Kesepakatan hukum antara Visa, Mastercard, dan pedagang di Amerika Serikat berpotensi mengubah pengalaman konsumen di kasir. Jika disetujui pengadilan, pedagang dapat menolak kartu kredit tertentu atau mengenakan biaya tambahan, terutama pada kartu premium berbasis reward. Langkah ini dinilai menekan biaya merchant, tetapi berisiko membingungkan konsumen dan memicu perdebatan baru soal perlindungan pengguna jasa pembayaran.
Fokus Utama:
■ Pedagang berpotensi menolak kartu kredit premium dan bisnis demi menekan biaya transaksi.
■ Konsumen bisa menghadapi kartu ditolak atau biaya tambahan hingga 2% di kasir.
■ Kesepakatan ini memicu debat baru soal transparansi biaya dan perlindungan konsumen.
Selama bertahun-tahun, konsumen terbiasa menggesek kartu kredit tanpa banyak bertanya: transaksi diterima, poin bertambah, urusan selesai. Namun kenyamanan itu bisa segera berubah. Sebuah kesepakatan hukum antara raksasa pembayaran Visa dan Mastercard dengan para pedagang di Amerika Serikat berpotensi mengakhiri era “kartu diterima di mana saja”—dan dampaknya bisa terasa langsung di meja kasir.
Kesepakatan yang masih menunggu persetujuan pengadilan ini akan memberi pedagang keleluasaan lebih besar untuk menentukan jenis kartu kredit apa saja yang mereka terima. Artinya, toko dapat menolak kartu premium, kartu korporasi, atau kartu bisnis—jenis kartu yang selama ini menjadi andalan konsumen kelas menengah dan atas karena menawarkan cashback, poin perjalanan, hingga akses lounge bandara.
CEO WalletHub, Odysseas Papadimitriou, menilai pengguna kartu kredit premium akan menjadi kelompok yang paling terdampak. Alasannya sederhana: kartu-kartu tersebut membebankan biaya pemrosesan yang lebih tinggi kepada pedagang dibanding kartu konsumen standar.
“Sebagai bagian dari kesepakatan ini, pedagang akan diizinkan mengatakan, ‘Kami tidak menerima kartu premium itu. Kami tidak menerima kartu korporasi atau kartu bisnis, kami hanya menerima kartu konsumen standar,’” kata Papadimitriou seperti dikutip KSAT.com.
Dengan kebijakan itu, kartu yang sebelumnya selalu diterima di toko yang sama bisa mendadak ditolak—tanpa peringatan sebelumnya. Tak hanya penolakan transaksi, risiko lain yang mengintai konsumen adalah munculnya biaya tambahan di kasir. Pedagang diperbolehkan meneruskan sebagian biaya pemrosesan kepada pelanggan tertentu.
“Hal kedua yang mungkin kita lihat adalah pedagang meminta biaya gesek tambahan untuk jenis kartu tertentu,” ujar Papadimitriou. “Jika Anda menggunakan kartu ini, kami akan menerimanya, tetapi kami juga akan mengenakan biaya tambahan 2% atau semacamnya, yang pada dasarnya dibebankan ke konsumen.”
Bagi pedagang, kesepakatan ini dipromosikan sebagai upaya menekan biaya transaksi yang selama ini dianggap memberatkan, terutama bagi usaha kecil. Data industri pembayaran menunjukkan biaya interchange kartu kredit dapat memangkas margin bisnis ritel tipis, khususnya di sektor makanan dan minuman.
Namun tidak semua pelaku usaha yakin manfaatnya signifikan. Sebagian menilai penghematan yang diperoleh terlalu kecil untuk sebanding dengan potensi kebingungan dan ketidakpuasan pelanggan di titik pembayaran.
Kebingungan itu diperkirakan paling terasa bagi konsumen yang selama ini mengandalkan satu kartu reward untuk hampir semua transaksi. Perubahan mendadak di kasir—antara kartu ditolak atau dikenai biaya tambahan—berisiko merusak kepercayaan konsumen terhadap sistem pembayaran non-tunai yang selama ini dipromosikan sebagai cepat, praktis, dan transparan.
Untuk saat ini, konsumen belum akan merasakan dampaknya secara langsung. Kesepakatan tersebut masih menunggu putusan hakim dan, sekalipun disetujui, implementasinya diperkirakan baru berlaku paling cepat pada akhir 2026. Namun perdebatan yang muncul sejak dini menandakan satu hal: lanskap pembayaran digital global sedang memasuki fase baru, di mana kenyamanan konsumen mulai dinegosiasikan ulang dengan efisiensi biaya pedagang.
Foto: Angus Mordant/Bloomberg via Getty Images
Digionary:
● Biaya Interchange: Biaya yang dibayarkan pedagang kepada bank penerbit kartu setiap kali terjadi transaksi.
● Kartu Kredit Premium: Kartu dengan manfaat tambahan seperti cashback besar, poin travel, dan fasilitas eksklusif.
● Kartu Korporasi: Kartu kredit yang diterbitkan untuk kebutuhan bisnis atau perusahaan.
● Merchant: Pedagang atau pemilik usaha yang menerima pembayaran non-tunai.
● Settlement: Kesepakatan hukum untuk menyelesaikan sengketa tanpa proses pengadilan panjang.
#Visa #Mastercard #KartuKredit #BiayaTransaksi #PembayaranDigital #IndustriKeuangan #Konsumen #Retail #Cashless #EkonomiDigital #KartuReward #BisnisRitel #SistemPembayaran #Finansial #BiayaMerchant #PerlindunganKonsumen #InterchangeFee #Belanja #KeuanganGlobal #Regulasi
