Di tengah krisis sampah makanan yang kian menggerus ekonomi dan lingkungan, BCA Digital menggandeng Food Bank Indonesia mengubah surplus pangan menjadi solusi konkret. Lewat aksi pemulihan pangan, 500 porsi makanan sehat disalurkan kepada pengemudi ojek online dan lansia di Jakarta Pusat. Kolaborasi ini menegaskan bahwa efisiensi—yang selama ini identik dengan keuangan—juga dapat menjadi kunci memperkuat ketahanan pangan, menekan emisi, dan membangun gaya hidup berkelanjutan.
Fokus Utama:
■ Kolaborasi perbankan digital dan komunitas pangan sebagai solusi nyata krisis sampah makanan.
■ Food recovery sebagai strategi efisiensi ekonomi, sosial, dan lingkungan.
■ Peran gaya hidup berkelanjutan dalam memperkuat ketahanan nutrisi perkotaan.
Indonesia menghadapi paradoks yang kian mengkhawatirkan: jutaan ton makanan terbuang setiap tahun, sementara kelompok rentan di kota masih berjuang memenuhi kebutuhan gizi harian. Di Jakarta, persoalan ini dijawab dengan langkah sederhana namun berdampak besar—menyelamatkan pangan sebelum berakhir di tempat sampah.
PT Bank Digital BCA (BCA Digital) bersama Food Bank Indonesia (FBI) menunjukkan bahwa isu pangan bukan semata urusan dapur atau pertanian, melainkan juga persoalan manajemen sumber daya. Melalui gerakan food recovery, keduanya menyalurkan 500 porsi makanan siap santap kepada pengemudi ojek online dan lansia di Jakarta Pusat, Kamis (8/1).
Distribusi dilakukan serentak di empat titik strategis: kawasan Stasiun Cikini, Stasiun Gondangdia, Dapur PAUD Kenanga Cikini, serta Dapur Masjid An-Nur Menteng. Program ini menjadi respons atas kondisi darurat sampah makanan nasional, di mana Indonesia tercatat sebagai penghasil sampah makanan terbesar di Asia Tenggara.
Laporan Food Waste Index Report 2024 dari United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat Indonesia menghasilkan sedikitnya 14,73 juta ton sampah makanan setiap tahun. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan, dari total 34,21 juta ton timbulan sampah pada 2024, sekitar 39,25% merupakan sisa makanan.
Angka ini bukan sekadar persoalan lingkungan. Food Loss and Waste diperkirakan menyebabkan Indonesia kehilangan potensi ekonomi Rp213 hingga Rp551 triliun per tahun. Badan Pangan Nasional bahkan menyebut, jika dikelola dengan baik, sampah makanan sebenarnya mampu mencukupi kebutuhan 29–47% populasi nasional.
Lebih jauh, sisa pangan yang membusuk di tempat pembuangan akhir turut menyumbang emisi gas metana—sekitar 7,29% dari rata-rata emisi gas rumah kaca tahunan Indonesia. Bagi BCA Digital, menyelamatkan pangan berarti memangkas jejak karbon sekaligus memperkuat ketahanan sosial.
Head of Corporate Communications BCA Digital, Nariswari Yudianti, menyebut kegiatan bertajuk #bluBuatBaik Volunteer Day bersama bluForce—sebutan bagi karyawan BCA Digital—berangkat dari prinsip efisiensi sumber daya.
“Kami memilih untuk memulihkan nilai dan manfaat nutrisi tersebut lewat resource efficiency. Langkah ini selaras dengan misi BCA Digital dalam mendorong gaya hidup yang sustainable dan lebih mindful dalam mengelola sumber daya, baik secara finansial maupun konsumsi harian. Kami meyakini pengelolaan keuangan yang bijak, seharusnya berjalan beriringan dengan kesadaran untuk tidak membiarkan satu pun potensi nutrisi terbuang sia-sia,” ujar Nariswari.
Bahan pangan yang diolah berasal dari surplus pedagang di Pasar Tebet, Jakarta Selatan. Produk-produk tersebut masih segar dan bernutrisi, meski secara visual tidak memenuhi standar pasar—seperti sayuran dengan bentuk tak sempurna.
“Lewat gerakan selamatkan pangan ini, kami membuktikan bahwa efisiensi dapat dilakukan secara efektif dengan memastikan nutrisi tetap tersampaikan kepada yang membutuhkan dan tidak terbuang sia-sia di tempat sampah,” tambahnya.
Para bluForce terlibat langsung mulai dari pemilahan bahan, proses memasak, hingga distribusi. Pendekatan partisipatif ini dirancang untuk menanamkan kesadaran bahwa keberlanjutan bukan sekadar jargon korporasi, melainkan tanggung jawab personal.
Untuk menekan dampak lingkungan lanjutan, seluruh makanan dibagikan menggunakan kotak makan reusable, menggantikan kemasan sekali pakai. Langkah ini sekaligus menjadi edukasi publik tentang pentingnya pengurangan sampah plastik dalam setiap aktivitas sosial.
Co-Founder Food Bank Indonesia, Wida Septarina, menilai kolaborasi lintas sektor seperti ini krusial untuk menjawab persoalan pangan perkotaan. “Pengelolaan pangan yang bertanggung jawab membuka ruang bagi solusi yang lebih luas, terutama di wilayah perkotaan. Melalui sinergi lintas sektor, potensi pangan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat ketahanan nutrisi masyarakat,” jelas Wida.
BCA Digital berharap inisiatif ini mendorong kesadaran kolektif—bahwa pengelolaan pangan yang bijak merupakan bagian integral dari gaya hidup berkelanjutan, dengan dampak langsung pada kesejahteraan sosial dan kelestarian bumi.
Digionary:
● Food Loss and Waste: Kehilangan dan pemborosan pangan di sepanjang rantai pasok, dari produksi hingga konsumsi.
● Food Recovery: Upaya menyelamatkan pangan layak konsumsi agar tidak terbuang dan dapat dimanfaatkan kembali.
● Gas Metana: Gas rumah kaca dengan daya pemanasan lebih tinggi dibanding karbon dioksida.
● Ketahanan Pangan: Kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan masyarakat secara berkelanjutan.
● Reusable Packaging: Wadah yang dapat digunakan berulang kali untuk mengurangi sampah.
● Resource Efficiency: Prinsip penggunaan sumber daya secara optimal untuk meminimalkan pemborosan.
● SIPSN: Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional milik pemerintah Indonesia.
● Sustainable Lifestyle: Pola hidup yang mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan sosial.
#BcaDigital #FoodBankIndonesia #FoodRecovery #SampahMakanan #KetahananPangan #Keberlanjutan #SustainableLifestyle #EfisiensiSumberDaya #LingkunganHidup #EmisiKarbon #GasMetana #PerbankanDigital #AksiSosial #VolunteerDay #bluBuatBaik #EkonomiSirkular #UrbanNutrition #Jakarta #ZeroWaste #MindfulConsumption
