layanan perbankan kepadanya setelah kerusuhan 6 Januari 2021 di Gedung Capitol.

“Saya akan menuntut JPMorgan Chase dalam dua minggu ke depan karena secara tidak benar dan tidak pantas menolak akses perbankan saya setelah protes 6 Januari, sebuah protes yang ternyata benar bagi mereka yang melakukan protes,” kata Trump, dikutip dari CNBC.com, Minggu (18/1).

Hingga berita ini diturunkan, JPMorgan Chase maupun Gedung Putih belum memberikan pernyataan resmi.

Debanking: Dari Praktik Internal Jadi Isu Nasional

Kasus ini tidak berdiri sendiri. Pada Agustus lalu, Trump menandatangani perintah eksekutif yang mewajibkan bank memastikan mereka tidak menolak layanan keuangan berdasarkan keyakinan agama atau pandangan politik nasabah. Praktik penolakan layanan semacam itu kini dikenal luas dengan istilah debanking.

Trump mengklaim—tanpa menyertakan bukti—bahwa dirinya menjadi korban diskriminasi perbankan. Ia menyebut JPMorgan Chase dan Bank of America menolak menerima simpanannya setelah masa jabatan pertamanya berakhir.

JPMorgan sebelumnya menegaskan tidak menutup rekening Trump karena alasan politik. Sementara Bank of America menyatakan tidak berkomentar mengenai urusan klien, namun menyambut baik jika regulator memberikan panduan yang lebih jelas terkait praktik layanan perbankan.

Tekanan Politik ke Bank Makin Terbuka

Ketegangan antara Trump dan institusi keuangan besar bukan cerita baru. Trump dan keluarganya telah lama mengkritik bank-bank besar AS yang dituding enggan bekerja sama karena perbedaan pandangan politik.

Bahkan, tahun lalu Donald Trump Jr. mengungkap bahwa keluarganya kesulitan mengakses layanan bank besar—situasi yang disebut menjadi salah satu alasan keluarga Trump masuk ke industri kripto.

“Jadi, [keluarga saya] terjun ke kripto, bukan karena, ‘hei, ini hal keren berikutnya,’ kami terjun karena kebutuhan,” ujar Trump Jr. dalam wawancara dengan CNBC pada Juni tahun lalu.

Pernyataan ini mempertegas satu hal: isu debanking tidak hanya berdampak pada individu, tetapi berpotensi mendorong pergeseran sistem keuangan ke luar jalur perbankan konvensional.

Pasar Bereaksi, Saham Bank Tertekan

Pasar keuangan merespons cepat eskalasi konflik ini. Saham JPMorgan Chase tercatat turun sekitar 5% dalam sepekan terakhir, meskipun bank tersebut baru saja melaporkan kinerja kuartal IV-2025 yang melampaui ekspektasi pasar.

Tekanan tidak hanya datang dari isu hukum. Saham-saham perbankan AS juga terpukul oleh tuntutan Trump agar bank membatasi suku bunga kartu kredit maksimal 10%, dengan tenggat kepatuhan hingga 20 Januari 2026.

Kombinasi tekanan politik, risiko hukum, dan ketidakpastian kebijakan ini memperbesar kekhawatiran investor terhadap stabilitas sektor perbankan AS.

Dimon, The Fed, dan Ketegangan yang Lebih Dalam

Ancaman gugatan Trump muncul bersamaan dengan bantahannya terhadap laporan The Wall Street Journal yang menyebut Trump sempat menawarkan posisi Ketua Federal Reserve kepada CEO JPMorgan Jamie Dimon.

“Pernyataan ini sama sekali tidak benar, tidak pernah ada tawaran seperti itu,” tulis Trump di Truth Social.
“Mengapa The Wall Street Journal tidak menghubungi saya untuk menanyakan apakah tawaran seperti itu pernah diajukan? Saya akan langsung menjawab, ‘tidak,’ dan itu akan menjadi akhir dari cerita ini.”

Jamie Dimon disebut menganggap tawaran tersebut sebagai lelucon. Baik JPMorgan maupun The Wall Street Journal belum memberikan komentar resmi.
Sebagai catatan, masa jabatan Ketua The Fed saat ini, Jerome Powell, akan berakhir pada 15 Mei mendatang—menambah lapisan ketidakpastian di pasar keuangan.

Implikasi Lebih Luas bagi Industri Perbankan

Bagi industri perbankan global, kasus Trump–JPMorgan menjadi preseden penting. Di satu sisi, bank wajib menjalankan prinsip know your customer, manajemen risiko, dan kepatuhan hukum. Di sisi lain, tekanan politik berpotensi menyeret bank ke konflik ideologis yang merusak netralitas sistem keuangan.

Jika isu debanking tidak diatur secara jelas, bank menghadapi risiko ganda: tuntutan hukum dari nasabah dan sanksi dari regulator. Dalam jangka panjang, ketidakpastian ini bisa mendorong disintermediasi keuangan—termasuk migrasi ke kripto dan sistem keuangan alternatif.


Digionary:

● Debanking: Praktik penolakan atau penghentian layanan perbankan terhadap nasabah
● Disintermediasi: Perpindahan layanan keuangan dari bank ke platform alternatif
● Federal Reserve (Fed): Bank sentral Amerika Serikat
● Know Your Customer (KYC): Prinsip verifikasi identitas nasabah
● Risiko Sistemik: Risiko yang dapat mengguncang stabilitas sistem keuangan secara luas

#DonaldTrump #JPMorganChase #Debanking #PerbankanAS #RisikoKeuangan #StabilitasKeuangan #PasarGlobal #SahamBank #RegulasiKeuangan #TheFed #JamieDimon #IndustriPerbankan #PolitikDanEkonomi #HukumKeuangan #BankingRisk #KepercayaanPublik #Kripto #Disintermediasi #WallStreet #FinancialStability

Comments are closed.